"Saya sudah jatuh cinta pada Ibu guru sejak pandangan pertama."
Deg!
Arum seketika mematung.
Dari sekian banyak pasien yang sudah ditangani oleh Raka, gadis ini merupakan satu-satunya yang berhasil meninggalkan first impression yang mendalam baginya.
Dari tutur kata lembutnya.
Serta senyum ramah yang seolah memberi hawa sejuk sejak pertama kali menyapa. Membuatnya takjub, bahkan saat menatap wajahnya hanya sekilas saja.
Seorang gadis yang awalnya ia anggap bodoh, karena rela mengorbankan nyawa demi menyelamatkan anak didiknya.
Bahkan saat akan ditangani, kondisinya bukanlah hal pertama yang ia khawatirkan.
Melainkan jilbab.
Sebuah kain yang menutupi mahkotanya, yang sehelai rambut pun tak akan ia biarkan terlihat, saking berharganya.
Arumi. Dalam bahasa Sansekerta berarti harum dan wangi.
Layaknya aroma parfum kesukaannya, yang meninggal jejak dan tetap membekas sekalipun pemakainya sudah pergi.
Pertemuan singkat yang memberikan kesan tak terlupakan.
Namun bagi Arum, pertemuan mereka kala itu tidaklah lebih dari sekedar kebetulan. Bukanlah sebuah takdir yang juga membawa mereka hingga dapat kembali berjumpa, dipertemukan dibawah langit yang sama, dalam naungan pengabdian di tapal batas Indonesia.
Hanya perkenalkan singkat dan nama, siapapun pasti juga akan mudah melupakannya, bukan?
"Pffttt...." Pipi Arum mengembung lantaran menahan tawa yang akhirnya pecah juga.
Baru kali ini Arum dengar seseorang pria dengan beraninya berucap jika ia jatuh cinta kepadanya? Pada pandangan pertama? Arum sendiri bahkan belum mengerti apa artinya.
Seriously?
Apa sekarang pria itu berniat ingin mengerjainya? Melamar seakan semudah mengajak jalan dan mentraktir seseorang makan.
Raka yang masih setia menunggu jawaban hanya menatap heran. Apa saat ini terlihat seperti hanya bergurau saja? Karena saking gabut ia memilih untuk ngebadut?
"Saya serius, Rum!" Kali ini suaranya terdengar menekan.
Perlahan Arum menghentikan tawanya, lalu menetralkan ekspresi wajah sekaligus mencerna, "Apa?"
"S-saya serius ingin mengajakmu menikah." Ulang Raka terlihat gugup.
Bodoh! Raka sebenernya juga tak tahu apa yang ia pikirkan saat ini.
Pengakuan yang benar-benar tak diduga layaknya tahu bulat yang digoreng dadakan.
Arum masih berharap jika barusan salah dengar, namun terlihat dari raut wajahnya, dokter muda ini tidak sedang main-main dengan ucapannya.
"Sepertinya anda salah paham, dokter," ujar Arum.
Deg!
"Saya sama sekali tidak tahu apa yang terjadi dipertemukan pertama kita waktu itu, hingga membuat anda berharap lebih sampai saat ini. Tapi yang jelas saya sama sekali tidak mengerti apa maksud anda tiba-tiba datang tanpa alasan dan mengajak saya menikah."
"Saya berharap ucapan anda barusan tidak benar-benar serius. Saya minta maaf, tapi menyangkut persoalan menikah tidak akan pernah sesepele itu." Lanjut Arum, berubah tegas.
Ya, sejak awal jika gadis itu menolak Raka tidak akan pernah memaksa dan menanyakan karena apa.
Namun kenapa setelah diungkapkan, ia merasa lega, meski bagaimanapun niatnya hanya untuk memastikan saja. Dan seperti dugaan awalnya, jika tidak akan diterima.
"Dokter ... saya harap anda paham." Pungkas Arum mencoba memberikan pengertian, sehalus mungkin. Merasa tidak enak.
"Ya, tidak apa-apa, setidaknya mulai saat ini saya bisa berusaha berhenti untuk berharap lebih."
Pria itu tersenyum getir.
Jujur Arum merasa sedikit bersalah melihat wajahnya yang seketika berubah muram. Meskipun wajahnya tetap mencoba memberikan senyum, menyembunyikan luka dan perasaan.
Maaf Bu, Raka sepertinya gagal bawa calon mantu.
Ternyata selain malu, hatinya terasa cukup nyeri. Lebih parah dari gebukan selang dari pelatihnya sewaktu dulu ia mengikuti Dikmapa⁶.
Suasana mendadak berubah menjadi canggung.
"Apa Ibu guru mau diantarkan pulang?"
Raka mengeluarkan jurus basa-basi meskipun sebenarnya ia ingin segera mungkin pergi dari tempat ini.
"Eum .... tidak perlu, saya akan langsung menemui Sersan Ilham di langgar, sekalian membantu mengajari anak-anak mengaji. Apa dokter ingin ikut?" Tawar Arum diakhir kata.
Secepat itu kah Arum melupakan semua hal yang mereka bahas barusan, seolah semuanya sudah berlalu? pikir Raka.
•••
Entah itu Danton atau Dokmil. Arum rasa kedua pria itu memiliki aura bahkan beberapa kemiripan yang hampir serupa.
Berbicara blakblakan tanpa berpikir matang terlebih dahulu, bahkan sering saja mengutarakan hal secara tidak sadar. Akan terlihat jelas dari gerak-gerik anehnya jika ada sesuatu yang sedang ia pendam, serta tingkat kepedean tinggi yang ada kalanya malah menjerumuskan dirinya sendiri.
Arum jadi curiga jika sebenarnya mereka adalah dua orang yang sama, hanya saja bungkusnya berbeda versi. Zyan versi impor, sedangkan Raka produk lokal. Kualitas hampir sepadan, tidak perlu diragukan.
"Ternyata danton Zyan ikut datang membantu anak-anak," ucap Arum saat mereka semakin mendekat langgar.
Entah hanya perasaan Raka saja, tapi gadis itu jadi semakin antusias, terlihat dari raut wajahnya. Jadi, apa dugaannya selama ini memang benar? Mengapa ia sangat tidak peka?
Padahal Raka juga pernah mendengar jika Letnan Zyan baru saja belajar mengaji beberapa bulan belakang. Sekarang dia sudah memberanikan diri membantu mengajar anak-anak yang belum mengenal satupun huruf hijaiyah.
Sekarang Raka jadi mengerti apa yang orang lain lihat dari Zyan yang selama ini bahkan tidak pernah ia miliki.
Pria itu selalu memiliki tekad yang tak kenal menyerah dan begitu pintar dalam mengisi celah kekurangannya.
"Ada apa dokter?" Arum lihat pria itu mendadak berhenti berjalan.
"Maaf ... sepertinya saya perlu kembali ke pos kesehatan sekarang, tidak ada yang berjaga, dokter Elsya akan ikut kegiatan penyuluhan di desa seberang," balas Raka.
"Owh, tidak apa-apa." Arum tampak mengerti.
Raka sesegera mungkin berjalan mundur kemudian berbalik, pergi menjauh.
Baru kali ini ia merasa kalah, hatinya lebih dari sekedar nyeri. Bahkan sekalipun tadi ia tidak bertanya, ia sudah mengerti alasan mengapa gadis itu memang pantas untuk menolaknya.
_______________
⁶Pendidikan pertama perwira
KAMU SEDANG MEMBACA
Hey, Danton! (End)
Teen FictionPertemuan awal dengan seorang Komandan Pleton baru pasukan pengamanan perbatasan itu cukup memberikan kesan buruk bagi Arum. Letnan Zyan Athalla Hasanain, pria egois, mau menang sendiri. Serta kelewat narsis bahkan di tahap overdosis. "Saya rasa te...
