Ch. 22

226 42 2
                                    

Suzy membolakan kedua matanya yang sudah memerah pias. Walau otaknya seperti sudah melayang terhembus angin pendingin, Suzy masih cukup paham dengan apa yang baru saja Sehun katakan.

"Aku tidak akan melakukan apapun, jika aku berniat bercocok-tanam aku akan membawamu ke hotel, bukan ke rumahku." Sehun merasa begitu hina setelah tatapan Suzy begitu menusuk kepalanya. Memang dia pria apa?

"Tidak mau." Lirih Suzy. Menarik kuat alas tempat tidur Sehun hingga mengkerut brutal karena tangannya.

"Astaga, ayolah. Aku harus merendammu di dalam air dingin." Sehun baru sadar bahwa ia bisa sesabar ini, jika dengan anak-anaknya mungkin Sehun akan langsung melemparkan mereka ke dalam kolam renang saja.

Menyusahkan.

"Aku sudah bekerja dengan sangat baik selama ini, kenapa kau ingin menenggelamkanku, Presdir?" Mata Suzy kembali berkaca-kaca, kenapa semua orang begitu membencinya? Bahkan setelah dia berniat menyelamatkan atasannya ini?

Menggeram pelan, Sehun langsung melempar jas kerjanya ke atas lantai, menggulung lengan kemeja hitam yang tengah ia kenakan, dan langsung kembali menggendong Suzy di depan tubuhnya. "Tidak mabuk saja kau bisa sebodoh ini, bagaimana jika kau mabuk."

Mengomel kesal, Sehun langsung meletakan Suzy di dalam bathupnya. Mengisi penuh dengan air dingin, dan menahan tangan Suzy yang terus berusaha memberontak untuk keluar dari dalam air.

"Presdir!"

"Diam."

"Aku tidak bisa berenang!"

Perempatan siku-siku imajiner sudah tercetak jelas di dahi Sehun. Menatap Suzy penuh dendam dengan satu tangan yang mengarahkan shower tepat pada wajah Suzy.

"Ah!"

"Kau duduk seperti ini bahkan airnya tidak akan menutupi kedua lubang hidungmu. Jangan membuat kesabaranku semakin menipis ya." Menatap sinis Suzy yang terus menggeliat di dalam air. Sehun mengabaikan pakaiannya yang sudah ikut basah tersapu air.

Sepertinya julukan kelinci sudah tidak bisa lagi Sehun berikan, Suzy bahkan lebih terlihat mirip seperti anjing gila jika terus begini.

Suzy tahu bahwa ia tengah berada di tengah genangan air, akan tetapi rasa panas yang ia dera belum jua berkurang sedari tadi. Pandangan matanya sudah berkabut denngan nafas yang tersengal pendek. "Gerah, Sehun."

Sehun yang semula menatap penuh  jengkel pada Suzy kini mematung singkat, apa katanya? Sehun? "Kau memang tidak waras." Bisik Sehun.

Menangis pelan, Suzy menegakan tubuhnya dan memilih untuk bersandar nyaman pada dada bidang Sehun. "Panas."

"Bae Suzy, jangan memancingku. Perbaiki dudukmu." Sehun sudah cukup gila dengan pikiran liarnya selama beberapa detik ini. Jangan sampai ia menjadi benar-benar gila nantinya.

"Tolong, Sehun."

"Sadarlah! Apa yang kau harapkan? Kau hanya terpengaruh oleh obat perangsang. Jangan mengatakan atau  melakukan sesuatu yang akan kau sesali nantinya." Menahan bahu Suzy dengan kedua tangannya, Sehun menatap dua mata bulat yang menatapnya tanpa fokus itu.

"Sial, aku benar-benar bisa gila setelah ini." Sehun membathin miris. Kesalahan apa yang sudah ia lakukan di masa lalu?

"Kau membenciku." Suzy menunduk dengan kedua bahu yang mulai bergetar hebat. Isakannya terdengar makin kencang seiring dengan cengkraman Suzy yang terus menguat di kedua bahu Sehun.

Menghela nafas, Sehun menangkup kedua pipi berisi itu. Menatap dalam pada manik kembar sekelam jelaga itu. "Aku tidak membencimu, aku hanya tidak ingin kau menyesali apapun nantinya. Kau tidak akan punya muka lagi untuk menghadapku setelah ini, jadi tolong. Aku yang meminta tolong padamu, tahan."

Last HopeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang