Ch. 35

213 40 5
                                    

Suzy rasanya ingin menangis saja, Sehun benar-benar menakutkan. Padahal Suzy yakin bahwa Sehun bahkan belum benar-benar marah. Pria itu baru dalam tahap penjelasan kata tegas.

Menatap komputernya dengan mata berkaca-kaca, Suzy masih sibuk membuat jadwal pertemuan baru untuk atasannya itu.

"Jahat sekali, padahal aku bisa. Kenapa harus Suho. Suho kan atasannya perusahaan sebelah. Sudah bukan Sehun lagi." Suzy mencicit makin sedih. Memang dia setidak mampu itu untuk menemani Sehun membahas proyek besar.

"Aku tidak mau bicara dengannya lagi. Dia benar-benar menyebalkan." Mencicit kecil, Suzy menekan kasar keyboardnya. Berharap jika itu adalah Sehun dan ia bisa segera menyalurkan kekesalannya.

Terdiam beberapa saat, Suzy berpikir lagi. "Tapi jika aku ada di posisi Sehun, aku juga pasti akan melakukan hal yang sama."

Makin sedih saja Suzy saat memikirkan nasib pekerjaannya ini. Padahal dia sudah mencoba sebaik mungkin agar ia bisa duduk di sisi Sehun dan bisa membantunya.

Mengabaikan suara perutnya yang sudah berteriak nyaring, Suzy melirik sinis pada jam dinding yang menggantung tanpa rasa bersalah di depan wajahnya.

Pantas.

Ini sudah lewat jam makan siang. Hal yang wajar jika lambungnya sudah minta diisi. Kasihan sekali perut gembelnya ini.

Suara ketukan pintu membuat Suzy tersadar dengan semua caci-maki yang baru saja ia teriakan pada Sehun dari dalam hati terdalamnya. Suzy sadar bahwa itu bukan salah Sehun, dia saja yang terlalu kekanakan.

"Kau tidak makan?" Sehun membuka lebar pintu ruangan Suzy yang saat ini sudah beraroma strawberry. Benar-benar persis dengan aroma penghuninya.

Menggeleng, Suzy menjawab tanpa kata sebelum ia sadar bahwa ia sudah benar-benar tidak sopan. "Ah, tidak. Anda bisa makan terlebih dahulu, Presdir."

"Keruanganku, aku tunggu di sana. Segera."

Lalu atas dasar apa Suzy bisa menolak perintah mutlak atasannya itu?

**

"Ada apa, Presdir?" Suzy masuk setelah mengetuk pintu beberapa kali. Membawa kakinya masuk dan berdiri tepat di depan Sehun.

"Duduk." Sehun menggerakan dagunya untuk menyuruh Suzy ikut bergabung dengannya.

"Terima kasih, tapi aku akan langsung kembali ke ruanganku jika tidak ada yang bisa sekiranya aku bantu." Suzy masih masih sedikit tidak nyaman berada terlalu dekat dengan Sehun. Kekesalan Sehun masih sangat terasa bagi Suzy.

"Aku tahu kau belum makan, duduk. Aku sudah membeli banyak." Sehun tidak menerima penolakan. Tidak Sehun racuni juga makanan ini, tenang saja. Kenapa takut sekali wanita ini?

"Aku... aku akan kembali keruanganku saja, Presdir. Permisi."

Belum sempat Sehun menarik nafas, Suzy sudah lebih dulu berlalu pergi meninggalkan Sehun dengan wajah melongo bodohnya.

"Batu!" Desis Sehun.

Merapikan kembali semua makanan yang tadi ia beli, Sehun berjalan cepat menuju ruangan Suzy.

"Jika kau tidak mau makan bersamaku, akan aku letakan di sini. Habiskan semuanya, aku akan keluar." Melatakan satu kantong besar ke atas meja, Sehun segera berlalu meninggalkan Suzy.

Ia tahu gadis itu pasti akan menolaknya lagi. Lebih baik Sehun segera angkat kaki saja. Berdebat pun Sehun tidak akan menang.

"Presdir!"

**

"Aku ada mommy baru!" Hyunjin langsung berlari kencang menyusul adik Chanyeol ini. Si budak cinta kudanil gemuk.

"Aku antar kau istirahat di ruang kesehatan. Makin gila saja kau aku lihat." Sinis Renjun. Menarik kuat surai legam Hyunjin yang langsung berteriak penuh drama.

"Aku serius. Dia sangat cantik!" Hyunjin tidak akan menyerah untuk memamerkan ibu barunya. Jelas saja Hyunjin bangga. Ibu barunya baik, cantik, dan menyenangkan.

"Terus saja berkhayal kau, Sinting!" Makin terbakar saja sumbu kesabaran Renjun yang tidak seberapa ini.

Hyunjin menghel nafas lelah. Sulit sekali rasanya membuat si pendek ini percaya padanya. Apa Hyunjin harus membalik dunia ini agar Renjun percaya?

"Aku ada fotonya! Kau pasti menyesal karena tidak percaya padaku!" Merogoh seragam sekolahnya, Hyunjin langsung membuka folder fotonya untuk ia pamerkan pada Renjun.

Tidak pernah sejarahnya Hyunjin berbohong kawan.

"Cantik bukan? Tentu saja!" Menyombongkan diri, Hyunjin puas sekali membanggakan Suzy pada teman seperbodohannya ini.

Ya walau belum pasti juga apa hubungan antara duda tua dengan calon ibu cangkoknya ini.

Renjun terdiam beberapa saat, memang cantik. Wajahnya seperti tidak banyak tingkah. Berbanding terbalik dengan wajah Hyunjin yang walau dia diam, orang-orang akan tetap berhasrat untuk memukuli wajahnya.

Senyuman Renjun langsung luntur saat ia tersadar akan sesuatu. "Foto siapa yang kau curi ini, Sialan?! Makin menjadi-jadi kau ya." Amuk Renjun. Memang sudah dasarnya tidak beres di jangkung kelebihan bibir ini.

Hyunjin menghela nafas lelah, sudah pasrah saja Hyunjin dengan tarikan maut Renjun pada telinganya ini. Bukannya tidak sakit, makin melawan makin habis telinganya nanti.

"Terserah kau saja. Aku lelah meyakinkan orang yang memang tidak mempunyai keyakinan ini."

**

Yang tadinya Suzy merasa kesal, sekarang ia merasa bersalah pada Sehun. Apa Suzy sudah sangat keterlaluan? Tapi Suzy juga tidak bisa memaksakan keadaan dan berakhir menjadi canggung nantinya.

Memilih untuk mengambil ponselnya, Suzy segera saja mendial kontak Sehun. Ia harus memastikan dimana keberadaan pria itu.

Pada bunyi sambungan ke tiga, suara Sehun sudah terdengar memasuki gendang telinga Suzy.

"Ada apa?"

Suzy tidak merasakan emosi dalam sapaan Sehun. Hanya perkataan biasa seperti sebelumnya.

"Presdir, dimana?" Tanya Suzy. Jangan sampai Siwon memenggal kepalanya jika ketahuan bahwa anak bungsunya ini hilang tak tahu kemana.

"Masih di luar. Ada sesuatu?" Sayup-sayup Suzy mendengar suara ramai yang sepertinya bukan suasana Sehun sekali. Pria itu lebih suka ketenangan.

"Tidak, kapan Presdir kembali?" Suzy merutuk di dalam hati. Pertanyaan apa itu sialan? Menjijikan sekali!

"Setelah jam makan siang sepertinya." Sehun tahu ada hal lain yang ingin Suzy katakan. Akan tetapi Sehun masih menunggu gadis itu untuk berbicara terlebih dahulu. Menyenangkan mendengar topik tidak penting ini keluar dari mulut Suzy.

"Itu... makanannya terlalu banyak. Aku tidak bisa memakan semua." Suzy mencicit seperti tikus. Dapat ia rasakan bahwa pipinya sudah memanas sekarang.

Tuhan, tolong.

"Jika tidak habis, letakan saja di ruanganku." Jika Sehun tidak waras, ia akan langsung berlari menuju ruangannya untuk langsung menemui Suzy.

Diam beberapa waktu, Suzy sepertinya sudah mulai kehabisan ide. Apa semua pria itu memang tidak peka? "Apa... apa tawaran makan siang bersamanya masih berlaku? Tidak mungkin aku meninggalkan makanan sisaku."

Tolong tenggelamkan saja Suzy!

Kali ini Sehun yang tidak bersuara. Senyum lebar langsung terukir di wajahnya disertai dengan kekahan singkat. "Aku akan kembali."

Suzy meluruh dari atas kursinya. Malu sekali astaga! Apa yang harus ia katakan pada Sehun nantinya? Kenapa ia tidak membawa pulang saja sisa makanannya jika memang ia tidak sanggup menghabiskannya?

"Bae Suzy, bodoh! Terkutuk kau dan otak kosongmu!"


Lagi rajin, maklum

Last HopeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang