III. Hanya pencitraan

7.5K 344 9
                                        

Sebenarnya ada apa pria itu dengan kacamata hitam keramatnya, sampai tidak mengenal tempat bahkan situasi. Apa mungkin wajahnya terlalu silau sehingga harus sedikit diminimalisir dengan penggunaan kaca mata?

Pria bermuka badak.

Fix, Arum benar-benar tidak menyukainya.

"Saya rasa tempat ini bukan pantai atau area liburan lainnya." Gadis itu tampaknya tengah menyinggung.

Arum memang berbakat sekali menjaga wajah netral, bahkan hanya dapat dihitung perubahan ekspresi yang tergambar saat ia tak suka.

Menyindir dengan suara tenang serta senyum simpul yang tersimpan beribu makna di dalamnya adalah bakat terpendam yang tidak semua orang punya.

"Tapi mau bagaimana lagi ya, mata saya lebih nyaman menggunakan kacamata," balas Zyan yang langsung ngeh.

Kenapa tidak bilang saja mau tebar pesona?

Arum jengkel sendiri dibuatnya.

Hey, cahaya matahari se-pagi ini tidak akan sampai membuat orang terkena efek radiasi!

"Anda sendiri apa tidak silau, Bu guru?"

—karena ketampanan saya haha.

Kepedean Zyan tampaknya memang sudah diluar nalar. Sesekali memang perlu di gampar supaya tersadar.

Lihatlah, aura-aura fakboi kelas kakap saat ini dapat terbaca dengan jelas.

Bagaimana bisa pria model seperti ini lulus jadi perwira tentara? Arum pusing kepala sendiri saat memikirkannya.

Gadis itu sangat yakin jika saat seleksi masuk tentara nilai psikotesnya adalah yang paling rendah. Kejiwaannya tampaknya sedikit bermasalah, dapat dilihat dari sindrom kepedean akutnya.

"Danton Zyan perhatian sekali, sampai ingin bersusah payah mengantar kami ke desa sebelah." Elsya tampaknya selalu melihat Zyan dengan sudut pandang positif.

Perhatian dari mana??? Pria itu hanya kurang kerjaan sekaligus pencitraan!

Kagum, takjub, terpana, terpesona. Lihat saja, dagu pria itu bahkan semakin terangkat ke atas, karena selalu saja dipuji dan dipuja.

"Keselamatan kalian adalah kewajiban bagi saya, sebagai sosok Danton yang peduli serta murah hati, jadi tidak perlu repot-repot untuk mengapresiasi," ujar Zyan, kini berlagak sok gentleman.

Sumpah, Arum ingin muntah.

Meskipun para bawahannya kembali menawarkan diri agar mereka saja yang mengawal, pria itu bersih kukuh agar tetap dirinya sendiri saja. Terlihat jelas kepala batu memang.

Meskipun alasan lain yang membuat Arum tak bisa menolaknya adalah teror yang dilakukan oleh pemberontak akhir-akhir ini semakin marak terjadi.

Akan berbahaya jika kedua wanita dibiarkan keluar masuk hutan sendiri tanpa penjagaan. Mereka berdua adalah warga sipil yang harus dilindungi, terlebih juga tengah melakukan tugas pengabdian.

•••

Beberapa warga desa menyambut kedatangan mereka dengan ramah seperti biasanya.

Alberto, kepala desa Wahema tampaknya sudah cukup kenal dengan Zyan, "Apa kabar, Danton?"

"Sehat, Pak Alberto. Bagaimana keadaan warga?" tanya Zyan menyambut uluran tangannya.

"Sudah lumayan ada kemajuan, Danton. Beberapa bahkan sudah sembuh."

"Syukurlah."

Kasus penyakit endemik malaria ditempat ini memang masih marak sekali terjadi, terlebih pada musim penghujan seperti sekarang. Akibatnya banyak warga desa terjangkit dan perlu dirawat.

Hey, Danton! (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang