Bab 30

4.9K 255 3
                                        


"Phi mau ikut denganku tidak?" Tanya Neo ketika berpapasan dengan Pawin di lorong club.

"Kemana?"

"Bersenang-senang." Jawab Neo.

"Berdua saja?"

"Kumpulkan semua orang biar tambah seru hehhehe."

"Oke."

.

.

"Halo Tuan Han." Neo berjalan santai memasuki sebuah gedung yang terletak di salah satu sudut kota. Kedua tangannya dimasukkannya ke dalam kantong celana. Sementara Pawin berjalan dibelakangnya seperti biasa.

"Oh Neo ada apa kau kemari bocah? Kau butuh sesuatu dariku atau akhirnya kalian setuju dengan tawaranku, sudah ku bilang kalian tidak akan rugi, ini sangat menguntungkan." kata Tuan Han. Laki-laki yang tampak lebih tua dari Ayah Earthnya itu duduk santai di singgasananya dengan sombong seperti biasa. Disampingnya berdiri sekitar lima orang anak buahnya dengan setia.

Tuan Han ini adalah salah satu rekan bisnis Ayahnya tadinya dialah yang mengirimkan furniture untuk mengisi hotel-hotel mereka, tapi sudah setahun ini tua bangka ini terus saja menawarkan kerja sama untuk menyediakan layanan malam dari para gadis atau pria-pria muda, yang tentu saja kerjasama itu ditolak oleh Earth. Hei hotel-hotel milik Phirapat adalah tempat bersih bukan tempat prostitusi dan hal-hal buruk lainnya.

"Aku cuma mau menyampaikan salam dari Ayah."

"Ouu ayahmu, bukannya dia sedang sekarat karena tertembak?" Tuan Han tersenyum mengejek.

"Sudah kuduga." Neo menodongkan pistol yang sedari tadi berada di kantongnya ke arah Tuan Han. Jadi benar orang tua ini adalah dalang dari penyerangan Ayahnya, karena kabar tentang Ayahnya yang tertembak ini masih menjadi rahasia, bagaimana orang di depannya ini bisa tau, kecuali dialah sendiri sumber masalahnya.

"Berani juga kau bocah." Tuan Han berdiri emosi, beberapa anak buahnya menodongkan pistol ke arah Neo dan Pawin. Pawin hanya menyeringai, ini akan seru pikirnya.

"Siapa yang kau panggil bocah Tuan?" tanya Neo.

Dorr..

Tanpa aba-aba satu tembakan meluncur tepat ke arah Tuan Han dan mengenai lengannya. Itu kelakuan Neo sambil tersenyum bodoh seperti biasa.

"Sial habisi bocah itu!" Perintah Tuan Han sambil meringis kesakitan, anak buah Tuan Han menyerang Neo dan Pawin. Beberapa lainnya mencoba membawa Tuan Han pergi dari tempat itu.

Pawin berlari menerjang ke arah salah satu orang-orang itu, ada sebuah belati besar di tangannya, belati yang sedari tadi disembunyikannya di balik jaket bombernya.

Dooorr...

Satu tembakan mengenai perut Pawin, oke jaket bomber kesayangannya robek, biakan saja nanti tinggal dia minta ganti pada bos kecilnya Neo, beres.

Pawin sempat tersungkur, sedetik kemudian kembali bangkit melepas jaketnya yang robek dan menyeringai. Mereka tidak bodoh datang tanpa persiapan, rompi anti peluru sudah melekat di badan. Belum sempat menembak Pawin lagi orang itu sudah tersungkur dilantai penuh darah, ada luka melintang panjang di perutnya, hasil karya Pawin tentu saja. Sementara dua lainya sudah tertembak oleh Neo mengelepar-gelepar di lantai seperti ikan yang kekuarangan air.

Yang bertubuh paling besar sekarang sedang dihajar Pawin. Pawin suka perkelahian jarak dekat katanya lebih bersensasi dari pada mengunakan pistol, dia suka mengunakan apa saja yang bisa dijangkaunya, seperti saat ini sebuah tiang lampu dari besi sudah di pakainya untuk menghajar orang itu hingga sekarat, dan Pawin tersenyum puas.

Phuwin's Birthday Present Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang