XVII. Pengakuan dokter Raka

3.6K 221 9
                                        

"Sekarang lo harus jujur sama gue, Rum!"

"Bilang sejujur-jujurnya!!"

Arum yang baru ingin mengistirahatkan tubuh dan pikiran, langsung saja di bombardir oleh pertanyaan dari dokter muda yang sejak tadi menuntutnya untuk berucap jujur.

"Sejak kapan lo juga tertarik sama Letnan Zyan?" tanyanya secara terang-terangan.

"Maksud?" Arum tidak mengerti.

Elsya memutar bola mata. Tidak perlu berpura-pura, batinnya.

Sebenarnya saat pulang dari pos kesehatan tadi, ia tak sengaja lewat dan melihat Arum dan Zyan yang tadi tengah berbincang.

Ya, siapapun pasti akan menjadi iri melihatnya.

Pemandangan indah, antara sepasang pria dan wanita, serta seorang anak yang berada ditengah-tengah mereka, bak keluarga kecil bahagia yang tengah menikmati momen matahari tenggelam.

Luar biasa!

Elsya ikut duduk disamping Arum, "Kenapa lo ga bilang aja sih? Tadi gua lihat, lo sama Letnan lagi piknik kan?"

Deg!

Wajah Arum terlihat memucat, lalu segera memegang kedua tangan dokter itu, "Ca, itu bukan seperti yang kamu pikirkan."

Elsya seketika berdecak, "Iya, gua paham."

Apa?

"Kalau kalian bukan lagi ngedate kan? Ada bocil ditengah-tengah kalian, gua juga lihat Sersan Ilham mengawasi dari belakang," lanjut Elsya, acuh.

Fyuhh ... syukurlah, gadis itu rupanya tidak salah sangka. Namun apa maksudnya tadi jika ia paham?

"Rum ... lo tau kan, kalau gua udah anggap lo kayak saudara sendiri? Walaupun kita baru aja ketemu dan kenal saat tugas ditempat ini, tapi jujur lo bahkan jauh lebih peduli dan tulus, daripada mereka yang udah dari dulu ngaku-ngaku jadi sahabat gua." Kali ini Elsya memegang kedua pundak milik Arum.

"Gua bahkan berencana, setelah ini sampai kapanpun ga bakalan pernah hilang komunikasi sama lo. Hanya karena satu cowok gua ga bakalan pernah rela mempertaruhkan hubungan pertemanan kita. So, gua sih gapapa Letnan Zyan buat lo aja."

Wait ... Wait...!!

Ucapan terakhir Elsya membuat Arum seketika gagal paham. Terlebih saat ia mulai cengar-cengir sendiri, "Lagipula gua masih punya dokter Raka. Dia juga ga kalah ganteng sama Letnan kok!"

Tuh kan, jadi salting.

Ditambah pipinya memerah lagi.

Kini Arum sudah mengerti arah pembicaraan ini akan dibawah kemana.
Ia sudah bersiap tutup telinga, untuk berjaga-jaga Elsya akan kembali berteriak karena kebaperan-nya.

Tolong ... sepertinya dokter ini juga perlu dirawat intensif karena gejala bucin emergensi yang sudah sulit untuk ditangani.

•••

"Kapan mau nikahnya?"

"Kamu udah punya calon kan, le?"

Pertanyaan maut yang membuat Raka serasa ingin menghilang sejenak dari dunia ini. Lelah mental!!!

Untung saja di penugasan pertamanya sebagai dokter tentara ia langsung ditempatkan di titik terujung kepulauan Indonesia. Walaupun memang, ia masih kerap saja diteror lewat sambungan telepon.

Hey, Danton! (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang