XXIII. Perpisahan

3.6K 217 0
                                        

Akhir-akhir ini kondisi desa tampak jauh sekali dari kata baik-baik saja.

Merasa tidak aman, para penduduk masih terus saja dihantui oleh teror, serta bayang-bayang para pemberontak kejam yang bisa saja masuk dan memporak-porandakan habis tempat tinggal mereka.

Hari ini tibalah saatnya Arum harus dipulangkan sesuai jadwal yang sudah ditentukan, setelah masa pengabdiannya yang kemarin secara resmi sudah berakhir.

Dengan dihantarkan oleh beberapa warga desa, dan beberapa anak muridnya yang sejak tadi belum berhenti menangis, melepaskan kepulangannya dengan berat sekali.

Meskipun sudah berulang kali Arum tenangkan dan memeluk erat mereka seraya berucap, jika ia tidak akan pernah melupakan mereka.

Elsya memeluk gadis itu untuk kedua kalinya, merasa sedih meskipun hanya sebentar gadis itu lebih dulu meninggalkannya untuk pulang.

"Janji tunggu gua, Rum! Awas aja lo kalau nanti pas pulang malah pura-pura ga kenal!" ujarnya mengancam.

Padahal tak bisa dipungkiri bahwa ia tengah menahan tangisnya mati-matian, setelah ini Arum akan selalu merindukan omelan dari gadis itu yang selalu mengawali pagi harinya, membantu membangunkannya sewaktu subuh, atau tingkah hebohnya yang sering membuat Arum spontan saja geleng-geleng kepala.

Arum setengah terkekeh, "Iya, janji, bakalan aku tunggu!" Kali ini giliran Arum yang memeluknya, mengelus punggung yang kini sudah bergetar.

Rasanya ia betul-betul ingin meledek Elsya yang masih saja terlihat sok tangguh, pura-pura kuat dan menahan tangis meskipun hidung dan matanya sudah memerah.

"Jangan ketawa!" ujarnya galak.

Arum spontan saja berdeham, menahan tawanya secara mati-matian.

"Sampai ketemu lagi di Jogja, Ibu Arum. Meskipun saya tidak berharap sebesar dulu, bahwa kita benar-benar akan kembali bertatap muka." Raka hanya memberikan senyuman tipis, namun terlihat tulus.

"Ah, ya." Arum seketika menjadi canggung.

Sebuah hadiah perpisahan yang begitu sederhana, namun bisa menjadi sangat istimewa, andai saja jika diberikan kepada orang yang tepat.

Jauh di lubuk hati Arum, gadis itu sampai kini merasa bersalah menyadari pria itu terus saja menatapnya seolah dengan pandangan kecewa. Apakah mungkin ia kemarin terlalu mematahkan harapannya?

Sebenarnya sejak tadi ada sesuatu hal yang Arum cari, berharap ia bisa mendengar ucapan perpisahan dari satu orang lagi, sebelum ia benar-benar akan berangkat dan menaiki mobil militer yang dikemudikan oleh Sertu Danu.

"Danton Zyan?" Arum menatap Elsya dengan sedikit gelagapan, "Sepertinya beliau memang sangat sibuk saat ini."

Ya, Arum juga tahu itu.

Sejak hari itu, Arum tidak pernah lagi melihat pria itu lagi. Tentu saja, terlebih kondisi keamanan saat ini tengah siaga.

Entah kenapa kini Arum merasa sedikit kecewa, tak bisa lagi jika harus menunggu lebih lama, terlebih ia harus mengejar pesawatnya yang akan take off dua jam lagi.

Tak ingin merasakan momen perpisahan ini lebih lama lagi. Gadis itu akhirnya segera menaiki mobil setelah semua barangnya sudah selesai dimasukkan.

"Apa sudah ingin berangkat?"

Suara berat itu...

Zyan datang bersama dengan Ilham yang seperti biasa mengekor dari belakang. Menghentikan Arum yang baru saja akan menaikkan kaki, memasuki mobil.

Zyan pikir ia akan terlambat.

Pria itu kini terlihat datang dengan penampilan yang sedikit berantakan, wajah yang nampak lelah, lingkaran hitam dibawah mata seperti kurang tidur, serta rambut yang sudah tidak terurus lagi.

Berbeda sekali dengan penampilan biasanya yang rapi, serta tak lupa dengan tambahan kaca mata hitam yang membuat demage-nya semakin diluar nalar.

Bahkan para perempuan akan secara spontan menoleh dua kali saat mereka berpapasan. Terpesona, layaknya melihat seorang idola. Ditambah lagi dengan kesan gagah dengan seragam tentara yang ia kenakan.

Arum hampir saja ikut terhipnotis.

Pria itu tersenyum, sudah tak sanggup melontarkan kata-kata yang hanya mampu terangkai didalam kepalanya.

"Fii amanillah, Bu guru." Singkat.

--saya berharap ada kesempatan lagi untuk kita kembali bertemu. Meskipun tidak, saya akan ikhlas dan rela, karena kita memang belum terikat secara sah, hingga dapat dipastikan akan kembali bersama.

Perkara jodoh sejatinya memang merupakan rahasia milik Allah. Sejauh apapun berpisah bahkan terbentang jarak yang luasnya tak terhingga, jika dia memang jodohmu maka akan tetap kembali padamu.

Begitupun sebaliknya, sudah sedekat apapun jarak bahkan hanya tinggal selangkah di depan mata, memaksa agar tetap bersama, jika dia jodoh orang lain, kamu pada akhirnya akan tetap kalah.

Takdir Allah lebih terencana.

Dan Zyan sudah percaya itu.

Harapan jelas masih ada.

Namun pada akhirnya ia belajar menemukan arti dari kata ikhlas, melepas, jika hal itu memang bukan ditakdirkan menjadi miliknya. Memang sakit, namun ia tak ingin lebih menderita karena tetap egois.

Arum seperti biasa memilih menunduk, tak mau menatap wajah pria itu dengan lama, "Ma'assalamah," jawabnya kemudian, pelan.

Senyuman getir kini terukir diwajah milik Zyan. Tampaknya detik waktu ini benar-benar menjadi momen untuk menguatkan makna dari kata ikhlas sekaligus melepaskan.

Arum rasa semuanya sudah cukup, semakin lama dadanya malah menjadi semakin sesak.

Kini akan pulang, membawa pengalaman berharga yang akan senantiasa ia kenang, menjadi bagian dari petualangan terhebat dalam hidupnya.

Merauke.

Bendera merah putih.

Pengabdian.

Sepatu kets abu miliknya.

Langit cerah.

Hamparan lembah menghijau.

Senja terindah.

Bangunan sekolah.

Senyum ceria anak didiknya yang senantiasa mengawali pagi harinya.

Sapaan hangat dari warga desa saat berpapasan dengannya.

Dokter Elsya.

Kaca mata hitam.

Iqra.

Bait puisi.

Tias, Girona, Maruna dan kawan- kawannya. Bagiamana mungkin Arum akan melupakan jiwa semangat membara pada anak-anak itu?

"Ibu guru?"

Untuk kesekian kalinya Arum tidak bisa menolak dan kembali memeluk mereka, dan kali ini benar-benar untuk terakhir kalinya.

Air mata itu kembali jatuh.

Arum berharap jika masih diberi waktu, izinkan ia agar kembali menginjakkan kaki dan melangkah ditempat ini.

Melihat anak didiknya sudah mulai tumbuh dewasa, dan menikmati senja terindah dengan hamparan lembah menghijau yang seketika menghilangkan beban di kepala.

Ditempat ini Arum ingin menitipkan beribu cerita, untuk bisa disimpan selama-lamanya.

_____________

Hey, Danton! (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang