Perwakilan Kepolisian Metro Jakarta beserta Distrik Jakarta Pusat terlihat berada di halaman kantor Distrik Jakarta Barat di Kantong Puri Indah. Spekulasi muncul kedatangan ini berkaitan dengan maraknya serangan di perbatasan kantong-kantong terluar Jakarta Barat. Terbaru, tiga anggota kepolisian tewas akibat tindakan terorisme pada—
Gracia memelankan radio di mobilnya. Sulit berkonsentrasi saat menyetir ketika perhatiannya terpecah ke jalanan, klakson dan raungan kendaraan, serta panggilan dari Lulu.
"Gua cari tempat parkir dulu."
Dia meminggirkan mobilnya keluar dari jalan protokol. Jam sudah hampir siang tapi kemacetannya kian memanjang. Ekskavasi lagi? Drone dan hovercraft yang menarik kontainer berisi puing melintas di atas jalan layang protokol yang Gracia lalui. Mobilnya keluar melalui exit yang berada persis di samping runtuhan puing dan airbuses yang menghantam penyangga jalan layang. Tidak mungkin dia bisa sampai ke tempatnya tepat waktu—Gracia harus turun 13 tingkat jalan layang untuk sampai ke jalan penyangga di bawah.
"Gue gak bisa lama-lama, Gre."
Pelannya nada Lulu sudah cukup meyakinkan Gracia. Mobilnya ia parkirkan di dekat lahan kosong di bawah jalan layang. Tiap detik mobilnya bergetar akibat proses ekskavasi di jalan layang tingkat keempat belas.
"Oke, tadi apa yang mau lo bilang?"
"Jadi..." Lulu berhenti berbisik. Ada obrolan di dekatnya yang samar. Setelah beberapa detik, nafas Lulu kembali terdengar. "Oke, jadi lo inget soal kasus ilang yang lo cari itu?"
Jantungnya berdetak cepat. Telinga Gracia berdengung dengan antisipasi. Ia ingin membalas, tapi lidahnya mendadak kelu. Tangannya mengepal kencang di setir mobil.
"Gue mulai yakin kasus itu udah enggak ada lagi di catatan kita."
Butuh sedetik untuk Gracia menangkap ucapan Lulu. Semua darah yang dipompa kencang serasa berbalik arah. "Dari mana lo bisa bilang gitu? Beritanya bilang dia mati di tahanan."
"Gue gak bilang kasusnya gak terjadi, cuma catatannya aja yang ilang."
Gelombang antisipasi berganti dengan kekecewaan. Pikirannya berlarian ke segala penjuru. Apa maksudnya? Siapa yang menghilangkan? Kenapa hilang?
"Jadi lo nelpon gua cuma buat nyampein ini?" Gracia meringis dalam hati. Rasa jengkel membalur tiap kalimat yang meluncur dari bibirnya. Lulu pasti tahu dan merasakannya—jika iya, dia tidak terusik dengan perubahan nadanya.
"Kayak yang gue bilang, bukan berarti kasusnya gak terjadi."
Retak muncul di balik dinding penjara hatinya. Secercah cahaya menembus dari retak itu. Perasaan yang sama muncul seperti semua kemenangan nyaris tiap bertanding catur dengan Pak Alex. "I'm listening."
"Gue udah nyari sedalem-dalemnya semua kasus yang masuk ke audit sepanjang '70 dan '80. Kebanyakan sponsor korporat, paling sering masuk ke divisi lo. 284 kasus persisnya."
Bukan kabar baru, meski Gracia tidak menyangka sebanyak itu yang diterima divisinya. Lulu sepertinya sedang berbicara dengan seseorang. Panggilannya terdengar sayup selama beberapa menit.
"Sampe mana? Oh ya. 284 kasus. Semuanya sejalan sama laporan audit kita. Gak ada yang aneh 'kan? Gue juga mikir gitu." Suara tegukan terdengar dari ujung panggilan. "Sampe gue nemu memo dari audit ke divisi lo."
"Memo ini nyebutin kasus penangkapan itu?"
"Gak juga... tapi menurut gue ini tetep menarik. Isi memo itu minta konfirmasi ke Pak Alex karna tim kita ngontak PIC Investigasi Khusus yang salah. Ada kasus gak bernomor, yang ternyata, PIC-nya udah berubah dari PIC pertama yang kita terima."
KAMU SEDANG MEMBACA
Tabula Rasa
Science Fiction[R rated: Mengandung kekerasan grafis/eksplisit, bahasa kasar, kilas balik mengganggu, penggunaan narkoba/zat terlarang, dan adegan seksual grafis/eksplisit] Metro Jakarta, tahun 2099. Kota yang sudah lama menanggalkan statusnya sebagai pusat pemeri...
