Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bab 6

6.3K 373 1
                                        

Phuwin terlambat bangun karena asik mengobrol dengan Prim semalam ditelepon. Jam menunjukan pukul 7.20 pagi, dan mereka baru sampai di gerbang sekolah, terlambat. Di depan gerbang sudah ada beberpa orang anak yang juga terlambat datang dan ternyata salah satunya adalah Prim.

"Kau terlambat juga?" Bisik Prim kepada Phuwin, mereka berada dibarisan paling belakang.

"Iya aku terlambat bangun."jawab Phuwin. Pond hanya melirik dari ekor matanya. Dia berada di barisan di depan Phuwin saat ini.

"Apa kita akan dihukum, uh padahal tadi aku belum sempat sarapan." Prim mengelus perutnya, perutnya agak lapar sekarang.

"Hei yang dibelakang.! Sudah terlambat masih saja asik mengobrol. Kalian dengar tidak. Kalian semua di hukum lari mengitari lapangan sekolah sebanyak 10 kali, ayo cepat lari.. cepat..cepat.." perintah salah satu senior bagian kedisiplinan.

Dengan terpaksa mereka mulai berlari mengelilingi lapangan yang lumayan lebar itu. Baru tiga kali Putaran Prim sudah tidak kuat hampir saja dia jatuh kalau saja Phuwin tidak membantunya, wajahnya pucat sangat pucat. Pond melambatkan larinya mengamati apa yang terjadi.

"Kenapa kalian berhenti, cepat lari dasar manja!" teriak seorang senior yang melihat Phuwin dan Prim berhenti.

"Prim sakit Phi, dia tidak bisa lagi lari, saya akan membawanya ke ruang kesehatan." jelas Phuwin.

"Kalian cari-cari alasan ya, cepat lari atau hukuman kalian akan bertambah." ancam senior tadi.

"Apa Phi tidak bisa melihat, lihat dia hampir pingsan." Phuwin emosi. dia harus segera membawa Prim ke ruang kesehatan.

"Kau, beraninya membantahku hah!!" senior itu emosi menarik kerah seragam Phuwin, hampir saja membuat Prim terlepas dari rengkuhan Phuwin, Prim sudah tidak ada tenaga bahkan hanya untuk berbicara.

"Saya yang akan lakukan hukumannya, tolong biarkan mereka ke ruang kesehatan Phi." Pond menghentikan larinya, menghampiri Phuwin, mencengkram tangan senior itu dan melepaskannya dari ya Phuwin.

"Kau mau jadi pahlawan Hhahh!" Senior itu  menatap Pond dengan sengit.

"Tidak Phi." jawab Pond tanpa takut.

"Baikalah lari 30 putaran mulai dari hitungan pertama. Kita lihat apa kau masih bisa sok pahlawan setelah ini."

"Baik." Pond langsung mulai berlari mengelilingi lapangan menggantikan hukuman Phuwin dan Prim. Phuwin langsung mengendong Prim menuju ruang kesehatan meninggalkan Pond.

.

.

"Apa kau baik-baik saja Prim?" Tanya Phuwin kawatir, di usapnya kepala Prim

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Apa kau baik-baik saja Prim?" Tanya Phuwin kawatir, di usapnya kepala Prim. Prim yang sedang meminum teh hangat buatan petugas kesehatan itu hanya menganguk, wajahnya sudah tidak begitu pucat lagi.

"Aku hanya kelaparan hehehe." jawab Prim cengengesan. Benar dia tadi tidak sempat sarapan kan karena kesiangan.

"Aku akan membelikan mu makanan." Phuwin hampir beranjak tetapi di tahan oleh Prim.

"Tidak perlu, aku sudah menghubungi temanku, dia akan datang membawakan ku makanan, kembali saja ke kelasmu Phu, aku tidak mau kau dapat masalah lagi karena membolos kelas, aku baik-baik saja." jelas Prim.

"Serius kau baik-baik saja?"

"Serius. Nah itu temanku datang, sana cepat pergi." Phuwin melihat seorang anak laki-laki yang baru masuk dengan membawa kantong penuh makanan.

"Baiklah aku pergi, cepat sembuh ya, hubungi aku kalau butuh sesuatu oke." Prim menganguk, Phuwin beranjak pergi meninggalkan Prim, melihat sebentar ke dalam ruangan sebelum benar-benar menutup pintu ruangan itu.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


.

.

Nafas Pond terengah-engah keringat bercucuran di sekujur tubuhnya, 30 kali putaran lumayan melelahkan, tadi bahkan dia sudah berlari lebih dari 4 kali putaran dan harus di ulang lagi. Tapi tak masalah, Pond lega dengan begini bukankah tuannya tidak perlu melaksankan hukuman.

Pond duduk meluruskan kakinya, berusaha mengatur nafasnya yang tidak beraturan,   30 putaran sudah di diselesaikannya dengan baik, tapi dia benar-benar butuh minum sekarang, matahari pagi mulai menyengat, panas.

"Nih" sebuah tangan ngulurkan sebotol air mineral dingin ke hadapan Pond. Itu Phuwin.

"Terima kasih" Pond langsung membuka botol itu dan meminum isinya hingga tandas. Segar sekali, rasanya seperti sudah berhari-hari tidak minum air saja.

"Ayo kembali ke kelas, kau baik-baik saja kan?" Phuwin mengulurkan tangan membantu Pond berdiri.

"Saya baik-baik saja tuan" Pond menerima uluran tangan Phuwin dan beranjak. Pond terhuyun hampir saja terjatuh. kakinya masih sedikit lemas karena tadi berlari terlalu lama. Phuwin menangkapnya, tubuh mereka bertubrukan.

 Phuwin menangkapnya, tubuh mereka bertubrukan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Maaf" Pond menunduk kikuk. Mengalihkan pandangannya dari manik jernih milik tuannya.

"Makanya lain kali jangan sok pahlawan, lihat akibatnya." Phuwin mendengus melepaskan pelukannya dengan wajah sedikit memerah.

"Bagaimana dengan nona Prim tuan?"

"Dia baik, dia hanya kelaparan, sudah ada temannya yang menajaganya" Phuwin berjalan di ikuti Pond dibelakangnya. Pond  tersenyum tipis, hatinya senang tuannya ternyata masih perduli padanya, memilih menemuinya dari pada menemani Prim di ruang kesehatan.



Phuwin's Birthday Present Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang