XXIV. Sebuah fakta

3.5K 211 0
                                        

"Danton, mengenai seorang anak yang tampak mencurigakan waktu itu. Anda meminta saya menyelidikinya karena wajahnya tampak asing dan penuh luka."

"Apa benar jika dia adalah korban kekerasan?" tanya Zyan.

Ilham menggeleng, "Bukan itu yang saya temukan, Danton. Sejak hari itu, dia tidak pernah terlihat datang lagi. Para pekerja mengatakan jika mereka bahkan tidak mengenalnya sama sekali."

Zyan menaikkan sebelah alisnya.

"Besar kemungkinan jika terdapat mata-mata yang dikirim oleh para pemberontak untuk mengumpulkan informasi, lalu menyerang setelah mencari celah kelemahan kita." Lanjut Ilham.

"Jadi, maksudmu anak itu---"

Ilham segera memotong ucapannya, "Apa benar jika anda pernah ditugaskan memimpin operasi penumpasan teroris di pulau Sebiru beberapa waktu silam?"

"Darimana kau tahu??" Zyan sedikit tak menyangka.

"Bukankah informasinya sudah lama tersebar?" tanya Ilham.

"Operasi itu cukup rahasia, bahkan tidak perlu diketahui oleh sesama prajurit karena memang disembunyikan, untuk apa menyebarkannya?" balas Zyan.

Ilham seketika menelan saliva-nya, susah sekali, "Danton ... tapi anak itu mengetahuinya."

"Apa?!"

"Dia yang bahkan menceritakan hal itu pada saya." Ungkap Ilham.

•••

"Saya baru mengetahui jika Ibu guru adalah cucu dari mantan Panglima TNI waktu dulu, Jenderal Adisatya. Maaf, seharusnya saya lebih menghormati anda." Danu berucap seolah penuh penyesalan.

Arum tersenyum kecil, "Tidak apa-apa, Sersan."

"Saya pikir anda benar-benar sangat tangguh." Puji Danu, tak bisa membayangkan saat berada di posisi Arum sewaktu kecil.

Berita tentang kematian Sang Ayah ditayangkan hampir di seluruh siaran TV nasional. Putra dari Panglima TNI, Mayor Abiandra yang amat berjasa serta mendapatkan penghormatan setinggi-tingginya setelah gugur menyelamatkan belasan WNA yang ditawan oleh para pemberontak di pedalaman hutan selama sepekan.

"Tempat ini benar-benar mengingatkan saya pada Ayah." Gadis itu tersenyum getir menatap kearah luar jendela mobil.

Akhirnya impiannya sejak kecil bisa ia wujudkan, menginjakkan kaki ditempat yang sama ketika Ayahnya memilih gugur, serta bisa mengajar disini seolah karena panggilan jiwa mengabdi dari sang Ayah.

"Dari awal bertemu, saya juga sudah mengira bahwa anda bukan hanya gadis biasa, nampak tegas dan berwibawa, bahkan Danton Zyan sendiri hampir saja tersaingi." Pria itu terkekeh.

Coba saja jika saat ini Zyan mendengar, sudah dipastikan Danu akan langsung disuruh sikap tobat sampai ayam berkokok di waktu fajar.

"Ngomong-ngomong Ibu guru."

"Ya?"

"Dengan keadaan rawan beberapa belakang, apa benar anda sama sekali merasa tidak takut?" tanya Danu.

"Jujur, saya sedikit merasa khawatir. Terlebih karena anak didik saya, saya membenci situasi berbahaya, namun saya juga percaya jika kalian para tentara pasti bisa mengatasinya," balas Arum.

Danu hanya manggut-manggut.

KRIETTT!!!

Mobil yang tadinya melenggang dengan santai dan lancar, tiba-tiba mengeram mendadak, bahkan Arum sampai terhuyung kedepan. Segera gadis itu melihat kearah kursi depan, menanyakan alasan Sersan itu menghentikan mobil mereka mendadak.

Hey, Danton! (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang