"Phu.."
"Phuwin."
"Hiks..hiks..hik.s.." Phuwin tidak merespon isak nya semakin menjadi.
"Phu Phuwin buka mata anda, ayo bangun." Pond mengguncang tubuh Phuwin perlahan, sedikit khawatir karena Phuwin belum juga membuka matanya.
"Pond?" Phuwin akhirnya membuka mata cantiknya yang berlinang air mata, melihat Pond tepat di depannya sedang menatapnya dengan khawatir.
"Anda baik-baik saja?"
"Pond, apa yang terjadi?" Phuwin tidak menjawab tapi balik bertanya karena bingung, seingatnya tadi dia memergoki Pond sedang bercinta dengan Lisa dikamar Lisa, lalu mereka bertengkar hebat dan Pond tidak perduli pada Phuwin justru terang-terangan membela perempuan itu. Tiba-tiba Phuwin merasakan sakit dihatinya mengingat semua itu.
"Sepertinya anda bermimpi buruk lagi.' jawab Pond sembari menghapus air mata di pipi lembut Phuwin dengan tangan besarnya.
"Mimpi?" Benarkah itu mimpi? Phuwin melihat sekelilingnya dengan seksama, dimana saat ini dia berada, oh ternyata dia dan Pond masih di dalam mobil sport mewahnya, diluar langit masih tampak gelap, Phuwin melihat pakainya, dia masih mengenakan baju kerja lengkap dengan jasnya yang sedikit berantakan.
"Dimana ini Pond?" Tanya Phuwin memastikan
"Dijalan menuju rumah."
Phuwin bernafas lega, Syukurlah kalau semua tentang Pond dan Lisa hanyalah mimpi. Phuwin tidak tau bagaimana nasibnya kalau semua itu adalah kenyataan. Mungkin kali ini Phuwin lah yang akan benar-benar menembak kepalanya dengan Pistol, karena Phuwin tidak sanggup kalau harus hidup tanpa cinta Pond untuknya. Baru kali ini Phuwin bersyukur karena bermimpi buruk, bersyukur karena semua hanya mimpi bukan kenyataan.
"Apa anda baik-baik saja, apa perlu kita ke dokter?" Tanya Pond yang masih khawatir.
"Aku baik-baik saja."
"Benarkah?" Karena menurut Pond Phuwin masih sedikit pucat dan linglung.
"Pond." Phuwin tiba-tiba menarik Pond dalam pelukannya. Pond sedikit terkejut tapi tidak menolak pelukan Phuwin. "Maaf, maaf untuk semua kekacauan yang telah aku lakukan." kata Phuwin lagi dan semakin mengeratkan pelukannya pada Pond.
"Semua sudah terjadi mau bagaimana lagi, saat ini yang bisa kita lakukan hanya melakukan yang terbaik untuk memperbaikinya." Pond melepaskan pelukan Phuwin perlahan, membenarkan cara duduk Phuwin dan menyelimutinya dengan jaket yang baru saja dilepaskan Pond dari tubuh besarnya.
"Tapi." Phuwin merasa sedikit kosong saat Pond melepaskan pelukan mereka. Memeluk jaket Pond mencoba mencari kehangatan.
"Tidak apa, ayo kita pulang Lisa pasti sedang nunggu banana cake nya." Jelas Pond mengusap kepala Phuwin lembut kemudian kembali menjalankan mobil sport itu dengan kecepatan penuh menuju ke rumah mereka.
Phuwin melirik ke jok belakang disana ada sebuah paperbag yang pasti isinya cake pesanan Lisa itu. Jantungnya kembali berdetak dengan cepat, dari paperbag transparan itu tampak banana cake dengan lelehan madu yang sama persis seperti dalam mimpinya, apa setelah ini semua akan terjadi seperti dalam mimpi buruknya. Tidak, Phuwin tidak ingin semua menjadi kenyataan itu sangat mengerikan.
.
.
Pond turun dari mobil berniat membuka pintu mobil untuk Phuwin, tapi Phuwin sudah turun lebih dahulu dengan banana cake di tentengannya.
"Apa yang anda lakukan?" Pond menghadang Phuwin khawatir kalau-kalau Phuwin akan membuang cake yang susah-susah dibelinya untuk Lisa.
"Aku hanya akan memberikannya pada Lisa, jangan khawatir." Phuwin tersenyum manis, senyum yang akhir-akhir ini tidak lagi ditunjukannya untuk Pond.
KAMU SEDANG MEMBACA
Phuwin's Birthday Present
Fanfiction"Phu.. Phu ingin hadiah ulang tahun apa?' tanya Papa Mix lembut. Anak laki-laki imut yang dipangil Phu itu menunjuk anak laki-laki lain yang tergeletak tak sadarkan diri di lantai dengan ekspresi kawatir. . . "Saya adalah milik anda, tuan muda Phuwi...
