"Haowen, tidak merindukan daddy?" Yifan bertanya pada anak bungsu Oh Sehun ini yang tengah ikut berlibur dengannya. Seperti tidak ada beban nampaknya, berbaring santai di atas tubuh Yifan.
Menggeleng, Haowen mengusap sayang kepala Jimin yang tengah berbaring pada sisi kanan Yifan, menjadikan lengan pria itu sebagai bantalan untuk kepalanya.
"Haowen merindukan mommy." Wajah sedih tercetak jelas di raut si kecil ini. Di dalam hati, Yifan tertawa puas karena posisi Sehun dengan mudahnya tergantikam oleh Suzy yang bahkan baru masuk ke dalam hidup mereka kurang dari enam bulan ini.
"Pilih daddy atau mommy?" Jimin mencolek bahu Haowen yang tanpa pikir panjang langsung menjawab tanpa ada beban.
"Mommy!"
"Mommy Irene atau mommy Suzy?"
"Yifan, kau jangan menanyakan hal yang seperti itu!" Decak Jimin. Pertanyaan bodoh yang apapun nanti jawaban Haowen akan membuat mental Jimin ikut terguncang.
"Naga bodoh sialan!"
**
Yeji, Hyunjin, dan Jasper duduk tenang di kursi penumpang. Memangku buket bunga masing-masing dengan Yeji yang masih sibuk berdandan di tengah saudaranya.
"Rambutku bagus tidak?" Tanya Yeji pada Hyunjin. Memperlihatkan rambut ikat kudanya yang sudah susah payah ia bentuk dari pagi buta tadi.
"Bagus." Hyunjin bosan. Ini sudah pertanyaan kelima yang gadis itu tanyakan padanya. Dan jawaban Hyunjin akan tetap sama.
"Kau bahkan tidak mau melirikku!" Kesal Yeji. Meninju kesal pundak Hyunjin yang tengah bersandar nyaman pada jendela mobil.
"Bag-"
"Bagus." Masih dengan mata yang tertutup, Jasper menjawab tanpa pikir panjang. Bukan hanya Hyunjin yang bosan, Jasper juga sudah bosan. Tak ada yang berubah dari kepala wanita ini. Ribut sekali bertanya terus-menerus.
Mengerucutkan bibirnya tidak terima. Yeji bersandar tanpa semangat pada kursi tengah. Ingin bertanya pada Sehun atau Suzy juga Yeji sungkan. Mommynya itu pasti masih bersedih.
"Bagus, rapi. Tidak ada yang salah dengan itu." Suzy berbalik menatap Yeji yang langsung tersenyum lebar.
Merentangkan tangannya, ingin sekali Yeji memeluk perempuan cantik di depannya ini. Tapi sayang, Oh Sehun sudah meliriknya sinis dari kaca tengah. "Aku sangat mencintaimu."
"Diam. Diam. Banyak tingkah sekali kau, berantakan itu ikat rambutmu aku tidak mau membantu!" Hyunjin dan Jasper langsung menarik bahu Yeji untuk kembali bersandar pada kursi penumpang.
Seperti cacing kepanasan saja.
**
Hyunjin, Jasper, dan Yeji berdiri kaku seraya memeluk buket bunga mereka. Membiarkan yang tua terlebih dahulu karena pasti mereka juga sekalian ingin meminta restu.
Suzy sudah duduk di tengah-tengah makam orang tuanya. Menunduk dengan masing-masing tangan yang mengusap sayang nisan abu-abu yang sudah lama tidak pernah ia kunjungi lagi.
Terisak pelan, Suzy tidak tahu harus mengatakan apa. Kata-katanya sudah tersangkut di tenggorokan dan itu sesak sekali.
Sehun yang berdiri di sebelah Suzy juga tidak ingin melakukan apa-apa. Membiarkan wanita ini menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya terlebih dahulu.
Hening, tak ada suara. Sibuk dengan pemikiran masing-masing dan menunggu giliran dengan tertib.
Ini adalah contoh warga negara yang baik dan benar.
"Aku minta maaf karena jarang berkunjung. Aku sudah menemukan orang yang akan menjagaku seperti kalian nantinya. Jadi jangan khawatir."
Jasper dan Yeji saling pandang heran. Seperti ada yang salah, tapi tidak salah. "Cepat sekali." Bisik Jasper.
"Selamat pagi, aku Oh Sehun. Menantu kalian. Aku datang bersama tiga anak monyetku, sebenarnya ada empat, yang satu sedang dalam perjalanan liburan. Aku janji akan membawanya lain kali."
Jasper dan si kembar langsung membungkuk dalam. Memberi penghormatan walau ia tahu kakek dan neneknya ini tidak akan bisa melihat mereka.
"Durhaka sekali kau sebagai orang tua." Sinis Jasper berbisik pelan. Anak monyet? Sudah tampan dan cantik seperti ini mereka semua masih dicaci Oh Sehun sebagai anak monyet? Memang tidak ada otaknya.
"Aku akan menikahi anak kalian, walau sebelumnya aku pernah gagal, tapi untuk kali ini aku berharap dan akan berusaha agar Bae Suzy akan menjadi yang terakhir bagiku. Aku mencintai anak kalian dengan tulus, jangan khawatir. Aku akan menjaganya."
Sehun mengabaikan protesan Jasper karena memang ia harus menjaga sikap di depan calon mertuanya. Sabar sebentar tak masalah, Sehun bisa.
Menggeser tubuhnya agar tiga anaknya dapat memberi salam, Sehun merangkul bahu Suzy yang sudah lebih tenang. Sesekali mencium kepalanya saat Sehun rasa emosi gadis ini kembali terganggu.
"Grandma, grandpa. Aku Jasper, cucu kalian paling tampan. Tenang saja, aku akan menjaga mommy dengan baik. Karena aku besar bersama Oh Sehun yang tidak bisa merangkai kata-kata indah, maka dari itu aku juga mewarisi kemampuan tidak bergunanya itu. Tolong maafkan aku, tapi aku benar-benar romantis aslinya. Ini buktinya, aku membawakan kalian bunga. Aku yang memilih ini sendiri."
"Aku juga."
"Aku juga."
Jasper langsung menoleh ke samping saat ia dengar suara si kembar yang bersautan dengan senyum lebar mereka. Meletakan bunganya tepat pada sisi kanan bunga yang baru saja Jasper tata.
"Aku juga besar bersama Oh Sehun, walau aku perempuan aku sudah terbiasa memberikan bukti nyata, bukan janji manis. Sekian."
"Aku juga dibesarkan oleh Oh Sehun dan kembaran Yeji, jadi kalian pasti tahu setidak bisa apa aku dalam merangkai kata-kata. Nilaiku nol besar untuk itu. Maafkan aku."
Sehun merasa tersakiti. Bagaimana bisa ia memperbaiki citra dirinya setelah ini? "Anak-anak sialan ini." Desis Sehun. Ingin sekali rasanya Sehun tendang pantat mereka masing-masing, tapi nanti saja.
"Sudah?" Sehun berbisik pada Suzy. Merangkul bahu sempit itu untuk berjaga-jaga.
Setelah mendapat anggukan samar, Sehun kali ini menarik masing-masing kerah baju anaknya. Sudah malas sekali Sehun berlemah-lembut dengan tiga monyet hutan ini. "Ayo pulang."
"Makan dulu. Lapar." Yeji memberi tawaran. Bukan, lebih tepatnya ini adalah paksaan. Oh Sehun tidak akan tega membiarkan keinginan anak gadisnya tergantung tanpa aksi begitu saja.
Perempuan satu-satunya, tentu saja menjadi kesayangan.
"Makan apa?" Benar bukan? Sehun walau wajahnya seperti jalan raya baru di aspal dengan kata lain datar, jika untuk anak-anaknya Sehun akan menjadi sangat halus seperti permen kapas.
Sehun adalah budak cinta nyata untuk anak-anaknya.
"Yang mahal!"
**
"Mom, makan yang banyak ya. Hidup keras dan kita butuh tenaga." Jasper meletakan satu daging udang yang sudah ia pisahkan ke atas piring Suzy.
Sebagai anak tertua dan jarang sekali bicara, Jasper jika sudah buka suara dapat membuat semua hati gadis-gadis luluh lanta karena ucapannya.
Manis sekali kawan.
Asal kalian tahu, Jasper diam saja sudah banyak sekali gadis yang menjadi korbannya.
"Jas, jangan lupa bawa pacarmu nanti saat acara ya."
"Uhuk!"
Jasper selamat dari pertanyaan kapan nikah ges. Tenang!
KAMU SEDANG MEMBACA
Last Hope
FanfictionSuzy tak pernah meminta lebih akan sesuatu dalam hidupnya. Menapaki jalan yang sudah disiapkan oleh dua sosok yang selalu ia panggil dengan sebutan mama dan papa. Menjalani sisa hidupnya dengan semua rasa bersalah yang sudah ia pendam selama bertahu...
