Gracia tak pernah mengira dia bisa semarah ini dan menyimpannya selama ini.
Terlalu banyak lintah berseragam di sini!
Otot di lengan dan lehernya sekeras beton—tegang oleh ledakkan yang ia cegah. Lagi pula dia yakin Pak Alex jauh lebih berhak melampiaskan kekesalannya. Bagaimana dia bisa waras berhadapan dengan petinggi lain adalah sebuah keajaiban baginya.
"Sekarang kamu tahu." Pak Alex membelakanginya, menatap potongan kecil Jakarta Pusat yang diguyur hujan asam. Baunya seperti hujan biasa, menipu siapa pun yang tidak mengecek ramalan cuaca. "Menjadi benar tidak cukup."
Bahkan kursi yang ia duduki membuatnya teringat dengan rapat yang baru saja selesai. Seluruh pimpinan divisi Kepolisian Metro, plus lima pimpinan tertinggi yang 'memimpin' via hologram, dipanggil mendadak pagi ini. Tentu Pak Daud termasuk ke pimpinan yang dipanggil—tatapan sinis dan jijiknya terang-terangan ia pakai ke arahnya.
Dia setuju dengan sentimen itu. Bahasan rapatnya soal kekacauan jilid dua akibat penyebaran data Odawara Group lewat nomor kepolisian. Dua kata saja sudah cukup untuk merangkumnya: fucked up. Upaya sensor dan surveilans diperketat ke seluruh anggota—satu-satunya informasi relevan baginya—dan ada wacana untuk menerapkannya ke seluruh kota.
"Menurutmu apa yang mereka minta dari kita?"
Ini yang membuat darahnya mendidih. "Sasaran, pak."
Mentari mengangkat tangan, tak sanggup menembus barisan awan. Tak ada guntur atau kilat. Hanya awan pekat dan gempuran hujan yang melelehkan baja, beton, plastik, dan kulit.
"Berarti kamu memerhatikan." Suara baritonnya menggema ke penjuru bilik. "Kenapa?"
Kuku Gracia menggali dalam ke pegangan kursinya. "Pengalihan, pak."
Apa lagi alasan Pak Bertrand, seorang politisi, masih mengikuti kasus ini? Sepele kali kalau hanya karena seorang inspektur muda dengan gegabah mengaktifkan lagi kasusnya. Pak Alex punya pengaruh, tapi melawan beliau dan kroninya di kepolisian? Seperti yang Pak Alex bilang, dari awal bukan kebenaran yang mereka cari.
"Dan kamu?"
Frustrasinya surut secepat kilat saat Pak Alex menoleh ke belakang. Sekujur tubuhnya seperti dipaku ke kursi yang makin terasa tak nyaman. Lidahnya pun mengelu, berat bagaikan menopang kapal kargo.
"Aku tahu kebencianmu ke Pak Daud tak menutup logikamu."
Keparat itu tak berhak ikut campur! Gracia memang minta bantuan timnya—anggota baru yang menggantikan teman Revan yang diberhentikan—untuk melacak Nossa Senhora, tapi bukan berarti dia tahu segala hal soal Bandeirantes.
Tapi, kalau Pak Alex bilang itu, apa artinya dia juga?
"Selama ini pencarianmu adalah nama-nama besar." Ketuk demi ketuk sepatu Pak Alex semakin mendekati Gracia. Seirama dengan serbuan suara di kepalanya—keraguan, kepasrahan, ketidakberdayaan. "Melempar geng kecil itu bisa membohongi mereka, tapi tidak denganmu."
Bandeirantes memang terlibat, dan Nossa Senhora pun tak menyembunyikannya—setidaknya tidak langsung mengakuinya. Ratusan tangan di kota ini yang ingin Vox dan Zeno-Lan yang paling ingin kematiannya. Namanya dicoreng habis-habisan, dan meski tidak ada satu pun wujud perusahaan itu yang tersisa, tak ada yang memungkiri kalau mereka masih mampu melancarkan aksi ini.
"Saya belum selesai, pak. Bandeirantes tahu terlalu banyak." Suaranya bergetar kala Pak Alex duduk di hadapannya. "Antara mereka yang bantu saya menemukan pembunuhnya, atau mereka yang dibunuh terlebih dahulu." Dia meneguk ludahnya yang terasa mencekik. Suntikan keberanian melegakan lidahnya. "Apa pun itu, saya tetap dapat yang saya cari."
KAMU SEDANG MEMBACA
Tabula Rasa
Science Fiction[R rated: Mengandung kekerasan grafis/eksplisit, bahasa kasar, kilas balik mengganggu, penggunaan narkoba/zat terlarang, dan adegan seksual grafis/eksplisit] Metro Jakarta, tahun 2099. Kota yang sudah lama menanggalkan statusnya sebagai pusat pemeri...
