Bagaimana jika kita dipertemukan hanya untuk menambah luka baru?
Alzen yang sempat mengalami perundungan kini beralih menjadi pelaku akibat emosional yang sudah sulit untuk dikendalikan. Tetapi, sekolah seakan mewajari sikap dan perilaku buruk anak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah kejadian itu, sosok Nara tidak lagi hadir dalam pembelajaran selama beberapa hari. Entah kenapa suasana hati Alzen pun sedang buruk sehingga dirinya hanya bisa duduk dan merenung, sebuah plester menutupi luka yang sempat diberikan Narra karena ketidaksengajaan.
Gildan yang melangkah dan hendak melewati bangku Alzen tiba-tiba tersandung dan jatuh, akan tetapi Alzen tidak merespon dan menghiraukan hal tersebut, menciptakan beribu tanya dibenak sahabatnya. Gildan buru buru mengambil kesempatan tersebut, ia bergegas pergi menjauhi mereka agar dirinya tidak kembali mendapatkan perlakuan buruk.
"Lo kenapa?" Tanya Arkan menghampiri lalu duduk di meja Alzen.
Alzen mendelik tajam. "Turun dari meja gue!"
"O - oke."
Arkan bergegas pindah ke meja lain tepat di samping Alzen.
Alzen terlihat pucat dan lemas, ia seolah tidak memiliki gairah untuk melakukan apapun dan hanya ingin duduk dengan tenang tanpa gangguan. Rexan yang berdiri di samping Alzen mulai melirik kearah ambang pintu kelas, menemukan sosok gadis yang tersenyum girang menunggu seseorang.
"Alzen, pacar baru lo udah nunggu," ucap Rexan seketika menarik perhatian Arkan untuk melihat sosok yang dimaksud.
Alzen menghela nafas berat seraya memijit keningnya yang pusing. "Kita putus."
Gadis itu sontak terkejut. "Maksud lo apa? Kita baru pacaran kemarin loh, kenapa lo langsung minta putus?" Gadis itu melangkah cepat untuk mendekati Alzen namun langsung terhenti saat mendengar ucapan Rexan.
"Pergi," ketus Rexan.
"Kita harus bicara, Zen!" Gadis itu seakan memaksa.
"Dia udah bilang putus, kan? Sebaiknya lo pergi sebelum kita usir lo secara paksa!" Gertak Arkan membuat nyali gadis itu menciut.
Sang gadis hanya bisa berkaca-kaca dan langsung berlari keluar meninggalkan Arkan dan Rexan yang hanya memperhatikan sampai punggung gadis itu benar-benar menghilang dari pandangan. Alzen menidurkan kepalanya di atas meja dengan menggunakan lengan sebagai bantalnya.
"Lo pucat banget bre," Arkan sejenak menyentuh leher Alzen.
Sementara Rexan menatap wajah kawannya yang pucat. "Mending lo ke UKS aja ... biar tugas lo nanti gue yang kerjain, lagipula guru cuma ngasih kita tugas lima bab doang jadi lo gak usah khawatir."
"Gak ..." Tolak Alzen dengan nada yang begitu lemas.
Arkan mendelik sinis pada Rexan. "Cuma? Buat lo itu cuma, tapi buat gue enggak. Ibaratnya gini, lu punya otak lu berkuasa, tapi buat gue enggak ...."
"Ya ... lo kan emang gak punya otak," celetuk Rexan.
"Kalian berisik," keluh Alzen menenggelamkan wajahnya dalam lengan yang menekuk.
Walau sakit pun tidak akan ada orang yang benar-benar peduli padanya, pemikiran Alzen selalu seperti itu. Mengingat kini hidupnya hanya sendiri tanpa keluarga yang menemani. Ia juga tidak dapat percaya sepenuhnya pada setiap orang yang ia temui termasuk Arkan dan Rexan.