"Phu.. Phu ingin hadiah ulang tahun apa?' tanya Papa Mix lembut. Anak laki-laki imut yang dipangil Phu itu menunjuk anak laki-laki lain yang tergeletak tak sadarkan diri di lantai dengan ekspresi kawatir.
.
.
"Saya adalah milik anda, tuan muda Phuwi...
"Pa..papa" Neo membuyarkan lamunan Mix. Dia dan papanya sedang bermain gitar sambil makan cemilan bersama, seperti kebiasaan mereka jika ada waktu luang, tapi sedari tadi papanya itu hanya bengong tampak tidak menikmati. Dia bahkan tidak melihat mulut Neo yang masih penuh dengan makanan tetapi tetap meyuapinya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Papa anak Papa bukan cuma Phuwin, aku disini sehat segar bugar dan sedang bermain bersama Papa!" Neo berkata kesal, dia tau papanya khawatir pada adiknya tapi dia juga anaknya, tidak bisakah sedikit saja dia menggantikan Phuwin. Sejak Phuwin hilang dia kembali ke rumah meninggalkan asramanya, mengabaikan semua kegiatannya hanya untuk mencari Phuwin dan menjaga Mix. Kehilangan Phuwin membuat Mix kadang kehilangan dirinya sendiri, dia terus saja menyalahkan dirinya. Lihat Pipi cubinya bahkan sedikit menirus karena jarang makan dan mengurus diri.
Bukan karena apa Mix bersikap berlebihan, dulu sewaktu Phuwin masih bayi Phuwin selalu sakit-sakitan bahkan sekali hampir tidak bisa diselamatkan. Mix masih ingat bagaimana usaha keras mereka untuk menyelamatkan Phuwin. Mix tidak ingin hal-hal mengerikan terjadi lagi, Mix tidak mau kehilangan anak-anaknya.
"Apa kau tidak khawatir dengan adikmu, apa yang dilakukannya, apa Phuwinku sudah makan, bagaimana kalau dia sakit?" Wajah Mix tambah buram, air mata siap meluncur dari kelopak matanya yang indah.
"Huff" Neo menghembuskan nafasnya lelah. akhirnya memeluk Mix yang hampir menangis lagi. Neo bukan tidak sayang adiknya, jangan tanya bagaimana usahanya untuk menemukan Phuwin, lihat kantong matanya yang menghitam karena tidak tidur menyusuri malam bersama orang-orangnya untuk menemukan Phuwin. Neo juga frustasi, sudah lebih sebulan ini tidak satupun usaha mereka untuk menemukan Phuwin berhasil.
"Phu akan baik-baik saja papa, Neo janji kita akan segera menemukannya, Papa jangan seperti ini kalau Phuwin tau dia akan marah dan sedih" di elusnya punggung Mix. Neo bukan anak yang lembut, walau sikapnya sering tidak serius dan seenaknya sendiri, tetapi tetap saja keluarga adalah segalanya bagi Neo. Kalau di keluarga ini Phuwin adalah bulan yang menghangatkan malam, Neo adalah matahari yang akan membakar habis semua yang mengusik keluarganya. Ingatkan Neo untuk memukul pantat adik kesayangannya yang nakal itu nanti, karena sudah membuat kekacauan di rumahnya yang damai.
.
.
"Aduh..' Phuwin memegangi jarinya yang lagi-lagi tergores pisau. Dia sedang sibuk memotong ikan untuk dimasak bersama Prem. lebih tepatnya belajar memotong ikan karena sepertinya bukan ikan yang sedari tadi dipotongnya tapi jari-jarinya yang cantik. Di liriknya Prem yang begitu lihai menggunakan pisau pisau itu, Phuwin menjadi begitu iri.
"Hihihi kau akan mahir kalau sudah sering melakukannya" Prem hanya terkikik melihat usaha Phuwin membantunya.
"Phi lihat saja aku akan lebih mahir dari Phi Prem nanti" jawab Phuwin dengan wajah yang mengebu-gebu.
"Hahaha ... Benarkah, mari kita lihat saja nanti."