Cangkir kopi pertamanya tahun ini, dan ia menikmatinya bersama Feni.
Gracia tahu ini akan terjadi. Bukan berarti dia ingin—atau siap—tapi Feni sudah menunggunya dengan dua cangkir kopi. Masih panas. Artinya Feni mencocokkan seduhan kopinya dengan durasi Jinan menambal luka di bahunya.
Feni membutuhkan dosis kafein ini dibanding dirinya. Kantung matanya turun satu mili lebih sejak mereka terakhir ketemu. Tulang pipinya semakin mencuat. Bahkan kulitnya memucat, seakan kehidupan dihisap perlahan dari tubuhnya.
Meski begitu, dia masih bisa tersenyum. Lima menit Gracia menunggu Feni selesai mengaduk gula di americano-nya.
"Luka lagi?"
Gracia mengangguk. "Risiko kerja."
"Kayaknya yang ini lebih dalem dari yang terakhir."
Kalau dipikir lagi, bukan pedang lipat pengawal Nossa Senhora yang bikin lukanya sedalam itu. Gracia telat menyadari ayunannya sehingga dia bisa menghantarkan semua energi kinetik ke serangannya. "Gua yang teledor."
Feni mendengus. Hanya mendengus dan kembali mengaduk. Gracia kalah penting dibanding secangkir kopi.
Kalau saja Gracia percaya suara naif itu. Nyatanya, dibalik poni pirang temannya, Gracia tahu apa yang temannya lakukan. Kenapa matanya menghindari tatapan penuh tanya miliknya. Masalahnya, tahu kenapa tidak menjamin tahu bagaimana. Jadi Gracia melakukan apa yang ia pikir bisa dilakukan. Dengan menimbang, tentunya, kapasitas sosialnya.
"Masih sepi."
Akhirnya Feni menemui tatapan temannya. "Oh?" Feni mengedar pandangannya ke seisi kafe. Cuaca sedang bersahabat—berawan dengan kecupan angin sejuk. Hiruk keramaian terdengar ke dalam gang. Meski begitu, belum ada satu pelanggan yang datang. "Belakangan ini, kafe cuma rame pas akhir pekan. Kadang pas siangnya doang kalo hari kerja." Feni menggeleng. "Ya... Bukan hari ini berarti."
Kopinya manis. Jauh lebih manis dari yang Feni biasanya sajikan. "Masih takut keluar? Bukannya udah gak ada penjarahan di sini?"
"Enggak." Telunjuknya memutari bibir cangkir. "Cuman kalo gak salah di tempat lain situasinya masih parah, 'kan?"
Dua hari terakhir call center kepolisian penuh dengan laporan penjarahan dan penyerangan. Paling banyak di Jakarta Barat dan Timur, tapi sesekali serangan sporadis di pusat Jakarta Selatan. Biasanya massa protes yang menyasar klinik MediPharm. Jelas berkaitan dengan bocornya data Odawara Group oleh nomor kepolisian.
"Gua coba minta rute patrolinya lebih sering lewat sini."
Telinganya tidak salah dengar. Feni tertawa kecut. Senyum di bibirnya begitu pahit. Lagi-lagi, Feni menerawang kopinya, seakan ada yang bisa dicari di dasar cairan gelap itu. "Revan udah pernah minta."
Sekujur tubuhnya menegang. Kapan terakhir kali ia mendengar nama itu? Bukan cuma itu, berarti tebakannya benar. Baru kali ini Gracia melihat temannya layu saat nama kekasihnya disebut.
"Jinan bilang dia sempet dateng ke sini."
Dia merapikan poni yang menutupi matanya. Feni mengangguk, sebelum menyeruput minumannya.
"Dia ketemu lo, 'kan?"
Feni cuma menjawab dengan anggukan. "Dia mampir ke Jinan dulu, baru ke gue."
Persis yang Jinan bilang. "Dia gak cerita alesannya?"
Jantungnya mencelat. Feni memandangnya seperti Gracia baru mengakui rahasia terdalamnya. Nafasnya kini bergetar oleh beban kasat mata yang ia pikul. "Lo juga gak tau berarti."
KAMU SEDANG MEMBACA
Tabula Rasa
Science Fiction[R rated: Mengandung kekerasan grafis/eksplisit, bahasa kasar, kilas balik mengganggu, penggunaan narkoba/zat terlarang, dan adegan seksual grafis/eksplisit] Metro Jakarta, tahun 2099. Kota yang sudah lama menanggalkan statusnya sebagai pusat pemeri...
