VIII. Cemburu

5.1K 293 13
                                        

"Danton, seharusnya anda jangan terlalu banyak bergerak. Karena kondisi anda, silahkan beristirahat saja dulu, tidak usah memikirkan hal yang lain---"

"Kamu pikir saya sudah sekarat?" Zyan mendelik tajam. Ilham sejak tadi berbicara seakan-akan ia hampir mati saja.

"Nyaris saja Danton, jika tembakannya sedikit lebih akurat, mungkin bukan hanya telinga tapi kepala Anda sudah berlubang," balas Ilham terdengar meledek.

"Iya, terus saja berharap yang tidak tidak." Tampaknya pria itu memang ingin mendoakannya agar mati segera.

Wajah Zyan terlihat apes sekali, karena kecerobohan yang ia buat, menanggung malu. Meskipun nyawanya masih aman. Peluru nyasar itu hanya mengenai daun telinganya.

"Danton ... arah jam sembilan." Kali Ilham memberikan kode. Zyan seketika melirik kearah yang ditunjuk Sersan itu.

"Sepertinya anda sekarang memiliki seorang rival." Sambung Ilham.

Kapten Idgam, Komandan kompi mereka yang sampai saat ini masih melajang, bahkan diusianya sudah menginjak kepala tiga.

Tidak, apa yang tengah pria itu lakukan?! Berbincang hangat dengan sosok gadis yang menjadi primadona prajurit bujangan satu barak.

Rasanya Zyan saja sudah jenuh mendengar para bawahannya yang terus saja mengidam-idamkan Arumi untuk menjadi istrinya, entah itu saat sedang berjaga, malam, siang, pagi, bahkan lebih dari tiga kali sehari.

Apa sekarang nambah lagi?

Sungguh Zyan merasa pria itu akan menikungnya duluan, akan lebih mudah terlebih lagi dia merupakan atasannya.

"Sepertinya wanita memang lebih tertarik pada pria berkulit eksotis." Ilham menambahi, lebih tepatnya tengah memanas-manasi. "Jika dilihat mereka juga tampak sangat serasi."

Telinga Zyan semakin memerah

Ilham bahkan ingin terbahak dan kembali meledek wajah masam sang Danton. Rasanya senang dapat mengerjainya sekali-kali. Saat ini Zyan tampak seperti pemuda labil yang kurang perhatian.

"Apa luka Danton sudah lebih baik?" tanya Elsya yang barusan mendekat.

"Ya, tidak masalah, hanya sekadar goresan di telinga."

"Apa perlu diganti perban?"

Pria itu lagi-lagi seolah hanya mengabaikannya, "Tidak perlu, dokter, saya baik-baik saja."

Fokusnya hanya tertuju pada dua orang berlawan jenis yang kini masih terus asyik berbincang.

Ilham geleng-geleng kepala, memang ya jika sudah dimabuk asmara, penglihatan pada sekitar sudah dibuat buta, pikirnya.

Dengan hati yang masih memanas bak diletakkan diatas bara api, Zyan kemudian lebih memilih pergi, menjauhi mereka.

"Ada apa dengan Danton Zyan?" Elsya jadi ikutan heran.

"Tampaknya beliau tidak senang melihat kedekatan kedua orang itu."

"Kenapa?"

Ilham menatap dokter itu yang barusan bertanya, merasa tidak ngeh, "Apanya yang kenapa?"

"Bukannya Kapten Idgam merupakan Pamannya Arum dari pihak Ibu?" Ya, Elsya tentu masih mengingat ucapan Arum waktu itu.

"APAA?!"

••••

Beberapa hari ini Arum merasa ada yang sedikit aneh pada perlakuan Zyan.

Hey, Danton! (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang