XXI. Puisi dari Tapal Batas

3.4K 210 2
                                        

Sebait kata takkan mampu lukiskan keindahanmu
Laksana permata zamrud hijau yang berkilau
Begitu syahdu
Pesona tak pernah hilang darimu

Ibu....
Disini kami berdiri, kagum akanmu
Dengan penuh haru
Bertekad penuh ingin menjagamu
Laksana batu karang yang teguh
Takkan kami biarkan wajahmu terlihat sendu.

Wahai Ibu...
Senyummu hangatkan kalbu
Pelukanmu belenggu yang selalu dirindu
Rumah berteduh
Tempat menetap hingga akhir waktu
Tumpah darahku!

Ibu....
Untukmu
Kupersembahkan semangatku.

___________

Tepuk tangan meriah segera menyambut bait puisi terakhir yang dipenuhi oleh semangat yang berkobar-kobar.

"Bagus sekali, Girona!" Arum tersenyum penuh haru saat memuji anak didiknya itu.

"Bapak Danton yang mengajari saya, Bu guru," balas Girona.

Zyan yang sejak tadi berdiri menyaksikan disudut ruangan hanya tersenyum bangga, seraya mengangkat dua jempolnya. Padahal ia hanya membantu saja, selebihnya itu adalah hasil karya mereka.

Akhirnya Zyan lihat gadis kecil itu kembali menjadi sosok yang ceria, murah senyum, dan penuh semangat. Berbeda dengan awal-awal saat ia temui dulu, Girona yang pemurung bahkan sedikit pendiam.

"Apa ada yang belum maju?" tanya Arum, melihat para anak didiknya, sebelum ia menyadari ada satu yang sedikit luput dari pandangannya.

"Tias?"

Anak itu terlihat hanya duduk diam dan menyendiri di pojok. Aneh, berbeda dari biasanya. Tias yang nampak selalu aktif dan banyak bicara, pasti tak akan pernah melewatkan kesempatan untuk mengomentari langsung teman-temannya.

Zyan dan Arum sejenak saling pandang.
Kedua orang itu nampaknya sama-sama mulai menyadari keanehannya.

Zyan spontan mengedikkan bahu, juga tak tahu apa-apa, saat Arum melempar kode ekspresi wajah mencoba menanyakan alasannya.

"Nak...." Pria itu akhirnya berjalan mendekat kearah Tias.

Anak itu masih diam, wajahnya menunduk, seolah tak berani menatap sepasang mata milik Zyan. Apa mungkin ia ada masalah?

Arum ikut mendekat, menyentuh kedua bahu anak muridnya itu, "Tias ... ada apa?" Arum berucap lembut.

"Mengapa Ibu guru tidak bilang kalau sebentar lagi akan pulang?" tanyanya lirih.

Deg!

Ucapan Tias membuat Arum seketika terdiam, suasana kelas juga tiba-tiba menjadi gaduh.

"Ibu guru akan pergi meninggalkan kita?"

"Lalu siapa nanti yang akan mengajari kita menulis dan menghitung?"

"Apa mungkin Ibu guru sudah tidak sayang kita lagi?"

Anak itu semakin menunduk, mengigit bibir bawahnya, seolah mati-matian menahan tangis, "Ibu guru bilang akan menunggu saya sampai pintar membaca Al-Qur'an," ujarnya setengah parau. "Hiks...."

Tangisnya akhirnya tak bisa lagi ia tahan, Zyan kemudian segera mendekap dan menepuk punggung sempit itu untuk ditenangkan.

Lidah Arum terasa kelu sekali, matanya seketika berkaca-kaca menatap satu per satu anak didiknya juga melihatnya sendu. Hal yang sejak dulu Arum benci, setiap ada pertemuan pasti akan menemui yang namanya perpisahan.

Hey, Danton! (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang