"Saya mengerti apa yang kamu rasakan, Aidan. Tapi, setidaknya teruslah untuk berpikir positif."
Pria paruh baya dengan empat bintang dipundaknya itu adalah Jenderal Haidar, Panglima TNI yang sudah menjabat selama kurang lebih dua tahun silam.
"Itu alasannya dulu saya tidak suka saat dia memutuskan ingin menjadi sepertimu, Haidar." Aidan berterus terang. Kelihatan jelas dari raut wajahnya jika pria paruh baya itu tengah hancur.
Ya, Haidar juga sangat tahu bagaimana hubungan Ayah dan anak itu yang bahkan dapat dikatakan jauh sekali dari kata akur.
Sejak dulu, bahkan jauh sebelum Haidar mendapatkan promosi jabatan untuk mengisi posisi tertinggi pada tiga matra TNI, mereka sudah dekat dan bersahabat. Jadi, ia begitu paham tabiat milik Aidan.
Bagaimana sifat Aidan yang keras dan tak mau mengalah, sama halnya dengan sang putra. Membuat keduanya kerap sekali terlibat pertengkaran, hingga sulit untuk sekedar berbincang hangat terlebih ingin dekat
Aidan ingat pertemuan terakhir mereka, saat sang putra menemuinya di kantor dengan balutan seragam tentara dan mengatakan ia akan pergi dalam waktu yang cukup lama. Perpisahan yang sangat singkat karena kala itu Aidan hanya diam, dan mengabaikannya saja.
Pria itu sadari, cara ia menyampaikan rasa sayangnya selama ini ternyata salah. Ia terkesan terlalu egois. Sejak kehilangan istrinya—Thalia, ia merasa cukup frustasi, hingga tak pernah memperhatikan putra mereka yang baru saja lahir. Namun bukan berarti ia membencinya, Aidan hanya merasa belum siap menerima kenyataan.
Dulu ketika ia memutuskan untuk mengirim anak itu pergi jauh darinya, merupakan hal yang sampai kini masih saja Aidan sesali. Ia adalah sosok ayah yang paling buruk bagi putranya.
"Apa dengan menyerahkan amunisi yang diminta, mereka akan membiarkan putraku pulang dengan selamat?" tanya Aidan.
Pria itu nampak hilang akal.
"Sadarkan dirimu, Aidan!" Haidar mencoba menyadarkan sahabat karibnya sejak mereka duduk di bangku sekolah. "Apa menurutmu setelah memenuhi keinginan itu, mereka langsung akan berhenti?" tanya Haidar. "Tidak! Mereka memiliki keinginan yang lebih besar, setelah memiliki cukup kekuatan bahkan bisa saja akan semakin berontak!"
"Saya juga sama kalutnya denganmu! Bagaimana rasanya ketika ada seorang bawahan yang sudah kau anggap sebagai saudara sendiri datang dan menitipkan putrinya kepadamu sebelum pergi bertugas, dan ternyata ia malah gugur? Sejak dulu saya memiliki tanggung jawab itu, Aidan! Selain Zyan, gadis itu sudah saya anggap sebagai putri saya sendiri.
Kesalahannya, saya malah mengizinkan dirinya pergi ketempat berbahaya karena dirasa ia akan aman, bersama Pamannya yang juga bertugas di sana. Tapi rupanya, mereka dapat menemukan segala cara untuk bisa mengambilnya." Pungkas Haidar, tampak sama takutnya.
Seorang ajudan datang ditengah-tengah mereka. Memberikan hormat kearah Haidar, dengan membawa sebuah laporan.
"Izin melapor, Ndan!"
"Katakan," ucap Haidar.
"Izin, kita mendapatkan informasi terbaru dari salah satu prajurit yang bertugas di pos terluar, Ndan." Pria itu segera memberikan isi laporan, "Guru perempuan yang kemarin menjadi korban sandera saat ini telah ditemukan subuh tadi, prajurit melihatnya berlari mendekati pos jaga sendirian."
Haidar terkesiap.
Sama halnya dengan Aidan.
"Apa?"
"Lalu, bagaimana dengan putraku?" tanya Aidan segera.
Haidar menggunakan isyarat tangannya untuk menghentikan Aidan, berharap agar saat ini sahabat karibnya itu bisa tenang dulu.
"Bagaimana keadaannya sekarang?" Haidar kembali bertanya pada sang ajudan.
"Izin, Ndan, dalam keadaan selamat, bahkan nyaris tanpa satupun goresan luka. Namun..."
Alis milik Haidar bertaut saat ajudannya itu menggantungkan ucapan.
"Saat ini kita benar-benar kehilangan kontak dengan Letnan Zyan, kemungkinan besar dia tertangkap oleh para pemberontak itu dan kembali dibawa masuk ke dalam hutan."
Haidar memejamkan mata.
Sama halnya dengan Aidan, sendi kakinya terasa lemas, tak sanggup untuk menopang bobot tubuhnya.
Ya Allah.
•••
Subuh
"Tenaga medis, tenaga medis!"
Suara gaduh itu seketika pecah.
Waktu subuh dengan pencahayaan yang remang, para prajurit yang sedang berjaga melihat dari arah kejauhan seorang wanita tengah berlari mendekat, dengan langkah yang semakin tertatih.
Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Ibu guru Arum, gadis yang saat ini sedang mereka upayakan untuk dicari, sejak tiga hari yang lalu disandera oleh para pemberontak didalam hutan.
"Alhamdulillah, Ya Allah ... saya berhasil, saya menemukan jalan keluarnya," ujarnya setengah meracau. Air matanya sudah mengering, dengan bibir yang semakin pucat.
Saat ini kakinya sudah tak kuat lagi untuk melangkah, pandangannya kabur, lalu seketika jatuh lemas, tepat tak jauh dari pos penjagaan.
Beberapa tentara yang melihatnya segera mendekat untuk memberikan pertolongan.
"Ibu guru?"
Pria itu...
Dia adalah Serda Haikal.
Arum seketika saja terisak, benteng pertahanannya benar-benar hancur saat mendapati pria itu. "Haikal ... t-tolong selamatkan Danton Zyan. Hiks... beliau-- beliau terluka parah. Para pemberontak itu masih terus mengejarnya. T-tolong Haikal ... bawa beliau kembali."
Gadis itu berujar setengah tak jelas dan gemetar. Wajanya pucat karena syok, matanya menatap linglung.
Siapapun tolong bawa dia pulang.
Arum masih ingat dengan jelas didalam kepalanya, saat suara riuh dan peluru yang bersahutan memecah keheningan belantara hutan, langit mendung mencekam.
Entah darimana ia mendapat kekuatan yang begitu besar hingga dapat berlari melewati medan hutan yang terjal dan bebukitan. Saat itu ia terus berlari, tidak tahu apa yang ia pikiran, tanpa sedikitpun menoleh kearah belakang.
Meskipun ia mau, Arum tahu jika ia hanya akan merasakan penyesalan. Keraguannya meninggalkan pria itu sendirian dan menghadapi musuh yang semakin berdatangan.
"Teruslah berlari, jangan pernah sekalipun berhenti."
Pikiran buruk yang selalu menghantui nya, jika kemungkinan sangat kecil pria itu dapat bertahan.
Arum semakin meraung keras, tak ingin membayangkannya.
Sesaat Haikal bergeming mendengar ucapan gadis itu barusan, lalu berujar pelan, "Ibu guru tenang, kami akan berusaha menyelamatkannya."
Arum mengangguk. "Ya, tolong, Sersan ..." balasnya, nyaris seperti berbisik.
Sedetik kemudian tubuh itu semakin melemas. Pandangan matanya menjadi gelap total, lalu seketika ambruk. Gadis itu kehilangan kesadaran.
"Ibu guru?" Panggil Haikal, cemas.
Arum bergeming. Matanya sudah tertutup rapat.
"Kemana sebenarnya tim medis yang sedang berjaga?!" Beberapa prajurit itu kembali berteriak.
_______________
KAMU SEDANG MEMBACA
Hey, Danton! (End)
Teen FictionPertemuan awal dengan seorang Komandan Pleton baru pasukan pengamanan perbatasan itu cukup memberikan kesan buruk bagi Arum. Letnan Zyan Athalla Hasanain, pria egois, mau menang sendiri. Serta kelewat narsis bahkan di tahap overdosis. "Saya rasa te...
