XLI. Sah bersamamu

5.8K 264 2
                                        

Mempersiapkan pernikahan yang dilangsungkan didalam rumah sakit seolah menjadi momen haru tersendiri bagi para dokter atau perawat yang sedang bertugas, turut dapat merasakan kebahagiaan yang menular.

Dengan dihadiri oleh beberapa dokter dan perawat, selain Haidar, Sarah, serta Aidan dan Idgam yang akan menjadi saksi pernikahan mereka.

Ilham yang masih bertugas disana juga tak ingin melewatkan kesempatan melihat momen pernikahan Danton-nya, dengan kembali melakukan telepon video, meskipun masih beberapa kali harus terkendala sinyal.

Bagi Zyan sendiri itu lebih baik, ia tidak ingin lagi melihat wajah jelek Ilham yang terus-menerus saja menangis. Entah tidak peduli lagi siapa atasan dan bawahan, kemarin saja ia sudah cukup diomeli setelah melihat keadaannya saat ini.

Di ruangan lain, Elsya bertugas merias wajah Arum, dengan sedikit polesan make up, wajahnya seolah sudah memancarkan kecantikan alami, bahkan tanpa harus menggunakan riasan yang berlebih.

Tubuhnya memakai gaun brokat berwana putih tulang dengan jilbab syar'i yang menutup hingga bagian dadanya, serta tambahan mahkota kecil di kepala. Tampak elegan dengan tampilan yang sederhana.

"Rileks, tidak usah terlalu tegang." Aidan menepuk pundak milik Zyan beberapa kali, kemudian sedikit berbisik ditelinga putranya,

"Kamu adalah putra prajurit Papa yang tangguh dan berani, yakinlah jika kamu bisa." Sambung Aidan, memberikan senyuman menyemangati saat melihat wajah Zyan terlihat gugup.

"Bismillah, Pa."

Zyan ikut tersenyum.

Aidan sebenarnya juga tampak khawatir melihat putranya itu, takut jika sewaktu-waktu kondisinya bisa kembali menurun.

"Masih sanggup kan?"

"Insya Allah."

Masih dengan duduk diatas ranjang rumah sakit karena keadaannya yang belum memungkinkan. Zyan sudah siap untuk menjabat tangan milik Dafa, dan melafazkan kalimat ijab qobul pernikahan mereka.

Untuk pertama kalinya Zyan merasa sangat grogi, bahkan kesulitan untuk mengendalikan detak jantungnya yang tak beraturan.

Bibirnya terus menggumamkan asma Allah, agar hatinya sedikit lebih tenang, diberikan kekuatan serta kelancaran

Pria itu akhirnya menjabat tangan milik Dafa, Kakak laki-laki Arum juga merupakan seorang senior yang sudah cukup dikenalnya.

Bismillahirrahmanirrahim.

Sejenak Dafa juga menetralkan deru nafasnya, ikut merasakan gugup, kemudian menatap wajah pria yang akan segera menjadi suami dari adiknya.

"Yaa Zyan Athalla Hasanain ibn Aidan Winata Hasanain. Ankahtuka wa zawwajtuka makhthubataka Diajeng Arumi Primaningtyas binta Abiandra Aryasena allati wakkalani waliyyuha bi mahri 20 qirat almas wa 23 milyun naqdan haalan."

"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahril madzkur haalan," balas Zyan tegas, dengan satu tarikan nafas.

Sebuah ikrar atau perjanjian yang bilamana terucap, membuat Arsy Allah begetar, saking beratnya perjanjian yang dibuat oleh manusia didepan Rabb-nya.

Dalam waktu singkat. Suasana yang tadinya tegang dan hening seketika berganti dengan suasana haru bercampur bahagia. Disambut dengan ucapan hamdalah dari pasang mata yang turut menyaksikannya.

"Alhamdulillah."

Doa dan ungkapan rasa syukur yang tiada tara kembali di panjatkan kepada Allah yang Maha mempersatukan dan yang telah menciptakan manusia secara berpasangan-pasangan.

Perasaan cinta sebagai fitrah yang dirasakan oleh setiap manusia, sekaligus anugrah terindah, pemberian dari Allah kepada hamba-Nya.

Arum yang masih berada di ruangan yang berbeda meneteskan air mata saat mengetahui pria itu sudah sah menjadikan dirinya sebagai istrinya.

Bibirnya berucap hamdalah, untuk kesekian kalinya kembali berdoa, untuk peran baru yang akan ia jalankan setelah ini. Bersiap mendukung dan senantiasa berada disamping suaminya, untuk membangun rumah tangga yang  diberkahi dan diridhai oleh Allah.

"Selamat, Rum!"

Elsya segera memeluk tubuh gadis itu dari samping, ikut merasakan kebahagiaan yang sama. Kemudian menghantarkannya ke ruangan milik Zyan dan semua anggota keluarganya berada.

"Assalamu'alaikum."

"W-wa'alaikumussalam."

Semua yang berada di ruangan tersenyum, menyambut sosok pengantin wanita mereka tunggu.

Jantung Zyan semakin berdegup kencang, ritme yang semula mulai normal, kembali berubah menjadi tak beraturan.

Gadis itu kini tampil dengan begitu anggun, dengan balutan gaun yang melekat begitu sempurna di tubuhnya. Ditambah wajah dahayu yang dipoles dengan sedikit riasan.

Indah.

Menawan.

Dan sederhana seperti biasanya.

Arum perlahan berjalan semakin mendekat.

"Masya Allah."

Zyan merasa ada bongkahan es yang mencair diatas kepala, hawa sejuk yang tiba-tiba menyelimuti tubuh, memberikan sensasi menggigil, saat senyuman wanita itu mulai menyapa.

Senyuman yang tadi Zyan harapkan dapat ia lihat kembali.

Arum menunduk dalam, dengan malu-malu mencium punggung tangan milik Zyan, seolah menjadi bukti awal pengabdiannya yang akan ia jalani menjadi seorang istri.

Zyan meletakkan tangan dan memegang lembut ubun-ubun kepalanya, sambil membaca doa seperti yang nabi ajarkan. Berganti dengan kecupan lembut yang mendarat di keningnya, cukup lama.

"Cantik." Bisik Zyan pelan tepat ditelinganya.

Deg!

Spontan wajah tirus Arum kembali terangkat, menatap senyuman tipis nan tulus yang kini terpatri di wajah pria pemilik lesung pipi itu.

Hanya butuh waktu sepersekian detik sudah mampu membuat wanita itu tersadar, jika pipinya sedang terlihat memerah bak buah delima.

Polesan blush on tipis bahkan nyaris tak terlihat, seketika berubah menjadi memerah alami.

Aidan memberikan sebuah kotak beludru merah maroon yang didalamnya berisi sepasang cincin, yang dulu pernah dipakainya saat menikah dengan Thalia. Sekarang sudah saatnya akan Aidan berikan untuk putra sekaligus menantu perempuannya.

Satu cincin bertahta berlian indah itu nampak begitu pas, tersemat dijari manis Arum. Begitu serasi saat juga dipakaikan di jari milik Zyan.

•••

Kini, hanya mereka berdua yang tersisa didalam ruangan, setelah anggota keluarga memilih keluar memberikan mereka waktu untuk dihabiskan berdua.

Arum merasa seolah mereka tengah di dalam ruang hampa udara, hingga rasanya sesak sekali dan sulit untuk menghirup nafas dengan lega.

Degup jantung mereka semakin berpacu dengan kencang, seirama. Raut gugup tak bisa dibohongi, kembali tampak dari wajah keduanya.

"Diajeng..."

Wajah tirus itu terangkat.

Saat manik mata mereka saling bertemu, seolah menyiratkan perasaan yang begitu mendalam, hingga tak dapat lagi didefinisikan.

Arum lihat bibir pucat pria itu semakin terangkat ke atas, kembali tersenyum tulus sekali, membuatnya sejenak terpaku.

"Izinkan saya mencintaimu dengan cara yang mulia."

______________

Hey, Danton! (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang