Suzy berbaring bosan di atas ranjangnya. Ia belum kembali ke apartemen, masih berdiam diri di rumah orang tua angkatnya. Menatap keluar jendela yang menampakan dahan daun yang bergerak pelan tersapu angin.
Jieun pasti sedang bersantai di lantai satu, membaca majalah seraya menonton televisi. Jika bosan, wanita setengah baya itu akan mengurus taman bunga miliknya.
Bukan Suzy tidak ingin membantu, Suzy hanya sedang malas bergerak saja. Biasanya juga Jieun pasti akan memanggilnya jika ada sesuatu. Semisal menc-
"Suzy! Apa kau tidur? Jika tidak coba ke sini sebentar."
Itu salah satu contohnya, antara mencoba resep baru buatannya atau menjadikan Suzy sebagai kelinci percobaan untuk bahan riasan wajahnya. Jika ada Jinyoung, pria itu juga pasti akan terseret menjadi kelinci percobaan bersamanya.
"Iyaaa." Bergerak turun dari atas ranjang, Suzy membiarkan rambutnya tergerai berantakan. Juga hanya ada mereka berdua ini. Tak masalah.
Suara langkah kaki Suzy bergema di rumah besar ini. Menuruni anak tangga dengan satu tangan yang menggaruk perut tidak ratanya. "Ada apa, Ma?"
"Sini." Jieun melambaikan tangannya, memanggil Suzy untuk berjalan lebih dekat.
Alis Suzy berkerut heran. Apa itu? Penuh warna sekali. Duduk dengan sedikit keraguan di kanan Jieun, Suzy mulai menatap ibunya penasaran. "Ada apa, Yang Mulia?"
"Coba. Enak tidak?" Tunjuk Jieun pada piringan lebar yang sudah tersaji di atas meja.
Tersenyum pedih, Suzy menunjuk makanan yang baru saja Jieun sodorkan padanya. Atau lebih tepatnya cemilan. "Ma, penuh warna sekali? Pelangi saja kalah ini." Protesan Suzy meluncur begitu saja. Sedikit mengerikan asal kalian tahu.
"Coba dulu." Jiuen mendorong bahu Suzy untuk segera bergerak. Tampilannya memang tidak secantik biasanya. Jieun mengakui itu.
Mengambil garpu kecil dengan tangan yant bergetar pelan, Suzy menghela nafas dramatis.
"Jangan berlebihan seperti itu!"
"Berlebihan bagaimana? Layer atas merah darah seperti ini, layer kedua ungu cerah begini. Ini bukan pudding buah namanya. Tapi buah pudding. Aku yakin sembilan puluh delapan persen isinya ini buah semua. Iya kan?" Tuding Suzy menggebu-gebu. Aromanya memang menggugah selera, tampilannya saja yang tidak manusiawi.
"Sehat, makan buah itu harus." Jieun merespon seadanya. Itu tidak salah bukan? Kita harus makan buah agar pencernaan lancar.
"Tapi konsepnya tidak seperti ini, Sayangku." Suzy gemas. "Tapi rasanya enak, tampilannya saja yang perlu direvisi."
"Ini yang akan mama bawakan untuk Sehun."
"UHUK! JANGAN! Aku tidak ingin membawakan ini, bawakan yang biasa saja. Ini mengerikan jika untuk orang luar." Suzy meraung tak rela. Mau dia taruh kemana wajahnya setelah memberikan ini pada Sehun?
"Aku tersinggung ya." Sinis Jieun.
"Kenapa juga mama harus memberikan sesuatu pada Sehun." Heran Suzy. Bukan siapa-siapa mereka juga Sehun itu. Aneh sekali.
"Aku menyukainya." Balas Jieun.
"Calon menantumu itu Myungsoo, bukan Sehun." Suzy tak terima. Bagaimana perasaan tunangannya jika ia mengetahui hal ini. Suzy mana mau Myungsoo bersedih nantinya.
Wajah Jieun langsung terheran-heran. Menatap Suzy penuh tanda tanya dengan alis yang menyatu nyaris menempel.
"Hati-hati cepat keriput. Sayang uang perawatan." Komentar Suzy lagi.
"Kau belum tahu?" Tanya Jieun pelan. Nyaris tak terdengar.
"Tahu apa?" Kali ini Suzy yang terheran-heran. Makin aneh saja ibunya ini, astaga!
"Kau tanyakan saja langsung padanya." Respon Jieun membuat Suzy nyaris frustasi. Tanya pada siapa? Rumput yang bergoyang?
"Apa, Maa?"
"Tidak!"
**
"Ruangan wanita ini rapi sekali. Semua tertata dengan sangat sempurna." Suho mengamati seluruh ruangan Suzy. Tidak ada celah yang bisa Suho gunakan untuk memprotes wanita itu nantinya.
"Bagus sekali sekretaris Sehun yang baru ini."
**
"Bayiku sudah datang?" Myungsoo langsung membawa Suzy untuk masuk ke dalam pelukannya. Menyambut kelinci kecilnya yang sangat menggemaskan.
"Selamat siang." Sapa Suzy dengan deretan giginya yang terlihat karena tersenyum lebar.
"Kita berangkat?" Menggenggam tangan Suzy, Myungsoo membawa Suzy untuk berjalan pada sisi lain mobil. Mengantarkan wanitanya dan memastikan dia nyaman hingga duduk di kursinya sendiri.
Iya, mereka memutuskan untuk pergi berlibur berdua. Dengan berbekal ijin dua hari satu malam dari Jieun dan juga Joongi. Mereka memutuskan untuk mengunjungi Pantai Heundae di Busan sana. Yang memang secara kebetulan Myungsoo memiliki satu unit apartemen pribadi. Jadi mereka bisa menghabiskan waktu bersama tanpa takut diganggu siapapun.
"Apa tidak masalah jika kau tidak masuk bekerja dua hari ini?" Suzy khawatir tentu saja. Pria ini adalah inti perusahaan dan jika dia tidak hadir apa semua akan baik-baik saja?
"Tak masalah, aku sudah menyelesaikan semuanya. Aku juga sudah mendapat ijin dari mama dan papa." Myungsoo mengibaskan tangannya tak peduli. Siapa yang berani melarangnya?
Suzy tertawa singkat. Menghadapkan tubuhnya secara penuh untuk memperhatikan Myungsoo yang sedang menyetir.
"Kenapa? Apa ada sesuatu di wajahku?" Tanya Myungsoo. Jangan sampai wajah tampannya ini terkontaminasi dengan keburukan.
"Tidak, wajah pacarku selalu tampan setiap hari." Balas Suzy.
Jangan kalian tanya bagaimana perasaan Myungsoo saat ini. Rasanya nyawa yang ia bawa kemana-mana selama ini sudah pergi entah kemana. Beterbangan karena pujian singkat Suzy yang ia yakin tidak bemaksud untuk menggodanya sedikit pun.
"Sial, jantungku berdetak cepat sekali."
Mereka tertawa kencang, menggenggam tangan satu sama lain dengan suara musik dari mobil Myungsoo yang menemani.
Sesekali akan berbagi cerita tentang bagaimana pekerjaan yang mereka jalani, bagaimana hari-hari mereka belakangan ini karena mereka sudah sangat jarang sekali bersama.
Atau melakukan hal random seperti menghitung jumlah mobil berwarna hitam yang melewati mereka. Menghitung pengendara motor yang mereka yakini botak. Atau berdiam diri bagai batu hingga suara tawa kembali memecah keheningan singkat yang ada di dalam mobil.
"Apa yang akan kita lakukan pertama nanti?" Tanya Myungsoo seraya mengecupi jari-jari Suzy yang ada di dalam genggamannya.
"Aku akan langsung ke pantai. Merendam kaki di dalam air laut dan berdiam selama beberapa waktu seperti itu." Yang Suzy ingin hanya itu, sudah lama sekali ia tidak menyentuh dan menghirup aroma laut.
"Dan aku akan memegang payung untukmu." Tawar Myungsoo.
Gelengan kuat Suzy berikan. "Tidak, ini musim semi. Payung sangat tidak cocok untuk suasana pantai. Jangan mencoba melakukan itu." Peringat Suzy. Merusak suasana saja itu namanya. Suzy ingin bermandikan sinaran matahari pantai.
"Jika kau mau, kau bisa memeluk sesekali." Suzy rasa kompensasi yang ia berikan karena sudah menolak ide Myungsoo tidak buruk juga. Impas sepertinya.
"Sesekali?" Myungsoo terdengar tidak terima. "Aku akan memelukmu dari pagi hingga bertemu pagi lagi."
"Tidak, kau selalu terdengar berlebihan. Sekian." Tolak Suzy. Bisa mati kehabisan nafas Suzy seperti kemarin malam.
"Aku mencintaimu." Bisik Myungsoo.
Sehun lagi rehat ges, maklum. Udah jompo, ga bisa sering² masuk cerita
KAMU SEDANG MEMBACA
Last Hope
FanfictionSuzy tak pernah meminta lebih akan sesuatu dalam hidupnya. Menapaki jalan yang sudah disiapkan oleh dua sosok yang selalu ia panggil dengan sebutan mama dan papa. Menjalani sisa hidupnya dengan semua rasa bersalah yang sudah ia pendam selama bertahu...
