Ayo akhiri semua ini dan pulang.
Kalimat yang membuat Zyan terus bertekad dan optimis agar dapat bertahan. Setelah ini masih banyak yang harus dikerjakan, perjalanan yang ditempuh juga masih panjang.
Entah mengapa saat ini ada secercah harapan dibenak Zyan, rindu aroma rumah, serta wajah datar milik sang Ayah.
Ia ingin segera pulang.
Masih setengah dipapah oleh Tora, mereka terus berjalan membelah hutan, semakin menuju kearah yang akan menghantarkan mereka ke luar dari labirin berpuluh hektar ini.
Remaja itu dengan sabar membantu Zyan untuk berjalan, meskipun langkahnya begitu pelan.
"Jadi Ibu Danton juga berasal dari Swedia? Apa anda pernah pergi ke sana?" tanya Tora.
"Ya, dulu," balas Zyan.
Remaja itu semakin tertarik, "Woah ... jadi Anda sudah merasakan berkeliling di Stockholm? Mama saya sangat sering menceritakan betapa indahnya ibukota itu. Bangunan serta arsitektur di sana katanya sangat indah dan penuh warna, dikelilingi oleh banyak air yang bersih dan terbuka, serta memiliki banyak taman."
Tora mendeskripsikan tempat itu dengan sempurna seolah-olah ia sendiri pernah ke sana.
Remaja itu tak henti-henti berdecak kagum, saat membayangkan. Apakah nanti ia benar-benar bisa sampai ke sana?
Mendengarnya Zyan hanya tersenyum tipis, dirinya sudah tak sanggup lagi untuk menanggapi ucapan remaja itu.
Krak!
Langkah mereka tiba-tiba berhenti.
Zyan segera berbalik badan, mendapati seseorang yang sejak kapan juga mengikuti langkah mereka dari arah belakang, seraya ikut menodongkan pistol.
"P-paman..."
Pria itu menyunggingkan senyum yang seperti biasa tampak ramah, menyapa lembut, sehingga bisa saja dapat meninggalkan kesan baik bagi orang yang baru bertemu dengannya. Tak tahu saja, jika senyum menipu itu adalah milik seorang pria kejam yang tak berbelas kasih.
"Saya sengaja mengulur waktu, supaya kalian sudah berjalan jauh. Sayang sekali, kita harus bertemu lagi," celetuknya.
Zyan segera menarik tangan Tora kebelakang badannya, mengamakan anak itu.
Diego menatap kearah Tora yang nampak ketakutan, "Paman sudah berkata kau tidak akan pernah bisa semudah itu memutuskan untuk berhenti dan keluar bebas dari tempat ini, tetap bersama paman maka kau akan aman."
Mata Tora juga menatap tajam, bagaimana pria biadab itu dapat menyusul mereka, apakah rencana mereka bocor?
Tora sangat yakin jika Emanuel tidak akan melakukannya, selama ini ia sudah mengenalnya dengan baik, hingga tak ragu sudah berikan semua kepercayaannya. Meskipun tampak bodoh namun ia begitu baik dalam menjaga sebuah rahasia, meskipun harus bertaruh nyawa. Apa mungkin ia salah?
Tora jadi khawatir sang Paman melakukan sesuatu yang buruk terhadap pria itu, bisa saja untuk mendapatkan apa yang diinginkan ia tidak akan ragu menyingkirkan satu atau dua nyawa yang tak berarti baginya.
"Berhenti bermain-main dan ayo pulang!" Titah Diego pada keponakannya, namun Zyan segera menepiskan kasar tangan Diego yang akan mengajak Tora yang masih berada dibelakang, dengan tatapan mata awas. Membuat pria itu segera tertawa.
"Sepertinya kau lah yang seharusnya lebih perlu dikhawatirkan, Letnan. Lihat saja, anda sedang sekarat." Berbeda dari perkiraannya ternyata Zyan lebih lama untuk bertahan, ia kira pria itu akan segera mati namun saat ini dia masih bisa berdiri seolah luka itu bukan apa-apa baginya.
Diego berdecak miris, melanjutkan ucapannya. "Sangat disayangkan sekali jika nanti hutan ini harus kembali memakan korban. Seharusnya akhiri semua ini secara baik-baik dan bernegosiasi, setidaknya kali ini tidak ada yang harus mati."
"Meskipun ada yang harus mati, kemungkinan besar itu adalah anda!" balas Zyan, memicingkan mata.
"Anda cukup percaya diri, untuk orang yang sebenarnya lagi akan mati." Diego kembali berdecak.
"Mereka semakin dekat, Letnan. Katakan akan terus maju melawan mereka yang semuanya menggunakan senjata, atau kembali menyerahkan diri." Sambungnya.
Zyan menyunggingkan senyum, "Sayang sekali, jika ada pilihan mati, saya pasti akan memilih itu."
Diego mengertakkan rahang. Mengapa para prajurit sama saja? Memangnya apa yang membuat mereka sangat yakin jika mereka akan tewas secara terhormat.
Dor!
Zyan terbelalak, lantaran kaget.
Remaja yang berada di belakangnya nampak gemetar, baru saja melepaskan sebuah peluru tanpa aba-aba kearah Diego hingga mengenai pundak sebelah kanannya, hingga membuat pria itu kini mengerang kesakitan.
Dengan masih mencerna, segera mungkin Zyan merebut senjata rakitan yang remaja itu pegang, berbahaya jika berada ditangan orang yang belum berpengalaman.
"Apa yang kamu--"
"Cepat pergi, Letnan!" Potongnya, kali ini Tora yang menginterupsi duluan. Ingin memanfaatkan keadaan.
Para antek-antek Diego semakin mendekat. Keduanya mulai bergerak dengan Tora yang memimpin jalan paling depan.
"Sial!" Diego mengeraskan rahang, karena tangannya segera mati rasa untuk kembali mengangkat senjata yang kini jatuh ditangannya, bodohnya ia terlalu lengah dan kalah langkah. Kemudian memerintahkan para anak buahnya yang baru sampai. "Kejar mereka sampai dapat!"
"Baik, Bos."
"... dalam keadaan tak bernyawa!!" Sambungnya, penuh penekanan dengan mata beringas, yang kembali disanggupi anak buahnya.
Dor!
Dor!
Badai peluru kembali menghunjam.
Langit malam yang remang kembali menambah momen mencekam dengan sahutan langkah kaki yang memegang senjata rakitan, dengan beringas melakukan pemburuan.
Dor!
Timah panas pertama yang Zyan tembakkan dengan akurat mengenai salah satu pemberontak itu. Padahal kondisi tubuhnya terlihat sangat tidak memungkinkan. Tora takjub, kali ini ia kelihatan payah karena lebih lihai menggunakan panah.
Baku tembak itu sekarang mulai tak terelakkan, sahutan peluru semakin menggema di kegelapan malam tengah hutan.
Pyush!
Secepat angin peluru itu akan mengenai tangan sebelah kiri Zyan, akan tetapi pria itu dapat menghindar dan membalas tembakannya. Insting yang benar-benar sudah matang.
Medan yang tak mendukung ditambah dengan tanah yang becek nan lengket karena kemarin habis diterpa hujan itu membuat mereka kesusahan berjalan.
Namun keuntungan dari hutan yang cukup lebat ini, banyak sekali pohon besar yang bisa digunakan sebagai wadah persembunyian. Berkamuflase dalam kegelapan.
Sebelah tangan Zyan memegang perutnya yang kembali mengeluarkan darah. Sial! Situasi benar-benar tidak mendukung, ia sudah tidak kuat lagi.
Dor!
"Aaakhh!"
Tanpa diduga sebuah peluru melesat dengan begitu cepat kearahnya.
______________
KAMU SEDANG MEMBACA
Hey, Danton! (End)
Novela JuvenilPertemuan awal dengan seorang Komandan Pleton baru pasukan pengamanan perbatasan itu cukup memberikan kesan buruk bagi Arum. Letnan Zyan Athalla Hasanain, pria egois, mau menang sendiri. Serta kelewat narsis bahkan di tahap overdosis. "Saya rasa te...
