30 tahun yang lalu
Ari menyeka peluh yang mengalir di pelipisnya. Jangan tanya seberapa gerah hari ini. Ari bahkan yakin baju kaus yang dikenakannya sudah berwarna lebih gelap karena banyak menyerap keringat. Ini adalah pertama kalinya Ari melakukan perjalanan jauh selama empat jam seumur hidupnya. Perjalanan yang sama sekali tidak nyaman dengan segala kekacauan yang ada di angkutan umum.
Di tahun itu, angkutan umum belum ramai seperti sekarang. Transportasi darat dari kotanya menuju kota ini hanya ada satu, itu pun tidak beroperasi setiap hari. Perjalanan ini sudah Ari rencanakan sejak satu minggu yang lalu, tepatnya sejak kabar baik itu menyambangi hidupnya.
Ari adalah pemuda kampung berusia 20-an. Setelah sekolah, Ari sibuk membantu kedua orang tuanya. Nyaris semua pekerjaan ia lakukan. Mulai dari bekerja di sawah sampai dengan memberi makan kuda ataupun bertukang bersama orang dewasa yang berbaik hati mengajaknya. Semua itu ia lakukan untuk membantu perekonomian keluarga. Kedua orang tuanya sakit-sakitan. Kakak laki-lakinya juga sudah menikah dan memilih tinggal di kampung sebelah dengan perekonomian yang juga tidak seberapa. Oleh karena itu, ia menjadi tulang punggung keluarga, mempertaruhkan keringat demi mendapat beberapa helai uang.
Di balik semua masalah hidupnya, Ari memiliki cara tersendiri untuk menghibur diri, yaitu bermain bulu tangkis. Di kampung itu, tidak seberapa anak-anak atau pemuda yang terampil berolahraga. Mungkin hanya ada sepuluh orang, dan Ari adalah satu di antaranya.
Di kalas pekerjaannya telah selesai, kadang Ari bermain bulu tangkis di lapangan yang cukup bagus di kampung sebelah. Ari bisa bermain dengan meminjam perlengkapan olahraga yang disediakan di sana. Sebagai ganti membayar, Ari membantu pengawas lapangan yang juga berjualan makanan untuk mencuci piring atau menyajikan makanan pada pejabat daerah yang kebetulan datang berolahraga.
Hari itu, ada beberapa pejabat yang datang berolahraga. Jumlahnya ada empat orang. Mereka memesan makanan dan minuman pada pengawas lapangan. Ari yang sedang senang bermain pun terpaksa meninggalkan kegiatannya saat pengawas lapangan memanggilnya, meminta bantuan untuk menyajikan makanan.
Ari membawa empat piring mi goreng dan empat es teh manis. Ia menghidangkannya dengan hati-hati. Ari sebetulnya mengenal para pejabat ini. Mereka adalah orang kampung yang berkebetulan bernasib baik dan kini jadi pejabat daerah.
"Kamu mau main ga, Ri? Saya udah gatel pengen olahraga. Mereka pada mau main domino dulu."
Pertanyaan itu muncul dari salah seorang di antara mereka. Ari mengangguk sebagai jawaban. Akhirnya keduanya bermain badminton dengan seru. Ari sungguh menikmati permainan itu. Jarang sekali ia punya lawan main. Biasanya ia hanya bermain sendiri.
"Hebat juga kamu. Kita istirahat dulu."
Ari mengangguk mengiyakan. Napasnya juga sudah tidak beraturan lantaran bermain terlalu lama.
Sebagai hadiah karena sudah mau diajak bermain, Ari dibelikan mi goreng. Hal yang sederhana memang, tapi bagi Ari yang bahkan mencari uang seribu pun sulit, itu adalah rezeki yang tak terduga. Jika ia makan di sini, berarti ia tidak perlu makan di rumah. Alhasil, lauk dan nasi untuk kedua orang tua dan adiknya juga lebih banyak.
Ari makan dengan tenang di samping pejabat yang tadi mengajaknya bermain, Tiga orang lainnya kini sedang bermain di lapangan. Mereka sudah selesai bermain domino.
"Saya suka sama kamu, Ri. Tipikal yang ga pilih-pilih pekerjaan dan patuh sama yang lebih tua."
Pujian itu ditanggapi Ari dengan senyuman sopan.
"Kamu mau kerja di luar kota ga? Biar saya carikan."
Kali ini, mata Ari melotot tak percaya. Ia bahkan berhenti mengunyah mi yang ada di dalam mulutnya.
Tentu saja Ari menerima tawaran itu. Itu adalah kesempatan yang tidak akan datang dua kali. Kesempatan untuk memperbaiki hidupnya yang morat-marit dan mengangkat perekonomian keluarga. Apalagi kedua orang tuanya sakit dan butuh biaya untuk berobat.
Dan disinilah Ari sekarang setelah mendapat kabar bahwa ada satu lowongan kerja untuknya. Jauh sekali Ari pergi hari ini, ratusan kilometer dari rumahnya di kampung.
Kota ini terlihat jauh lebih maju. Bangunan kantor tertata rapi di sepanjang jalan. Sekolah dan gedung yang ukurannya terlihat lebih besar dibanding sekolahnya dulu. Namun, di balik semua kemewahan itu, entah mengapa Ari merasa bahwa kota ini sedikit lebih senyap. Seolah tidak ada suasana keakraban di antara masyarakatnya.
Cukup jauh Ari berjalan untuk menemukan lokasi dari alamat yang tertulis di kertas. Ya, selain mencarikan pekerjaan, Ari juga diberi tahu lokasi untuk tempat tinggal, meski tentunya tidak gratis. Tak masalah. Bagi Ari itu lebih dari cukup lantaran ia benar-benar buta soal lokasi di kota ini.
Rumah yang ada di hadapan Ari sekarang adalah rumah yang berukuran cukup besar. Catnya berwarna biru dengan sebagian besar sudah terkelupas. Tidak ada pagar yang membatasinya dengan jalan raya. Di bagian halam rumah, ada sebuah papan nama yang bertuliskan "Indekos".
Ragu-ragu, Ari melangkah masuk. Ia kemudian mengetuk pintu pelan. Hatinya berdegup kencang menunggu pintu terbuka. Sebagian dari dirinya merasa cemas dengan kehidupan yang telah menunggunya, sebagian lagi bersemangat, tidak sabaran dengan pengalaman baru yang akan ia alami.
Hitungan menit setelahnya, pintu yang ada di hadapan Ari terbuka. Seorang wanita dengan perawakan tinggi langsing, rambut bergelombang, dan memiliki tahi lalat di bagian dagu muncul. Awalnya wanita itu diam, kemudian ia tersenyum saat tatapannya bertemu dengan tatapan Ari.
Wanita itu kemudian mempersilahkan Ari masuk.
----
Assalamualaikum readers
Maap aku mendadak tidak muncul.
Beberapa hari ini aku lagi sibuk di rlTapi aku beneran berterima kasih buat yang masih menunggu kelanjutan cerita ini
Aku bakal usaha update sesering mungkin
So, see you next part
Assalamualaikum

KAMU SEDANG MEMBACA
Titik Terang [LENGKAP]
RomanceTentang keluarga dan pasangan. Tentang alur nyata kehidupan. Tentang berdamai dengan semua takdir menyakitkan. Tentang menerima, mencintai, dan saling menguatkan. Cerita tentang titik terang dalam hidup yang gelap dan diselimuti kebohongan.