Ch. 33

234 42 6
                                        

Sehun tidak mengerti, apa ada sesuatu yang terjadi selama wanita ini libur dua hari kemarin? Atau memang dia sedang tidak sehat? Lalu kenapa memaksakan diri untuk masuk bekerja?

Sehun benar-benar tidak paham, sungguh.

Ini sudah setengah jam berlalu dan Suzy masih betah bersandar pada dada bidang Sehun di hadapannya. Awalnya Sehun ragu, gadis ini sudah selesai menangis atau belum ya? Kenapa dia tenang sekali untuk ukuran orang yang tengah bersedih.

Dengan hati-hati mengangkat sedikit wajah Suzy, Sehun ingin memastikan bahwa wanita ini benar-benar baik-baik saja.

Menghela nafas lega, kedua sudut bibir Sehun terangkat tipis. "Bisa-bisanya dia tidur pulas saat aku setengah mati khawatir dengan keadaannya."

Tak ingin ambil pusing, Sehun memilih untuk menyelipkan lengannya pada lipatan lutut Suzy dan juga belakang kepalanya. Mengangkat tanpa beban gadis yang menjabat sebagai sekretarisnya ini untuk kembali pulang.

Ke rumah siapa? Tentu saja ke rumah Sehun!

Pipidi padidi poof (4)
Yang Mulia
Jika kalian sudah di rumah, jangan membuat keributan saat aku pulang.

**

Suzy tidak tahu sudah berapa lama ia terlelap, yang jelas saat matanya terbuka, matahari di luar jendela sana sudah berwarna jingga. Lampu kamar juga berwarna redup dengan pendingin ruangan yang menyala.

Menutup wajahnya dengan bantal, Suzy menghela nafas lelah. "Sial, aku di kamar Oh Sehun lagi." Bisik Suzy.

Aroma pada bantal ini sudah cukup untuk menjelaskan siapa pemilik kamar semewah ini. Jika bukan Oh Sehun siapa lagi? Myungsoo juga kaya, tapi kamarnya tidak seelegan ini. Dan lagi mana mungkin Myungsoo masih peduli padanya.

"Bajingan itu." Gumam Suzy. Ingin sekali rasanya menghancurkan semua yang ada di dalam kamar ini jika mengingat Myungsoo. Suzy benar-benar kesal.

"Siapa yang bajingan?"

Suzy langsung bangkit dari atas ranjang dan beringsut mundur hingga punggungnya membentur kepala ranjang. "Presdir? Kenapa kau bisa ada di sini?" Tanya Suzy.

Alis Sehun terangkat naik, pertanyaan ini sedikit membuat kepalanya berputar tak mengerti. "Kenapa? Ini kamar pribadiku jika kau lupa. Jika ini rumah sakit baru bisa pertanyaan itu kau ajukan padaku." Terang Sehun.

Terdiam beberapa saat, Suzy menyetujui di dalam hati. Benar, seharusnya kenapa ia yang bisa berada di sini? "Lalu kenapa aku di sini?"

"Tidur."

Menatap jam digital di atas nakas, Suzy merasa bingung. Ia masih tidak mengerti kenapa Myungsoo bisa terlihat setidak bersalah itu. Apa selama ini Suzy bermasalah?

"Presdir." Panggil Suzy. Beringsut mendekati Sehun yang duduk di atas kursi di sebelah kiri ranjang.

"Ada apa?"

"Apa aku jelek?" Menatap Sehun dengan matanya yang dihujani sinar temaram dari lampu tidur.

"Sekarang? Dengan rambut yang berantakan dan mata sembab ini? Tentu saja kau jelek." Tidak ada basa-basi. Sehun lebih suka mengatakan hal yang jujur seperti ini tepat di hadapan Suzy.

Bibir Suzy melengkung sedih. "Jika tidak seperti ini? Seperti dijam kerja? Apa aku jelek?" Suzy masih tidak menyerah. Ia benar-benar penasaran. Apa ia harus operasi plastik?

Tapi nampaknya itu tidak perlu, memang Myungsoo saja yang sudah tidak mau padanya.

Jahat.

Sehun menghela nafas, menutup pelan bukunya dan meletakan benda persegi panjang itu di atas nakas. Bangkit berdiri dari kursi dan berjalan mendekati Suzy hingga ia benar-benar sudah berada di depan wanita itu.

Tangan Sehun terangkat naik, merapikan anak rambut Suzy yang sudah mencuat kemana-mana dan mengusap pipi berisi yang masih sedikit memerah itu. "Tidak, kau cantik." Puji Sehun tulus.

"Apa aku menjengkelkan?" Lagi, Suzy bertanya tak tentu arah.

Sehun terlihat berpikir. "Aku tidak tahu bagaimana kau selama diluar jam kerja. Tapi sejauh berkerja sama denganku kau memang agak menyebalkan." Masih dengan tangan yang mengusap pelan pipi Suzy. Sehun berkata santai.

Membiarkan Suzy memainkan baju yang tengah ia kenakan dengan bibir yang melengkung sedih.

"Kenapa? Seseorang mengganggumu?" Tanya Sehun. Walau sejujurnya Sehun juga tidak percaya dengan itu.

Gelengan Suzy berikan. "Lalu kenapa Myungsoo meninggalkanku? Dia membawaku liburan kemarin hanya untuk mengembalikan cincinnya. Beberapa bulan kedepan dia akan langsung menikah. Sepertinya aku benar-benar tidak diharapkan." Bisik Suzy. Matanya kembali berkaca-kaca dengan kepala menengadah menatap Sehun, berserta kedua tangan yang ia letakan pada pinggang pria dewasa itu.

Sehun tersenyum kecil. Mengusak pelan rambut Suzy dan menyandarkan kepala kosong itu pada perut berototnya. "Ya sudah, berarti dia bukan yang terbaik untukmu. Masih banyak pria yang akan bersedia bersamamu." Hibur Sehun. Merasa gemas dengan Suzy yang entah sudah sepenuhnya sadar atau belum.

"Tidak. Aku merasa tidak pantas untuk siapapun." Bisik Suzy.

Hening beberapa saat hingga Sehun dapat mendengar suara detak jantungnya sendiri. Menangkup kedua pipi Suzy dan menatap kedua bola mata jernih sewarna madu itu.

"Maka bersamaku saja, tidak ada alasan untuk kau merasa tidak pantas. Empat anak monyet di bawah sana juga pasti akan langsung berpesta jika kau mau."

**

"Apa yang mereka lakukan di atas sana? Lama sekaliii." Hyunjin merengek kesal. Apa pria tua itu melakukan hal yang iya-iya? Jangan sampai Hyunjin tendang bokongnya itu ya.

"Tidak udah protes, biarkan saja. Mungkin mereka lelah." Yeji bicara santai dengan tangan yang sibuk mengupas jeruk. Memisahkan kulit ari dan langsung diambil Haowen untuk ia masukan ke dalam mulut.

"Thankyuu." Mata Haowen melengkung membentuk bulan sabit. Mengantipasi jika Yeji tiba-tiba saja mengapit kepalanya.

"Untung kau lucu, jika tidak sudah aku buang kau." Mengusak asal puncak kepala Haowen, Yeji tetap gemas walau ia sedikit kesal.

Jasper dan Hyunjin langsung memutar kepala Yeji untuk menghadap mereka. Memeriksa suhu tubuh betina satu-satunya itu dan menggeleng dramatis.

"Sadar saudariku. Statusmu di sini adalah anak pungut, jangan sampai kau yang dibuang oleh Yang Mulia kita nantinya." Bisik Hyunjin. Sudah lupa diri nampaknya gadis ini.

Membolakan matanya tak percaya. Yeji langsung menggeleng dramatis. Menatap bergantian antara dirinya sendiri dan juga Haowen. "Sial, benar. Aku lupa! Terima kasih sudah mengingatkan saudaraku. Hampir saja aku menjadi gelandangan di dunia yang keras ini."

"Tak masalah kawan."

Sibuk dengan drama tak jelas mereka yang tiba-tiba saja tercipta. Sehun dan Suzy menuruni tangga dengan Suzy yang wajahnya sudah merona tipis.

Entah menahan malu entah menahan buang air. Tak paham juga anak-anak monyet ini.

"Apa itu? Kalian tidak makan nasi?" Tanya Sehun. Jam segini biasanya sudah ada beberapa cemilan yang akan menemani hingga waktu makan malam tiba.

"Belum, makanannya masih di atas wajan panas. Sepertinya juga masih setengah matang." Yeji menjawab tanpa dosa. Toh, jawabannya juga tidak salah sebenarnya.

"Kita makan diluar saja, Sayang." Ajak Sehun yang langsung membuat Suzy mati kutu setengah mati.

"Sial!"




Ehe

Last HopeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang