Setiap menatap langit senja, Arum seakan-akan dapat membayangan wajah sang Ayah yang tengah tersenyum hangat padanya.
Sosok yang selalu memperlakukan putri kecilnya dengan lembut dan penuh perhatian, layaknya seorang Tuan putri kerajaan.
Wajahnya tak berhenti mengukir senyum, dengan sepasang mata teduh, yang memberikan ketenangan. Mengelus pucuk kepalanya dengan sangat hati-hati, takut jika tangan kapalannya membuat sang putri terluka.
Dari Ayahnya lah Arum belajar sebuah ketulusan, kelembutan, dan kasih sayang. Pria itu sering memperlihatkan kepadanya betapa indahnya langit senja, hujan, serta fajar. Mengandeng tangannya dengan genggaman hangat, yang membuat tangan mungil Arum juga sulit terlepas.
"Kamu tahu, Nak..." ujarnya sebelum akan memulai ucapan dan menatap wajah Arum yang selalu menyimpan rasa keingintahuan yang tinggi.
Arum tersenyum getir mengingat momen itu. Sang Ayah adalah jatuh cinta pertamanya. Pelukan ternyaman yang selalu membuatnya tenang. Tangan yang menyeka air matanya, memenangkannya dengan bisikan lembut yang seketika membuat tangisnya reda.
Ada kalanya pria itu juga mengajarkan kepadanya agar menjadi perempuan yang tangguh.
"Nak ... terkadang yang indah itu hanya sesaat. Jangan terlalu terpana pada keindahan yang sementara, sampai melupakan akan ada kegelapan panjang yang menanti setelahnya."
Kebahagiaan tidak akan pernah abadi selamanya.
Cara pandang sederhana Ayahnya selalu membuat Arum kagum. Kata-kata yang keluar dari bibirnya layaknya bait-bait puisi yang selalu menghipnotisnya. Indah dan tertata.
Kecintaannya terhadap bangsa ini tergambar dari rasa semangatnya dalam mengabdi ketika dipanggil oleh Ibu Pertiwi. Hingga akhirnya sang Ayah memilih gugur sebagai salah satu putra terbaik bangsa. Dipulangkan dengan kain merah putih yang selalu ia bela.
Layaknya senja, kehadirannya hanya sesaat, kemudian menghilang. Meninggalkan memori indah yang akan membekas abadi juga didalam hati.
"Saya tidak mengerti mengapa orang-orang sangat suka sekali memfilosofikan senja, malam, bintang, bulan, dan hujan."
Arum yang tengah fokus melihat pemandangan didepannya seketika menoleh para sumber suara.
Seorang pria berpostur tegap berdiri tak jauh dari posisinya, kini tersenyum tipis memandang kearah yang sama.
"Raka Bumantara," ujar pria itu masih tersenyum, memandang Arum yang sejenak masih terpaku, nampak tak asing dengan wajahnya.
"Saya tidak menyangka kita akan dipertemukan lagi ditempat ini ... Bu guru Arum."
•••
"Ada seorang dokter militer baru yang ditugaskan ke desa ini, Rum!" Elsya dengan sikap hebohnya seperti biasa membuat suasana rumah tinggal mereka yang seharusnya tenang, terkesan jadi lebih rusuh.
Akhirnya setelah sekian lama Elsya merasa tidak akan dibuat merana sendirian lagi di pos kesehatan.
"Alamak ... dibuat oleng!" Dokter muda itu serasa ingin jingkrak-jingkrak karena terlalu bawa perasaan.
Sudah tampan, mapan, dokter plus tentara pula, dapat dipastikan jika pria itu merupakan tipikal suami idaman.
Pakai baju loreng dengan luaran snelli, kece ga tuh? Ngomong-ngomong kebanyakan dokter berjodoh dengan dokter juga kan ya?
Elsya rasanya ingin berteriak.
Danton Zyan dengan wajah tampan sedikit kebarat-baratan sehingga tak perlu lagi diragukan. Sedangkan dokter Raka merupakan produk lokal, berkulit eksotis sekaligus manis.
"Ga bisa, ga bisa ... gua ga bisa diginiin!! Kyaaaaaaaaa!!!!" Masih tetap heboh.
Arum hanya memandang aneh sekaligus geleng-geleng kepala. Merasa sudah terbiasa. Hanya ia yang tahu jika dokter yang biasanya terlihat anggun diluar, bisa bertingkah seheboh ini.
"Katanya dia berasal dari Jogja, sama kayak lo, Rum. Lo yakin ga kenal dokter itu?"
"Jogja itu luas, Ca," balas Arum.
Lagipula sejak dulu Arum tidak tertarik pada kehidupan seorang pria, bahkan teman-teman cowok di kelasnya waktu SMA, Arum hanya bisa mengingat satu atau dua nama mereka, saking begitu apatisnya.
Elsya memicingkan matanya lalu bertekad penuh, "Gua pokoknya harus cari tahu, minimal namanya si ganteng siapa."
"Raka," jawab Arum acuh.
"Hm?"
"Dokter militer ini namanya Raka."
"TADI KATANYA LO GA TAU!!!" Elsya tak sadar sampai nge-ngas, wanita itu kemudian menutup mulutnya melihat Arum tampak kaget, "Maaf, kelepasan."
Arum memutar bola matanya, "Tadi saya ga bilang ga kenal sama dia, Ca. Saya cuma bilang kalau Jogja itu luas." Arum ikutan sewot, menekan kata-kata terakhirnya.
"Tapi gimana ceritanya?" Dokter itu sudah siap telinga untuk menyimak jawaban Arum.
"Saya pernah bertemu dengannya dirumah sakit, eum ... mungkin dua tahun lalu karena waktu itu dia tampak seperti dokter koas." Arum setengah mengingat-ingat.
Arum juga tidak menyangka dapat bertemu lagi dengan dokter itu dengan suasana yang berbeda, awalnya ia juga tak mengingat pria itu sama sekali. Tapi saat pria itu mengenalkan namanya, ia langsung ingat akan kejadian beberapa tahun yang lalu.
Tapi bagaimana pria itu tidak lupa sama sekali? Apakah seorang dokter memang memiliki ingatan yang hebat? Tidak juga, buktinya Elsya cukup pikun dan pelupa.
"Maaf, karena tadi saya sudah berbicara kasar dengan Ibu guru." Dari suara itu terdengar sebuah penyesalan mendalam, yang membuat Arum sekilas melihat sosok dokter muda yang kini menundukkan kepala.
Arum tersenyum tipis, "Tidak masalah, dokter, saya paham."
"Raka Bumantara." Pria itu mulai memperkenalkan dirinya.
"Maaf?" Arum tak ngeh.
Dokter muda itu mengulurkan tangannya, mengajak Arum berkenalan. "Nama Ibu guru?"
"Owh ... Arum," balas Arumi singkat, seraya menyatukan kedua telapak tangannya didepan dada.
______________
KAMU SEDANG MEMBACA
Hey, Danton! (End)
Teen FictionPertemuan awal dengan seorang Komandan Pleton baru pasukan pengamanan perbatasan itu cukup memberikan kesan buruk bagi Arum. Letnan Zyan Athalla Hasanain, pria egois, mau menang sendiri. Serta kelewat narsis bahkan di tahap overdosis. "Saya rasa te...
