Sepasang mata itu terlihat masih fokus membidik target, dari arah kejauhan bersiap dengan busur panah yang ia pegang.
Saat target benar-benar sudah terkunci, karet yang ditariknya semakin kencang menghasilkan gaya pegas dan membuat anak panah terlontar saat ia lepaskan.
Tepat sasaran!
Sebuah apel merah yang diletakkan diatas sebuah pangkal kayu dari jarak 70 meter sudah dikenai anak panah yang menancap tepat di tengah-tengahnya.
"Wah! Anda sangat hebat sepertinya nanti akan sangat diperlukan ketika berburu makan dihutan." Puji salah satu bawahan sang Paman yang sejak tadi menontonnya, "Anda akan menjadi seorang pemburu ulung!"
"Saya ingin menjadi seorang atlet nasional," balas remaja itu mudah.
Membuat seorang pria yang barusan memujinya meneguk air ludahnya susah, ia tidak salah dengar? Keponankan dari pimpinan mereka ingin menjadi seorang atlet? Membayangkan saja sudah membuat mereka kengerian, akan apa jadinya.
Remaja itu meninggal area yang biasa ia gunakan untuk latihan, namun saat tengah berjalan menuju tempat istirahatnya, pandangannya malah terutuju sebuah gubuk tua, tempat dimana sang Paman sering menyiksa orang-orang yang dijadikan sebagai korban kebiadabannya.
"Apa pria itu masih saja ditawan?"
"Ya, ini semua berkat Anda kemarin."
Remaja yang kerap dipanggil dengan nama Tora itu mengeratkan pegangan pada busur panah yang ditangannya, penuh penyesalan, penuh amarah, lagi-lagi ia tak bisa membantah diatas semua perintah Pamannya.
•••
Malam mulai menyapa.
Namun menurut Zyan siang dan malam, semua itu tidak ada bedanya. Sekujur tubuhnya sudah mulai mati rasa, hanya tinggal menunggu waktu ia benar-benar menyerah.
Dirinya sudah siap-siap memasang telinga, kalau saja saat ini para pasukan yang ditugaskan untuk membebaskan nya mulai bergerak.
Disaat-saat krisis seperti ini, bibirnya mengumamkan kalimat indah yang selalu membuatnya jatuh cinta.
Subhanallah. Maha suci Allah.
Walhamdulillah. Segala puji bagi Allah.
Wala Ilaha Illallah. Tidak ada satu Tuhan pun yang disembah kecuali Allah.
Wallahu Akbar. Allah Maha Besar.
Hatinya seolah bergetar dan perlahan menjadi tenang.
Padahal ia tak lebih dari seorang pendosa yang terus mengharapkan didatangkan hidayah untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya.
Ada kalanya ujian atau cobaan yang tengah dihadapi besar namun percayalah pertolongan Allah akan jauh lebih besar.
Giginya kini bergeletuk hebat seolah kedinginan, bulir-bulir keringat dingin terus jatuh membasahi pelipis, pria itu kini demam tinggi. Mungkin karena luka tembaknya mulai mengalami infeksi, atau kemungkinan besar terdapat racun dari anak panah yang kemarin juga mengenainya.
Zyan seketika jadi teringat akan sebuah kisah yang dulu juga pernah Ilham ceritakan padanya, mengenai salah satu sahabat nabi yang sudah dijanjikan masuk surga, Thalhah bin Ubaidillah ra., ksatria perang Uhud yang pernah menjadi perisai Rasulullah Saw.
Ketika pasukan muslim sudah berada didalam kondisi tersudut akibat pasukan Quraisy yang dipimpin oleh Khalid bin Walid—yang saat itu belum masuk Islam—mengambil jalan memutar untuk mengepung dan membuat posisi pasukan muslim yang awalnya akan mendapat kemenangan seketika berbanding terbalik.
Thalhah adalah salah satu dari sahabat terus maju dengan gagah berani, menyadari bahwa Rasulullah hendak menjadi sasaran musuh. Menghalau serangan membabi buta, menggunakan dirinya untuk melindungi tubuh Nabi yang mulia, serta menghadang prajurit-prajurit musyrik sehingga dapat mencegah mereka mengejar Nabi Saw.
Pada tubuhnya terdapat kurang lebih tujuh puluh luka tusukan tombak, sabetan pedang, dan lemparan anak panah, sementara jari-jarinya terputus.
Setelah itu Rasulullah Saw. bersabda. "Barang siapa yang ingin melihat seorang manusia yang berjalan di muka bumi dan telah meninggal dunia, maka lihatlah Thalhah bin Ubaidillah."
Dan sejak saat itu selain menjadi salah satu sahabat yang sudah dijamin masuk surga, Thalhah bin Ubaidillah ra. juga mendapatkan gelar Asy-Syahidu Hayyu atau seorang syahid yang hidup.
Zyan tiba-tiba tersadar dan membuka kelopak mata, saat tangannya yang tadi terikat kebelakang tiba-tiba dilepaskan oleh seseorang. Lega sekaligus merasa ngilu, Zyan akhirnya dapat bernafas lebih leluasa.
Matanya menatap dua orang yang saat ini mencoba membebaskannya, selain cahaya remang, pandangannya mulai terasa kabur.
Entah setelah ini apa yang akan mereka perbuat. Namun, sebuah suara tiba-tiba masuk ke indera pendengarannya.
"Bertahanlah, saya akan menyelamatkan anda."
Remaja ini....
"Apa Paman sudah pergi?" tanyanya pada pria yang lain.
"Iya, beliau biasanya akan kembali setelah fajar dan membawa barang hasil rampasan." Pria yang baru menginjak usia kepala dua itu seketika menatap sosok remaja yang merupakan pimpinan muda mereka dengan cemas. "Apa anda yakin?"
"Saya sudah cukup muak dengan Paman, saya rasa sudah saatnya memberontak. Saya tidak ingin hidup seperti ini sampai mati."
Meskipun keputusannya barusan ia ambil dan belum dipikirkan secara matang-matang, namun tekadnya seketika menjadi bulat karena amarah sudah sudah cukup menguasainya.
"Tolong coba halau Paman, jika beliau bertanya katakan sementara saya akan tinggal bersama Mama dan Elisa."
Pria bernama Emanuel itu berkata sedikit ragu, "Apa anda percaya saya tidak akan berkhianat?"
"Saya percaya karena kau satu-satunya pria yang masih waras di tempat ini, Nuel." Tora menepuk pundaknya, seraya mengulas senyum.
Pandangannya kemudian kembali tertuju pada sosok pria yang saat ini terlihat sangat lemah, cairan merah terus mengalir dari banyak luka ditubuhnya, seolah sudah mandi darah.
Zyan sejak tadi mencoba memfokuskan pandangan meskipun nihil, karena semuanya tampak mengabur.
"Saya akan membalas sebotol air yang waktu itu anda berikan," ujarnya. Zyan hanya dapat menatap nanar senyuman milik remaja dihadapannya.
Remaja yang dulu juga pernah ia temui walau hanya sekali.
Sepasang mata.
Pemanah.
Serta apel merah.
Namanya adalah Antonio Sora.
________________
KAMU SEDANG MEMBACA
Hey, Danton! (End)
Teen FictionPertemuan awal dengan seorang Komandan Pleton baru pasukan pengamanan perbatasan itu cukup memberikan kesan buruk bagi Arum. Letnan Zyan Athalla Hasanain, pria egois, mau menang sendiri. Serta kelewat narsis bahkan di tahap overdosis. "Saya rasa te...
