«Ekstra Part III : Takdir terindah»

10.2K 305 10
                                        

"Arzayyan..."

Kaki kecil itu melangkah dengan begitu cepat dan lincah, kearah seorang pria yang kini berlutut seraya merentangkan tangan ingin menyambut pelukannya.

Dari arah belakang tampak juga seorang wanita yang kini menyusul dengan langkah tergesa-gesa, sejak tadi sudah dibuat ketar-ketir karena tingkah putra kecilnya itu yang kelewat aktif.

"Yayah ... yahh." Celotehnya tak jelas.

"Prajurit kecil Ayah!"

Zyan meraih tubuh mungil itu, mencium pipi tembam putranya yang kini masih berusia satu setengah tahun, aroma bayi seketika memenuhi indera penciumannya. Mencoba mengikis rasa rindu yang sudah ia tabung sekian lama.

Arum tersenyum.

Sepertinya biasa wajah wanita itu nampak selalu menyenangkan sekaligus menenangkan.

"Abang...."

Zyan ikut membawa wanita itu kepelukannya, mencium kepalanya beberapa kali.

Arum meneteskan air mata.

Merasakan kerinduan yang sangat mendalam. Penantian tak berkesudahan serta harapan jika masih ia yang dijadikan pria itu sebagai rumah tempat berpulang.

Arum rasakan sensasi bahagia luar biasa sekaligus haru, dapat kembali merasakan pelukan ternyaman milik Zyan.

Dia berhasil pulang.

Ke rumah mereka.

Bersama Arum dan Arzayyan yang setia menunggunya, menghitung mundur hari, hingga tiba saatnya ia kembali.

Pria itu kini tampak semakin dewasa, bukan lagi hanya sekedar menjadi sosok seorang suami baginya, namun juga Ayah bagi malaikat kecil mereka.

Anggota baru yang sangat mereka nantikan kelahirannya, dunia menyambutnya untuk bernafas dan menghirup oksigen bebas sejak satu setengah tahun yang lalu, membawa kebahagiaan yang bertambah bagi keluarga kecil mereka.

Arzayyan.

Si kecil itu kini tampak menggemaskan dengan mengenakan seragam loreng yang sekilas mirip dengan sang Ayah. Serta tambahan kaca mata hitam, yang membuat siapapun tidak perlu lagi bertanya tentang hubungan Zyan dengan anak di gendongan itu.

Sangat mirip.

Seperti bentuk jiplakan.

Anak itu seolah gambaran nyata Zyan saat masih kecil. Bukan hanya wajahnya, tengilnya juga sama, membuat Arum sering kali mengelus dada. Namun, mereka juga adalah harta sekaligus sumber kebahagiaan terbesarnya.

"Terima kasih sudah mau bersabar dan setia, Bunda Zayyan. Maaf jika penantiannya selalu melelahkan." Bisik Zyan pelan, seraya menciumi pucuk kepala istrinya.

"Terima kasih juga, karena sudah kembali dengan selamat, Kapten," balas Arum, ikut tersenyum.

Sekarang ini bukanlah lagi 'Hey, Danton!' melainkan sudah 'Assalamu'alaikum, Danki!'

Satu balok kini kembali bertambah di kerah seragam loreng milik pria itu. Menunjukkan jika pangkatnya sudah naik lagi menjadi Kapten.

"Uh, Ayan uga, yahh." Bibir bocah itu kembali berceloteh, masa ia bisa dilupakan?

Keduanya terkekeh.

Sesaat tidak sadar akan adanya si kecil ditengah-tengah mereka, karena sibuk bermesra. Kemudian mencium pipi tembam itu secara berbarengan.

•••

"Apa Zayyan sudah tertidur?" tanya Zyan pada Arum yang kini menghampirinya duduk di sofa ruang tengah.

Hey, Danton! (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang