XV. Makna Hijrah

3.9K 231 4
                                        

Peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW dan umat Muslim dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 M merupakan momentum bersejarah, menandai titik balik penting dalam kebangkitan agama Islam, menciptakan rahmat bagi semesta alam.

Bagi anak muda masa kini, secara makna hijrah menjadi semacam tren positif, suatu langkah perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.

Hijrah itu butuh pengorbanan.

Dan istiqamah itu berat.

Menjalani perubahan, juga tak bisa dipandang sebelah mata. Sebagaimana awalnya menyesuaikan diri dengan salat lima waktu, awalnya mungkin terasa berat, tapi setelah terbiasa, semuanya menjadi lebih mudah.

Namun, memang benar, mempertahankan keteguhan hati dalam keadaan moral yang menurun di era ini, akan menjadi tugas yang lebih menantang bahkan penuh perjuangan.

"Kita sekarang hidup di zaman ketika cowok nakal dianggap keren. Hal biasa jika ada pemuda yang hobi tebar pesona untuk memikat hati para wanita, kemudian diajak berpacaran dengan alasan jatuh cinta. Eksistensi pacaran sebagai sebuah kebiasaan bahkan tradisi untuk dua lawan jenis sebelum pernikahan. Anggapan bahwa tanpa pacaran seseorang akan sulit mendapatkan jodoh, jomlo, tidak laku. Selain lingkungan yang mendukung, terkadang tontonan atau bacaan juga menjadi sumber acuan untuk diperagakan."

Kenyataan sebenarnya memang tidaklah semanis, se-uwu, dan seromantis dua insan yang menjalin hubungan percintaan seperti yang sering digambarkan di drama ataupun novel-novel remaja.

Arum jadi ingat kembali perkataan murabbinya sewaktu dulu, "Pacaran hanyalah hubungan yang dijalin oleh orang-orang yang ingin mencoba simulasi berumah tangga, tapi nyatanya diri sendiri belum siap untuk menikah."

Karena masih terlalu dini untuk mengatasnamakannya sebagai cinta, membangun komitmen sebelum menikah, saling memiliki seolah dunia hanya milik berdua.

Sejatinya tidak ada ikatan yang sah antara dua lawan jenis, selain menikah. Hubungan yang terjalin sebelum akad untuk memuaskan nafsu belaka hanya sebatas bayang semu, sesaat bisa hilang atau bahkan menghancurkan.

Ibarat hanya menunggu waktu untuk disakiti, layu, dan patah hati.

•••

Tak terasa waktu Arum berada ditempat ini tinggal menghitung hari. Ia kembali mengingat saat awal kedatangannya ke tempat ini, warga desa yang ramah dan menyambut dengan hangat, membuatnya menjadi lebih mudah untuk beradaptasi.

"Bu guru ... kemarin saya sudah menghapal surat Al Falaq sama Al Ikhlas. Nanti ingin setoran sama Bapak Sersan."

Arum mengusap pelan rambut ikal anak itu, "Bagus sekali, Tias. Belajar mengajinya sudah sampai iqra berapa?"

"Iqra lima!" Anak itu semangat seraya memberikan isyarat telapak tangannya.
"Apa Ibu guru ingin mendengar suara saya membaca Al-Qur'an?" tanyanya dengan mata penuh binar.

Arum tersenyum, berharap saat itu ia belum pulang, "Ya, tentu, belajar yang rajin, Insya Allah akan Ibu tunggu."

"Siap!" Tias memberikan hormat ala-ala tentara.

Arum terkekeh kecil.

Selain mandi sungai, anak itu memang lebih sering bermain di barak tentara, akibatnya jadi ikut-ikutan meniru kebiasaan mereka.

"Bapak Danton?"

"Hm?" Arum menoleh pada Tias.

Arum kira hanya ia saja yang sejak tadi penasaran dengan lantunan surah Ar Rahman dibawah langit indah Merauke menjelang waktu Asar.

Dari arah kejauhan ia lihat sosok pria yang tengah duduk didepan langgar. Pertanyaannya sejak kapan pria itu sudah mulai lancar membaca Al Qur'an?

Awalnya Arum kira suara itu milik Kopral Zainal yang sering menjadi imam salat di desa ini, ia tidak menyangka jika itu adalah suara milik Zyan.

Sepertinya pria itu beberapa bulan terakhir ini benar-benar serius dalam berlatih dan belajar.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Mengapa Allah sampai mengulang tiga puluh satu kali ayat yang sama di dalam surah Ar Rahman? Bukankah hal itu sebagai pemberitahuan sekaligus peringatan, betapa besar kasih sayang Allah SWT kepada para hamba-Nya akan kenikmatan dari-Nya yang tidak dapat diperkirakan?

"Suara Bapak danton mengaji bagus sekali e." Tias memuji tatkala mendekati pria itu, ikut duduk di depan langgar.

"Saya mau lebih serius lagi ngaji, biar bisa baca seperti Bapak," ujarnya nampak bertekad.

Pria itu tersenyum, sejujurnya ia juga masih perlu banyak belajar, "Bapak tunggu sampai kita bisa baca Al Qur'an sama-sama."

"Sama bapak Sersan juga?"

"Iya."

Zyan seperti dua orang yang berbeda. Kemana jiwa narsisnya yang dulunya kelewat overdosis?

Pria itu kini tersenyum seraya mengelus pucuk kepala Tias yang mulai bercerita random mengenai pengalaman hari ini.
Mulai dari membahas mengenai ia yang sudah mampu berucap beberapa kosakata dalam bahasa Inggris, atau curhat tentang ikan peliharaannya yang kemarin Zyan tangkap di sungai sudah mati, lalu ia kubur di hutan belakang rumah.

Semua keluh kesah ia utarakan, dan Zyan juga dengan sabar mendengarkan. Keduanya sangat akrab, bahkan kemudian terlihat tertawa lepas.

Pemandangan itu sesaat membuat Arum menatap takjub. Kemudian segera tersadar, dan cepat-cepat mengalihkan pandangan kearah lain.

Akhir-akhir ini ia sadari, sulit sekali rasanya membuat pandangan mata tetap terjaga dari hal-hal yang belum halal baginya.

"Ibu guru tidak lelah dari tadi terus berdiri?" tanya Tias sedikit teriak, heran pada Arum yang masih berdiri sedikit jauh di sana.

Zyan sejak tadi juga baru menyadari kehadiran perempuan itu. Sepertinya akhir-akhir ini ia jadi kurang peka terhadap sekitar.

Dan gadis itu.

Zyan rasa sudah lama mereka tidak bertemu. Mungkin karena ia sudah sibuk, dan terbiasa untuk menjaga jarak dengannya.

______________

⁵ Murabbi mengacu kepada pendidik yang tidak hanya mengajarkan sesuatu ilmu tetapi dalam waktu yang sama mencoba mendidik rohani, jasmani, fisik, dan mental anak didiknya untuk menghayati dan mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.

Hey, Danton! (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang