XIII. Dokmil

4.3K 248 5
                                        

Ini merupakan penugasan pertamanya sebagai seorang tentara, dan bumi Merauke menjadi tempat awal kakinya berpijak untuk mengabdi menunaikan panggilan Ibu Pertiwi.

"Letnan Raka Bumantara."

Ilham melakukan hormat gerak cepat, sebelum menyalami tangan pria itu, "Siap, izin memperkenalkan diri, saya Serda Ilham."

Pria itu tersenyum, "Mohon bantuannya, Sersan."

Ilham menghantarkan Letnan itu menuju pos kesehatan tak jauh dari posisi barak tentara.

"Ngomong-ngomong sudah lama Bu guru Arum mengajar ditempat ini?" tanya Raka, membuat Ilham segera menatapnya.

"Siap, izin, Anda mengenal Ibu guru Arum?"

"Ya, saya dulu pernah bertemu dengannya sekali saat masih di Jogja."

Bagaimana mungkin Raka lupa?

Seorang gadis yang rela mengorbankan nyawa demi menyelamatkan anak muridnya yang akan tertabrak mobil.

Tanpa memikirkan bagiamana keadaannya, saat tiba dirumah sakit gadis itu juga terus memohon agar dirinya hanya ditangani oleh dokter wanita sekalipun itu kedaan darurat dan ia terluka parah.

"Tolong pikirkan keadaan anda saat ini, kepala anda terluka, dan jika hanya ingin menunggu dokter wanita mengobati, anda bisa kehabisan banyak darah!"

Meskipun pada akhirnya perawat wanita yang turun tangan untuk menanganinya. Setelahnya Raka jadi menyesal karena telah memaksa gadis itu agar tetap diobati olehnya. Ia seharusnya lebih bisa menghargai keputusan dan menjaga kehormatannya.

Terlebih saat gadis itu sama sekali tak ingin melepaskan hijabnya didepan Raka, saat pria itu mencoba mengambil tindakan untuk menghentikan pendarahan di kepalanya.

"Danton saat ini sedang memimpin patroli patok bersama beberapa pasukan."

Tak terasa mereka sudah sampai didepan pos kesehatan desa. Tempat yang akan sering Raka datangi, setidaknya selama kurang lebih delapan bulan ke depan.

"Jika Letnan perlu bantuan tidak perlu sungkan memintanya pada saya." Sambung Ilham.

Raka segera mengangguk, "Ya, terima kasih."

•••

"Kayaknya sepatunya udah perlu diganti dengan yang baru deh, Rum."

Elsya lihat sejak awal gadis itu datang ke desa ini, ia sudah memakai sepatu yang sama yang tak pernah sekalipun ia lepas, kotor cuci, kering pakai lagi, begitu seterusnya, jadi wajar saja jika sudah nampak usang.

Sepatu ini merupakan pemberian dari sang Bunda tepat sebelum ia berangkat ketempat ini. Arum sangat ingat bagaimana wanita paruh baya itu menghantarkan kepergiannya dengan sedikit berat. Kemudian berbisik lembut ditelinganya,

"Pergilah ... semoga Allah senantiasa melindungi keselamatan putri kesayangannya Bunda dimana pun ia berada."

Arum belajar mengikat tali sepatu dari sang Ayah, pria itu mengatakan ia harus mengikat tali sepatu dengan erat agar tidak mudah terlepas jika ingin berlari kencang.

Ngomong-ngomong sejak tadi Arum merasa sedikit silau dengan senyum cerah yang mengulas di wajah dokter yang berjalan disampingnya.

Padahal sudah Arum ingatkan jika tempat ini dekat dengan hutan jadi akan rawan terjadi insiden kesurupan.

Si genteng, ya ampun! Ternyata udah datang aja.

Bisa dibilang wajah Elsya yang tadinya masih cengar-cengir sendiri berubah menjadi lebih kalem setelah melihat sosok pria yang sudah berdiri tegap didepan pos kesehatan desa, bak memimpin upacara bendera.

Hey, Danton! (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang