«Awal»

13.1K 558 3
                                        

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad Wa'ala ali sayyidina Muhammad

[Note: Jika cerita ini hanya akan melalaikan, lebih baik tinggalkan]

Tandai typo dan ingatkan jika terdapat kesalahan✧

by Kasyafani14

•••

"Letnan Zyan Athalla Hasanain, Komandan Pleton baru yang ditugaskan di desa ini selama kurang lebih delapan bulan ke depan."

Tangan pria itu terulur tepat di hadapan seorang gadis dengan jilbab panjang yang menutupi bagian kepalanya, ingin mengajak berkenalan.

"Arum."

Singkat, padat, jelas.

Zyan sejenak terpaku.

Merasa baru kali ini seseorang enggan menerima jabat tangannya, seakan tak berniat untuk berkenalan.

Apa baru saja ditolak?

Bahkan para wanita yang langsung tergila-gila padanya, tidak akan pernah melewatkan kesempatan ini. Tersenyum manis sekaligus menggoda ke arahnya, seraya menyebutkan nama mereka dengan suara yang mendayu di telinga.

Namun gadis ini?

Ia malah menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.

Mata dengan iris cokelat menawan itu hanya menatap sekilas wajah Zyan, bahkan tampak acuh. Lebih tertarik menatap tanah berlumpur dibawahnya.

Satu kata.

Aneh!

"Anda tidak membalas jabat tangan saya?" Zyan akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, dengan kernyitan di dahi yang tampak kentara.

"Maaf, saya seorang muslimah."

Untuk kedua kalinya, ia semakin dibuat semakin melongo tak paham.

Apa maksud gadis itu dengan ucapannya?

Jelas sekali terdapat penekanan diakhir kata, seolah berharap agar ia segera paham.

Sepertinya aura tak nyaman juga semakin terlihat di wajahnya, ingin buru-buru pergi menjauh. Membuat Zyan akhirnya memilih menurunkan uluran tangan, dan mengalah. 

"Saya harap anda mengerti..." pungkas gadis itu pelan. Benar-benar mengakhiri pembicaraan mereka, lalu memutuskan untuk berjalan menjauh.

Perlahan-lahan menghilang dari arah pandangan, meninggalkan banyaknya pertanyaan mengganjal di benak seorang Zyan. Bahkan sesaat, ia masih terpaku di tempat, menatap sosok itu.

Takjub.

Gamis merah muda longgar yang dikenakannya, disempurnakan dengan jilbab panjang warna senada yang melambai anggun menutupi dada, tergerak saat semilir angin lembut menyapunya.

Namun yang tak kalah menarik dari itu, ialah sepasang sepatu sedikit lusuh berwarna abu-abu, yang seolah menuntun langkahnya agar selalu berjalan tanpa sedikit pun perasaan ragu.

Melihatnya, Zyan hanya dapat tersenyum getir.

Ia pikir, ini kali pertamanya bertemu dengan seorang gadis yang berbeda seperti Arum.

Cukup menarik.

__________________

Alhamdulillah, terima kasih sudah berkenan mampir:)

Untuk selanjutnya jangan lupa tinggalin jejak kalian ya✨

Stay Tuned 🙌

Hey, Danton! (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang