Menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, Suzy sudah mulai bersiap dengan tidur nyenyaknya. Menatap langit-langit kamar yant sengaja ia cat dengan warna langit disiang hari. Suzy tidak terlalu suka kegelapan sejujurnya.
Pikirannya kembali tertuju pada tingkah empat anak Oh Sehun. Suzy tidak tidak memiliki banyak waktu dengan orang tuanya dulu, dan dengan keluarganya yang sekarang Suzy juga tidak terlalu dekat.
Jika orang tuanya masih ada mungkin Suzy juga akan semanja mereka, lebih mungkin.
"Ma, ikat rambutku kemana?" Suzy berteriak dari dalam kamar, sibuk membongkar meja riasnya hanya untuk menemukan dimana keberadaan ikat rambutnya.
"Yang mana?" Suara wanita paruh baya yang masih sangat merdu dan sangat cantik menurut Suzy terdengar dari arah dapur. Menyahut tak kalah nyaring dengan suara penggorengan yang samar-samar terdengar.
"Yang coklat. Mama lihaaat?" Suzy yakin ia sudah meletakannya di atas meja rias. Kenapa sekarang tidak ada? Kemana perginya?
Diam untuk beberapa saat, Suzy tidak mendengar lagi balasan dari sang malaikat tanpa sayap. Melongokan kepalanya dari pintu kamar, Suzy khawatir sejujurnya. "Ma?"
"Hehe, sedang mama gunakan. Ambil saja di sini, bawakan mama yang lain. Jepitan juga tak apa."
Raut wajah Suzy langsung berubah datar. Memang tidak dapat diprediksi kelakuan ibunya ini. Kembali masuk untuk mengambil satu jepitan berwarna biru muda dan berlari pelan menuruni anak tangga.
"Pa. Dimana?" Kali ini Suzy berteriak memanggil sumber uang bulanannya. Pria tertampan yang pernah Suzy lihat dalam hidupnya.
"Dapur, Sayang."
Bagaimana Suzy tidak jatuh cinta pada kedua orang tuanya? Suzy tidak perlu lagi mencari kebahagiaan di luar sana karena ia sudah mendapatkannya dari istana kecilnya.
"Ma, aku ambil ya." Berdiri di belakang ibunya, Suzy mulai menarik pelan ikat rambut yang ia cari setengah mati sedari tadi.
"Rapikan lagi rambut mama ya."
"Baik, Boss." Suzy mengangguk semangat. Mengantongi sisir di kemeja sekolahnya dan menatap sang ayah tercinta dengan senyum lebar. "Pa, biasa. Ikatkan ya." Mengulurkan ikat rambut beserta sisir yang ia bawa dari dalam kamar kepada ayahnya yang langsung sigap berdiri dari kursi meja makan, dan berjalan mendekati dua wanita kebanggaannya.
"Seperti biasa?"
"Setengah saja, Capt."
"Okay, Capt."
Dan seperti mereka sekarang, Nyonya Bae yang tengah memasak dengan Suzy yang mengikatkan rambutnya. Dan rambut Suzy yang diikatkan oleh Tuan Bae.
"Aku merindukan kalian. Hehe."
**
Sehun sengaja datang lebih pagi hari ini, jangan berburuk sangka. Sehun hanya ingin membeli beberapa manisan sebelum masuk perusahaan. Anggap saja sebagai tanda terima kasih karena Suzy sudah mau repot-repot mengurus para anak monyetnya.
"Oh? Apa yang membuat Presdir kita ini datang sepagi ini?" Tanya Suho. Bersandar nyaman pada sisi pintu dengan tangan yang bersidekap dada.
"Bae Suzy sudah datang?" Mengabaikan olokan Suho, Sehun langsung berhenti di depan si pendek ini. Bergacak pinggang dengan satu tangan yang tergantung plastik berisi segala makanan manis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Last Hope
FanfictionSuzy tak pernah meminta lebih akan sesuatu dalam hidupnya. Menapaki jalan yang sudah disiapkan oleh dua sosok yang selalu ia panggil dengan sebutan mama dan papa. Menjalani sisa hidupnya dengan semua rasa bersalah yang sudah ia pendam selama bertahu...
