Yang pertama kali Gracia lakukan setelah Anto dan Yura meninggalkan kamarnya adalah membuka kontaknya. Memang dirinya yang mereka incar. Hanya saja, jalan ke sana harus melalui orang-orang yang Gracia kenal.
Mereka kotor—cuma itu alasan Anto dan Yura bisa bertahan selama ini. Gracia belum menang. Tidak selama keduanya tahu kelemahannya.
Dia menelepon Lulu. Lulu wajib tahu. Gracia masih ingat betapa terkejutnya Lulu. Dia yakin sudah menutup jejaknya. Selalu bermain aman, mengincar yang bisa ia raih.
Keduanya memutuskan untuk melenyap. Pencarian sumber dana misterius dan kasus yang hilang perlu menunggu. Tidak ada indikasi kalau markas tahu apa yang mereka lakukan. Jangan sampai semuanya terbongkar bersamaan.
Gracia memutar gelasnya. Itu semua terjadi kemarin malam. Kepalanya ribut dengan kemungkinan-kemungkinan terburuk. Ingatannya memutar kembali tatapan curiga Yura. Jantungnya kian berpacu. Mustahil dia tidak memiliki pertanyaan di kepalanya saat melihat kotak makan itu. Temperatur tubuhnya turun drastis. Bukan pertanyaan Yura yang ia khawatirkan—seniornya pasti punya satu atau dua—tapi bagaimana kalau dia menemukan jawabannya?
Dia meneguk koktail di gelasnya. Vodka dengan mint, dengan tambahan sirop biru yang memberi sensasi mati rasa di mulutnya. Alkohol membakar kerongkongannya, mengumpul ke perutnya. Kehangatan yang semu. Tidak cukup membungkam semua keributan di kepalanya.
Akhirnya dia menyerah. Ia biarkan telinganya mendengar sekitarnya. Gracia tidak kehabisan stimulus. Semua berkat kenikmatan dunia bernama Babel.
Lampu. Musik. Tarian ribuan orang yang menggetarkan seluruh lantai. Desahan erotis. Decak basah. Aroma ganja, rokok, vape, keringat, sperma dan orgasme. Semua terjadi di klub seluas dua lapangan sepakbola dengan langit-langit tembus pandang.
Semua itu dan Gracia masih merasa kosong.
"Enak minumannya?"
Lengking bajingan itu. Gracia menengok ke belakang. Di antara keramaian di lantai dua, Yura sedang mengamati. Dia mendengus. Minumannya saja belum habis.
Gracia mendengar tawa Anto. Dia berada di lantai yang sama, jauh lebih dekat pinggiran klub ini. Mustahil menemukannya di tengah lautan manusia—cahaya redup sama sekali tidak membantunya.
"Gak ada yang maksa kalian."
"Oh, tapi apa lu bisa nemuin dia kalo bukan karena kita?" ucap Anto.
Iya, kalau bukan karena data seniornya, Gracia mungkin sudah membuang rencananya mencari Nossa Senhora. Dia ragu soal gencatan senjatanya dengan Anto dan Yura. Siapa yang lebih diuntungkan?
Dia tidak memegang semua kepingnya. Bukan berarti Gracia tak percaya dengan seniornya—dia positif Anto dan Yura akan menikamnya dari belakang. Apa yang ia punya cukup untuk mengulur penikaman itu sampai ia dapat yang ia inginkan.
Dua lawan satu. Itu yang mengganggu ketenangannya.
"Lo berdua cuma bisa nemu tangan kanannya, bukan Nossa Senhora."
"Lu sendiri cuma bisa nyontek catetan kita," ucap Yura. "Gak sekalian nyalahin si cecunguk yang lu temuin di Kalijodo itu? Dia aja gak tau rupa bosnya."
Tanda tanya besar yang Anto dan Yura selalu hindari. Bagaimana keduanya bisa mendapatkan keterangan secepat itu? Masuk akal kalo mereka menunggu empat sampai lima hari—tiga tembakkan Revan jelas-jelas menghilangkan kesadaran anggota Bandeirantes waktu itu. Iya info yang didapat hanya terbatas ke tangan kanan bos Bandeirantes. Ada dia, berarti ada Nossa Senhora. Tapi tetap saja, bagaimana bisa Anto dan Yura tahu?
"Panjang umur," ucap Anto. "Dia baru keluar lift. Rombongannya selusin. Gue tandain biar kalian bisa liat."
Gracia mengaktifkan mode scanner. Serbuan warna Babel berubah gelap. Musik ditelan utuh, menyisakan getaran dari bass yang menggelegar. Tiap garis semakin kontras. Ribuan manusia menjadi siluet abu-abu. Di antara semua siluet itu, setitik cahaya biru muncul. Berbagai baris data melintas; nama, alias, afiliasi, kemungkinan posisinya. Entourage: Nossa Senhora—Probability 87%. "Udah gua kunci."
KAMU SEDANG MEMBACA
Tabula Rasa
Science Fiction[R rated: Mengandung kekerasan grafis/eksplisit, bahasa kasar, kilas balik mengganggu, penggunaan narkoba/zat terlarang, dan adegan seksual grafis/eksplisit] Metro Jakarta, tahun 2099. Kota yang sudah lama menanggalkan statusnya sebagai pusat pemeri...
