Belum 24 jam dan Eli sudah menemukan satu nama: Sanson Limited.
Nama yang asing buat Revan. Kalau perusahaan besar pun, Revan tidak pernah dengar. Eli saja dapat nama ini dari seniornya yang katanya tidak sengaja mendengar nama itu dari bosnya pada 2077. Seberapa reliabel? Eli cuman bercerita soal seniornya ini adalah orang yang dulu pernah membantunya kalau Dirga sedang tidak bisa diganggu.
Cukur saja bokongnya.
Bukan salahnya Eli. Revan tahu ini yang akan terjadi ketika dia mengajak Eli ikut ke lubang investigasinya. Setidaknya dia punya sesuatu—sekecil dan sesalah apa pun itu—untuk ditelusuri. Termasuk 400-an traffic cam yang Eli siapkan untuknya. Katanya dia belum sempat menyortir foto-fotonya, tapi dia yakin limusin misterius yang Revan cari masih berada di luar sana.
Gracia pasti tahu. Setidaknya, itu yang Revan kira selama ini. Cebol sialan mengira dia bisa menutupi obsesinya ke korporasi. Entah bagaimana ceritanya mengejar nama perusahaan yang mungkin terlibat ke pembunuhan Vox membuatnya nyaris mati—ditangan geng yang belum jelas juga kaitannya ke semua ini!
Oh, Revan punya banyak pertanyaan.
Dia membuka pintu kafe Feni. Pagi yang lambat kelihatannya. Baru ada empat pelanggan yang semuanya sibuk dengan santapan mereka. Dan yang lebih aneh lagi... Jinan juga? Duduk jauh dari pelanggan lain, secangkir kopi dan croque madame separuh habis di mejanya.
"Van! Kenapa mampir pagi-pagi?" ucap Feni yang sedang sibuk mengelap cangkir.
"Iya..." kenapa Jinan ada di sini dan bukan di kliniknya? Tidak ada pasien? Tapi bagaimana dengan?
"Mau kubuatin apa?"
Revan mengedip. Jinan menatap balik dengan kebencian yang mengerak selama 4 tahun. Klasik. "Um... americano." Aroma kopi yang digiling membangunkannya. Di belakangnya, Jinan menyeruput cangkirnya kencang. "Lu ninggalin Gre di bawah?"
Jinan mengernyit. Dia menaruh—alias membanting—cangkirnya dengan keras.
Salah apa lagi sekarang?
"Kamu nyariin Gre?"
"Sekalian ngecekin dia." Feni tampak kebingungan yang membuat Revan makin bingung.
"Lu telat."
Lehernya mulai sakit karena harus menengok terus-terusan. "Telat kenapa?"
Feni menghela nafas. "Dia pergi pagi tadi."
Hah? Pergi? "Emang udah boleh?"
"Sejak kapan dia minta izin?" timpal Jinan. Aroma manis muncul mengikuti asap dari pod Jinan.
"Paling enggak dia nyebut mau cabut ke mana."
Jinan melirik sinis. "Yang rekannya itu lu ato gue?"
Sabar Revan. Dia tetap butuh restunya kalau mau langgeng bersama Feni. Untungnya, ratusan sumpah serapah yang siap ia keluarkan bisa disubstitusi dengan kepalan tangan. Keras, sampai kuku menembus kulit.
"Mungkin dia balik ke apartnya?" tentu Feni tahu kapan harus menengahi keduanya. "Dia belum ganti baju sejak dibawa ke sini, 'kan?"
Tidak, cebol sialan itu mana mau pulang? Dia kerja justru biar tidak harus pulang.
"Bajingan... kenapa gue mikir kejauhan."
***
Dadanya seperti ditusuk.
Dikoyak. Rusuk dicabut dan disolder lagi.
Lukanya sembuh—implannya diganti, tubuhnya kembali seperti semula. Namun, mendengar rekaman malam itu diputar lagi rupanya sukses membuka rasa sakit yang bertahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tabula Rasa
Science Fiction[R rated: Mengandung kekerasan grafis/eksplisit, bahasa kasar, kilas balik mengganggu, penggunaan narkoba/zat terlarang, dan adegan seksual grafis/eksplisit] Metro Jakarta, tahun 2099. Kota yang sudah lama menanggalkan statusnya sebagai pusat pemeri...
