Nafas mereka saling memadu; tiap terpaan hangat di lehernya. Keringat menempel bak perekat di antara keduanya. Jari lentik itu terus menggali di bawah sana. Bibirnya melahap telinga, lidah menari di liang pendengarannya, selagi namanya dipanggil berkali-kali mengikuti nafsu yang terus memuncak.
"Gracia..."
Lapar di lubuk hatinya. Panas di perutnya. Gatal yang tak bisa ia garuk. Panas yang urung padam dan terus dikobar.
"Jangan ditahan," ucapnya. "Jangan tolak yang kamu inginkan."
Tangannya perlahan melepaskan cengkeramannya ke seprei. Ragu-ragu, seakan menyusuri ladang ranjau, Gracia sampai di gundukan daging di bawah punggung gadis itu. Lembut, sekal, tangannya tak bisa berhenti meremas.
"Yes... more..." Kakinya merangkul dan mengunci Gracia. Selagi tangan kirinya sibuk memompa, yang kanan begitu lihai memainkan titik sensitifnya di dada. "Please... taste me..."
Sama seperti pohon yang menoleh dan mencari matahari, jarinya tahu di mana kehangatan memanggil. Tersembunyi di balik lipatan itu, adalah surga yang ia kenal. Gracia tak perlu undangan untuk mampir, tak perlu alasan untuk singgah.
Gadis itu mendesah. "Make me feel good..." Senyumnya muncul di balik remangnya ruangan. "Isn't it what you always wanted?"
Iya.
Tidak.
Apa ini yang ia inginkan? Kalau iya, kenapa sulit sekali untuk menerima tanpa bertanya? Kalau bukan, lalu apa arti semua ini?
Awalnya seperti kesemutan; geli di ujung kaki. Sensasi itu merambat dan menjalar ke bagian tubuh yang lain. Kobaran hasrat dan nafsu satu per satu padam, digantikan dingin yang setara malam tergelap Metro Jakarta. Tiap otot tegang namun hampa oleh sensasi. Tubuhnya mati rasa, dan secepat kedipan mata, otaknya mengambil alih.
Gracia membalik badan, mencekik gadis itu di bawahnya. Nafasnya sekencang mobil yang mengebut di jalan. "Siapa lo sebenarnya?"
Iris ungu menatap balik dari bawah sana. Tubuh telanjangnya dilapisi keringat, berkilau akibat terpaan lampu ruangan. "Keinginanmu."
"Bohong! Lo bilang gitu ke semua pelanggan lo." Cekikannya tak pernah mengendur ataupun mengencang. "Lo dan Cloud yang lain bilang begitu..." Gadis itu tak menunjukkan apa pun, tidak sakit, bingung, nafsu, atau takut.
"Apa kamu tidak suka berbagi?" ucapnya datar.
"Gua gak—" Tidak apa? Senang gadis ini dijamah oleh puluhan tangan? Menjadi pelampiasan fantasi seks dari pagi ke malam? Bukan itu? Lalu apa! "—lo gak tau keinginan gua."
Lampu redup dan menyala mengikuti irama jantungnya. Selimut sutra yang menyentuh lututnya kehilangan kelembutannya. Gracia masih bisa merasakan empuknya kasur yang menyaksikan puluhan malam bersama gadis ini. Gadis yang senyumannya datang dan pergi, selaras dengan nyala dan matinya lampu.
"Lalu, apa semua ini?" Bisikannya terdengar begitu dekat di telinga. "Kenapa terus datang kalau bukan ini yang kamu cari?"
Bibir kenyal itu bergerak seakan memanggilnya. Lepaskan. Bukan sebuah perintah, tapi undangan. Gadis itu menggenggam tangan Gracia yang sedang mencekik, memindahkannya ke payudaranya.
"Ini nyata, Gracia. Tidak ada yang menipumu." Dia menggigit bibirnya. Erangannya tertahan namun nyaring didengar. "Suara ini... tidak pernah menipumu."
Sangat lembut, sangat menggoda. Gracia membiarkan tangan kirinya bermain. Tiap desahan memancingnya untuk semakin berani.
"Yang kamu inginkan hanya ada di sini... hanya ini." Gadis itu menjilat, menghisap telunjuknya hingga basah. "Kamu tak perlu bertanya. Tak perlu takut apa yang aku rasakan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Tabula Rasa
Fanfiction[R rated: Mengandung kekerasan grafis/eksplisit, bahasa kasar, kilas balik mengganggu, penggunaan narkoba/zat terlarang, dan adegan seksual grafis/eksplisit] Metro Jakarta, tahun 2099. Kota yang sudah lama menanggalkan statusnya sebagai pusat pemeri...
