VII. Iqra

4.9K 265 3
                                        

"Tidak ada orang yang dapat berubah baik dalam waktu semalam, Danton."

Nasihat dari Ilham semalam kembali tengiang dibenak Zyan.

Sore ini dibawah pohon rindang dengan dasar rerumputan, berada tak jauh dari barak, pria itu menyempatkan diri untuk membuka Iqra yang Ilham pinjamkan.

Mengingat satu per satu huruf yang semalam anak buahnya itu ajarkan, mulai dari huruf alif sampai ya.

Untungnya ia bisa memahami dan mengingat dengan mudah. Ilham bilang, jika lebih serius dalam waktu cepat ia mungkin sudah bisa belajar membaca Al-Qur'an.

"Apa yang sedang Danton lakukan?"

Zyan yang sedang fokus segera terkesiap melihat siapa yang datang, segera menyembunyikan Iqra yang tadi berada tangannya.

"Bu Arum itu wanita terhormat."

Ya, sejak awal gadis itu berbeda jauh dari para wanita dari masa lalunya.

Dia nampak tenang.

Sederhana.

Dewasa.

Dan selalu tampil apa adanya.

Meskipun sebenarnya Arum sudah tahu apa yang sekarang pria itu coba sembunyikan. Ia memilih bertanya seolah belum mengetahui apa-apa.

Saat tadi kebetulan lewat Arum melihat Zyan tengah belajar iqra walau masih terbata-bata. Jadi benar kata Ilham, jika Dantonnya itu tengah belajar mengaji?

Gadis itu hanya tersenyum getir.

Tempo hari, ketika pria itu berkata jika ia seorang muslim, entah kenapa bagi Arum menimbulkan rasa lega tersendiri.
Awalnya ia kira Zyan berbeda keyakinan, juga terlihat dari wajahnya yang terlihat campuran, bukan seperti orang asli Indonesia.

"Apa Bu guru baru saja akan pulang?" tanya Zyan segera mengalihkan arah pembicaraan.

"Ah ya, setelah mengantarkan anak-anak kerumahnya masing-masing," balas Arum.

"Seharusnya Anda meminta kepada saya, saya bisa mengantarkan mereka tanpa Bu guru turun langsung." Pria itu mencoba menawarkan bantuan.

Arum seketika menggelengkan, "Tidak perlu, sepertinya akhir-akhir ini para tentara penjaga pos juga sibuk. Apa ada sesuatu hal yang terjadi?"

"Hanya beberapa teror pemberontakan. Bu guru tidak perlu cemas, karena masalah ini akan segera diatasi," jawab Zyan mencoba untuk menenangkan.

Arum mangut-mangut pelan.

Terlihat dari gurat wajahnya yang nampak letih, ia tebak jika akhir-akhir ini pria itu kurang tidur.

Akan tetapi, yang tidak Arum ketahui, jika sebenarnya pria itu begadang karena sibuk belajar iqra dan menonton banyak kajian agama.

Niatnya untuk hijrah harus semakin diluruskan. Selain Ilham akan terus mengomelinya, ia tidak mau jika tujuan utamanya karena seorang wanita.

Meskipun Zyan rasa, bertemu dengan wanita ini merupakan sebuah pertanda awal datangnya ketukan pada hatinya yang menuntunnya untuk sadar dan berubah.

Gadis itu akan beranjak, "Semangat belajarnya, Danton. Perubahan terkadang memakan waktu yang perlahan."

"Ya, terima kasih," jawab Zyan.

Arum mulai berjalan menjauh darinya dengan menahan senyum.

Eh? Zyan baru ngeh.

Apakah sejak tadi wanita itu lebih duluan memergokinya tengah belajar iqra?

•••

"Kemarin malam hewan peliharaan warga banyak yang hilang dan dijadikan sasaran teror masih dengan para pelaku tak dikenal." Lapor salah satu prajurit kepada Zyan setelah ia mendapatkan keluhan dari beberapa warga pagi ini.

"Apa masih saja ada sangkut pautnya dengan para pemberontak itu?" tanyanya.

"Itu masih dugaan sementara, Danton."

Pantas saja suasana semalam berbeda sekali. Selain suara-suara hewan peliharaan penduduk berupa domba dan unggas lainnya tidak bisa tenang.

Namun, kejadian ini sudah tidak bisa lagi membuat mereka tutup mata. Apakah para bedebah itu berpikir mereka akan diam saja? Bahkan tindakan mereka sudah keterlaluan meneror para penduduk.

"Siapkan beberapa pasukan. Kita akan melakukan patroli disekitaran desa dan hutan. Sepertinya pelaku belum terlalu jauh masuk kedalam hutan." Titah Zyan.

"Siap, Danton!"

Dari kejauhan diantara para penduduk yang berwajah cemas, gadis itu berdiri memandang kearah para tentara dengan ekspresi tak terbaca.

"Apa semalam tidur Bu guru juga terganggu?" tanya Zyan.

Arum tak menjawab, sepertinya rasa cemasnya saat ini sedikit berlebihan hingga tidak fokus pada sekitar.

"Saya hari ini izin tidak masuk mengajar, karena harus melaksanakan patroli disekitaran desa." Sambung Zyan.

"Hati-hati, Letnan." Gadis disebelahnya yang malah menyahut.

"Terima kasih, Bu dokter."

Zyan kemudian berbalik badan.

"Danton!"

"Ya?"

Pria itu kembali berbalik menatap Arum yang barusan memanggilnya, walau masih dengan pandangan cemas.

"Fii amanillah." Arum tersenyum tipis, seperti biasa.

Zyan kemudian mengangguk.

Meskipun kata-kata itu terdengar asing di telinganya, namun ia tahu jika artinya adalah untuk memohon perlindungan dan keselamatan.

•••

Beberapa pasukan mulai melakukan penyisiran, membaca jejak hewan peliharaan warga desa yang semakin mengarah masuk kedalam hutan.

"Saya rasa Danton harus melaporkan hal ini kepada pusat, untuk segera meminta arahan." Saran Ilham cemas, melihat suasana saat ini semakin hari malah semakin sulit diatasi.

Zyan tiba-tiba memberikan isyarat tangannya pada anak buahnya agar berhenti berjalan.

Ilham spontan menampakkan ekspresi penuh tanya, "Ada apa, Danton?"

Zyan meletakkan jari telunjuk di bibirnya, isyarat diam dan mengecilkan volume suara mereka, "Saya merasa sejak tadi kita tengah diawasi."

Suara itu...

Mata tajam Zyan melihat cepat kearah lain, pada semak belukar disamping pohon besar, tak jauh dari posisi mereka berdiri.

"Awaaasss...!!!"

Pyush!

Satu tembakan dari senapan rakitan itu tanpa aba-aba melesat dengan akurat kearah mereka.

"Danton!!"

_______________

Hey, Danton! (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang