XLII. Rumah untuk bepulang

6.6K 251 10
                                        

Entah bagaimana lagi cara Zyan ingin menggambarkan rasa syukurnya saat ini.

Ia merasa sangat bahagia.

Setelah sekian lama, akhirnya ia dapat memegang tangan gadis itu tanpa kata batasan belum halal diantara mereka.

Zyan dapat merasakan usapan lembut di kepalanya, seketika terbuai akan kenyamanan yang dibuatnya.

Sepasang mata indah yang biasanya tak pernah berani menatap mata lawan jenis, selain mahramnya dengan leluasa. Kini, ia bisa merasakan mata itu yang juga menatapnya dengan penuh cinta.

Seperti sebuah hadiah terindah baginya, anugerah dari Sang pemilik cinta. Wanita yang beberapa saat lalu sudah sah menjadi istrinya, pasangan hidupnya, dan harapan terbesar bagi Zyan saat ini dapat terus bersamanya dalam waktu yang lama.

"Saya ingin segera pulang dan melihat rumah kita, Diajeng. Saya sudah bisa merasakan betapa indahnya itu."

Liquid bening mengalir dari pelupuk mata Arum, "Sebentar lagi setelah Abang sembuh, kita akan pulang."

Beberapa waktu yang lalu setelah ijab qobul pernikahan mereka, seperti yang dikhawatirkan diawal dokter mengatakan terdapat penurunan pada kondisi Zyan sekarang.

"Ketempat yang hanya akan ada kita berdua di sana?" tanya Zyan.

"Ya."

"Salah."

"Apa?"

Zyan hanya tersenyum tipis, "Kamu salah. Kemanapun saya ingin mengajakmu pergi walaupun hanya berdua, bahkan ketempat paling sepi, bukankah ada Allah yang akan selalu mengawasi? Ada malaikat pencatat amal yang juga ikut di kanan dan di kiri."

Kini Arum tersenyum, membenarkan. Pria itu sepertinya ingin sedikit mencairkan suasana.

Tangan Zyan dingin sekali, Arum bisa merasakannya saat menyentuh pria itu. Matanya meredup, beberapa kali bahkan mengerjap lemah, seperti ingin segera tertutup.

Arum takut.

Zyan juga bisa merasakan genggaman tangan Arum yang erat semakin terasa hangat, gadis itu memeluknya yang tengah berbaring dengan pelan serta meletakkan sebelah telapak tangan di dadanya.

"Diajeng..."

Entah kenapa Zyan merasa ada cairan hangat yang kini membasahinya. Gadis itu menangis?

Sejak tadi Arum merasa mempunyai firasat yang buruk. Ia takut jika pria itu akan kembali meninggalkan nya sendirian. Arum merasa trauma akan kehilangan.

Zyan juga tidak ingin berjanji. Merasa khawatir jika kali ini terlalu sulit untuk dapat kembali untuk ditepati.

Zyan tidak ingin membuat gadisnya itu semakin kecewa dan terluka untuk kedua kalinya. Air mata itu seolah menyakitinya.

"Kamu tahu, Diajeng?" Zyan mencoba mengalihkan pembicaraan mereka yang mulai kearah sensitif.

"Saat awal kita bertemu, kamu adalah gadis pertama yang membuat saya merasa penasaran hingga terus mencari tahu tentang dirimu. Ilham mengatakan jika kamu adalah gadis baik-baik, yang sama sekali tidak bisa disamakan dengan di masa lalu saya. Kamu jelas berbeda. Sejak saat itu saya merasa jika ada jarak terjauh yang membatasi kita. Dan jarak itulah yang coba saya dekatkan."

"Awalnya saya akan ikhlas dan rela jika pada akhirnya kamu bukanlah milik saya. Kamu memang lebih pantas bersama dengan laki-laki yang sejak awal sudah baik dan paham agama. Saya tidak pernah berharap hari ini akan menjabat tangan Kak Dafa, dan berucap dengan penuh kesungguhan untuk mengikatmu dalam ikatan sah pernikahan.

Namun, saya rasa saat itu mungkin adalah awal dari segalanya, disaat saya merasa kesal dan memiliki rasa penasaran mengapa dirimu menolak jabat tangan saya, seorang muslimah, Islam, niat hijrah, peran Ilham yang selalu berusaha meluruskan niat saya, lalu memilih menjauh untuk sementara."

Hey, Danton! (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang