XX. Mimpi

3.4K 221 4
                                        

Pukul tiga dini hari, Elsya ikut terbangun dari tidurnya, karena sejak tadi mendengar suara Arum yang tengah mengigau.

"Ayah...."

"A-ayah ... pulang?"

Elsya mencoba menyadarkan gadis itu, air matanya nampak menetes, Arum menangis. Entah seburuk apa yang ia mimpikan dalam tidurnya.

"Rum...." Panggil Elsya, menepuk pipinya pelan, terasa dingin, bibirnya juga tampak pucat, apa gadis itu terserang demam?

Arum mengerjap perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Elsya yang menatapnya khawatir.

"Ada apa? Lo ga enak badan?" tanya Elsya.

"Hiks...."

Arum langsung memeluk tubuh Elsya yang sesaat mematung.

"Aku mimpi ketemu sama Ayah, Ca. Beliau bilang agar kembali belajar ikhlas dan melepaskan. Hiks ... aku belum bisa, masih terlalu berat." Terangnya, terisak pelan.

Elsya kemudian balas memeluk gadis itu, dan mengelus punggungnya pelan, mencoba menenangkannya.

Seorang gadis kecil yang usianya belum mencapai sepuluh tahun, dipaksa untuk melepaskan sosok pria yang paling ia cintai bahkan selalu ia nanti kehadirannya.

Elsya bisa mengerti bagaimana rasa sakit yang dialami oleh Arum waktu itu. Trauma kehilangan yang begitu mendalam, serta merelakan sesuatu yang amat berat.

"Udah mendingan?"

Arum mengangguk kecil, seraya meraih segelas air hangat yang diberikan oleh Elsya.

Saat ini ia sudah tampak tenang, namun apapun yang berkaitan dengan sang Ayah pasti akan selalu sensitif baginya.

"Maaf, aku jadi bangunin kamu."

Elsya tersenyum, "It's okay, bentar lagi juga subuh."

Semenjak tinggal bersama Arum, Elsya juga sudah terbiasa bangun pagi-pagi, dan mengisi dengan lebih banyak aktivitas, seperti olahraga pagi, membuat sarapan, atau beres-beres sebelum akan berangkat tugas.

"Ngomong-ngomong, udah mulai pamitan sama anak-anak?" tanya dokter muda itu.

Arum menghela nafas saat kembali teringat hal itu. Rasanya ingin menepis fakta bahwa minggu depan ia akan segera dipulangkan. Berharap bisa tinggal lebih lama di tempat ini, setidaknya disisa waktu tugasnya, tiap detik tidak berlalu dengan cepat.

"Masih belum siap," jawab Arum.

Elsya geleng-geleng, sebelum kembali memeluk gadis itu. "Gua bakalan kangen banget sama lo," ujarnya, bermuka lesu.

"Tunggu gua ya? Nanti gua samperin lo ke Jogja, terus kita muncak ke Bromo, okay?" Sambung Elsya.

Arum terkekeh pelan kemudian mengangguk, mengiyakan.

Setelah ia pulang, Elsya mungkin akan segera menyusul pulang dua minggu setelahnya, karena kedatangan mereka ketempat ini memang hampir bersamaan.

•••

Setelah berjalan lebih dari tiga bulan, program pembangunan akses air bersih dengan mengebor lahan tak jauh dari pemukiman penduduk, sudah terlihat semakin mengalami kemajuan.

Rencananya nanti, air akan dialirkan lebih dari enam desa yang sebelumnya masih kesulitan menjangkau tempat untuk mendapatkan air bersih.

"Apa anak itu pekerja baru?" tanya Zyan.

Ilham melihat kearah yang ditunjuk oleh sang Danton, pada seorang remaja laki-laki yang ikut andil membantu para pekerja.

"Sepertinya hanya ingin menolong saja, Danton. Saya juga baru pertama kali melihatnya," jawab Ilham.

Zyan mangut-mangut, seraya melepaskan kata mata hitamnya.

Pantas saja, sejak tadi ia terlihat celingak-celinguk kebingungan. Selain tampak mencurigakan dengan mengawasi situasi sekitar.

"Apa kau tidak sekolah, nak?"

Remaja yang mungkin berusia kisaran enam belas tahun itu sedikit tersentak saat Zyan tiba-tiba menghampirinya, dari gerak-geriknya terlihat gugup, seolah menyembunyikan sesuatu hal.

"Ah, iya .... d-dulu pernah," ujarnya gelagapan.

Wajahnya tampak pucat, mungkin perkejaan ini terlalu berat baginya, terlebih cuaca yang tengah terik.

"Ingin minum dulu?" tawar Zyan, dengan menyodorkan sebotol air putih yang berada ditangannya.

Zyan tersenyum melihatnya meraih air itu dan meneguknya dengan rakus.

Jika diperhatikan, tubuh remaja ini kelihatan lebih kurus dari anak seusianya, disekitar wajahnya banyak sekali bekas goresan luka serta lebam disudut bibir.

Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Bukankah luka itu akibat pukulan ataupun kekerasan?

Remaja itu masih menunduk, seolah tak berani menatap wajah Zyan, "T-terima kasih--"

"Danton!"

Belum sempat Zyan ingin bertanya lebih banyak, seperti biasa Ilham kembali menghampirinya dengan tergesa, seperti membawa laporan terbaru mengenai situasi medan perang.

Padahal Zyan baru saja berjalan beberapa langkah, Serda itu sudah mulai mengekor saja.

"Ada apa lagi kali ini?" gumam Zyan, menghela nafas.

Diluar sana pasti banyak orang yang mengira jika Zyan sudah menyuap Ilham dengan bayaran fantastis agar selalu mematuhinya dan mengambil sumpah setia.

"Saya rasa Anda tidak akan melewatkan kesempatan ini." Ilham berucap seraya full senyum, jujur ia juga hampir saja lupa.

"Hari-hari terakhir bersama Bu guru Arum." Bisiknya kemudian, menggoda.

Ah ya, Zyan baru ingat.

Bukankah gadis itu akan segera dipulangkan?

"Sepertinya siang ini saya ada janji mengajari anak-anak membaca puisi. Sersan, jadi tolong ambil alih tugas untuk mengawas disini," ujar Zyan, nyengir.

"Siap, laksanakan! Hati-hati, Danton."

Zyan hanya memberikan sebelah jempolnya kearah anak buahnya yang paling setia itu. Bisa saja dia, pikirnya.

Danton ya?

"Kenapa?" Ilham melihat remaja yang ikut mendengarkan pembicaraan mereka barusan tampak mengingat-ingat.

"Jadi dia yang namanya Letnan Zyan, Om?" tanyanya.

Om???

Ilham setengah melotot.

Bahkan usianya baru saja memasuki kepala dua. Apa ia tampak setua itu? Okelah, pria sejati terkadang memang harus terlihat lebih dewasa.

"Iya, memangnya ada apa?" tanya Ilham, sedikit ketus.

Meskipun Zyan sedikit aneh baginya, namun pria itu merupakan sosok Komandan cukup disegani di kalangan prajurit. Hanya Ilham yang boleh tahu seabsurd apa sebenarnya danton mereka itu.

"Tidak, saya mendengar dia sangat terkenal, bukankah dia peraih lulusan terbaik dan pernah ditugaskan memimpin operasi penumpasan teroris di pulau Sebiru beberapa waktu silam?" ujarnya sedikit menggebu.

Ilham mengernyitkan dahi, ia sendiri bahkan tidak pernah mengetahui akan hal itu.

"S-saya hanya mengetahuinya lewat kabar yang tersebar." Lanjut remaja itu meluruskan, sedikit gelagapan.

Ilham beohria saja, rumor memang mudah sekali untuk tersebar, pikirnya.

"Dia memang kelihatan galak, tapi sebenarnya dia pria yang baik dan mudah diajak bicara." Ilham menepuk beberapa kali pelan pundak remaja itu.

"Siapa namamu?"

"Antonio."

"Bukankah begitu, Nio?" tanya Ilham, kemudian merangkul pundak anak itu, sok akrab.

Remaja itu hanya tersenyum samar, menatap sebotol air tersisa setengah yang masih ia pegang.

Ya, bahkan baru kali ini ada seseorang memperlakukannya sama, selayaknya manusia.

_____________

Hey, Danton! (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang