° 40.|Accusation °

24 5 0
                                        

Suara derit pintu kamar yang terbuka, menampakkan sosok Narra yang masih linglung sambil menggaruk kepalanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Suara derit pintu kamar yang terbuka, menampakkan sosok Narra yang masih linglung sambil menggaruk kepalanya. Netra gadis itu menyipit, melihat sang paman yang sudah mau pergi.

"Paman lihat Alzen, gak?" Narra menguap sambil menggosok gosok mata agar menjernihkan penglihatan yang buram.

"Alzen, siapa?" Paman bingung.

Pertanyaan tersebut sontak membuat Narra terkejut dan langsung kembali masuk ke kamar sambil membanting pintu dengan keras.

Sial ... kok aku bisa lupa, ya?

Dia membatin, tersandar pada daun pintu dan mendengar suara kepergian sang paman.

Kapan dia pergi?

Hatinya masih bertanya-tanya mengenai Alzen, entah kenapa suasana hatinya mendadak resah dan gelisah. Seakan ada sesuatu yang tidak diinginkan namun sedang menunggunya.

Narra sedang mengikuti pembelajaran, dia merotasikan matanya pada ruang kelas, mencari seseorang yang tidak dapat ia temukan dalam waktu lama

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Narra sedang mengikuti pembelajaran, dia merotasikan matanya pada ruang kelas, mencari seseorang yang tidak dapat ia temukan dalam waktu lama.

Diantara ketiga anak nakal yang dia kenal, hanya ada Rexan yang berada di dalam kelas bersamanya. Narra berusaha mengabaikan kekhawatiran yang membalut hati, bagaikan anala membakar harsa dalam diri.

Narra mencatat materi sambil sesekali menghela nafas dalam, dia memijit pelipis, sesaat melirik ke arah Rexan yang terlihat baik-baik saja.

Kalau Rexan setenang itu ... berarti temen-temennya gak ada masalah, kan? Gak tahu sejak kapan aku khawatir soal si brengsek sialan itu.

Batin Narra merasa geram mengingat perlakuan keji mereka padanya.

Padahal gadis itu hanya memperhatikan Rexan dari sudut belakang. Tidak tahu bagaimana mimik wajah sang pria yang terlihat berpikir keras, dikarenakan tidak mengetahui kabar kedua kawannya sama sekali.

Si dua beban itu kemana, sih?

Rexan membatin sambil mendengus kesal. Dia melihat papan tulis meski pikirannya tidak dapat terfokus pada titik tersebut.

Nuragaku ( On Going )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang