Bagaimana jika kita dipertemukan hanya untuk menambah luka baru?
Alzen yang sempat mengalami perundungan kini beralih menjadi pelaku akibat emosional yang sudah sulit untuk dikendalikan. Tetapi, sekolah seakan mewajari sikap dan perilaku buruk anak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Karlin yang berjalan menuju dapur tidak sengaja melihat pintu kamar Alzen yang terbuka. Ini sudah larut malam, sebuah suara isak tangis menciptakan ketakutan di benak Karlin yang merinding dan perlahan melangkah mendekati untuk sedikit mengintip sosok yang ada dalam kamar tersebut. Ia memiringkan kepala dan menyipitkan mata.
Adanya sosok pria yang duduk di tepi kasur, kakinya terbuka lebar dan tubuhnya merunduk seolah tenggelam dalam perasaan cemas yang berlebih. Selembar poto yang sempat ada dalam genggaman, terjatuh bersamaan dengan air mata yang berderai membanjiri pipi kasarnya.
"Ayah?" gumam Karlin mengernyit heran.
Gadis itu masih mengamati ayahnya dalam diam, menilik permasalahan yang sedang ayahnya hadapi.
Dhanu menengadah, melihat langit-langit kamar seraya menghela nafas berat lalu tersenyum miris. Punggungnya terjatuh pada kasur sembari memejamkan mata, mengharapkan hadirnya aksama untuk Atma yang pilu.
Nafasnya terlihat berat, membuat Karlin merasa terenyuh dan memilih untuk menghampiri sang ayah dan duduk di sampingnya meski awalnya ragu dan takut. Kedatangannya menarik perhatian Dhanu yang sesaat melirik lalu bangkit untuk kembali duduk.
Mata ayah begitu lembut saat menatap gadis di dekatnya, meskipun dia bukan keluarga kandung ataupun bagian keluarga yang terikat oleh genetik.
"Ayah nangis?" Karlin bertanya sambil menyeka air mata ayahnya. Semakin lama, hubungan keluarga baru ini mulai terasa terikat satu sama lain. Karlin bisa merasakan bagaimana suasana hati Dhanu meski tidak tahu alasan apa yang ada di baliknya.
Pria tua itu menaikan sudut bibir lalu mengusap kepala anak angkatnya. "Gapapa ... Ayah cuma lagi gak enak hati."
Sesaat Karlin mengamati netra ayahnya, merasakan nestapa yang menyentuh hati dan pikiran. "Ayah lagi kangen kak Alzen lagi, ya?"
Dhanu memalsukan senyuman karena tidak kuasa menahan beratnya kerinduan pada darah dagingnya sendiri. Matanya tidak bisa membohongi dunia, telaga indah itu hampir menggoyahkan bendungan.
"Ayah ... baru aja ketemu Alzen," tutur Dhanu menundukkan pandangan.
Menarik perhatian Karlin yang langsung mencondongkan wajah karena penasaran, dia membuka telinga mendengar cerita ayahnya.
"Tapi sayangnya dia masih membenciku dan menolak untuk pulang, sepertinya aku memang ayah yang buruk," Dhanu menggelengkan kepalanya penuh keputusasaan.
"Ayah gak buruk kok, mungkin kak Alzen emang butuh waktu aja." Karlin mencoba menenangkan, tangannya ragu-ragu namun berusaha hingga pada akhirnya memutuskan menepuk-nepuk pundak ayahnya.
Tapi hati Dhanu masih belum bisa tenang, tangannya gemetar dan perasaannya semakin gelisah. Memikirkan cara untuk bisa membawa sang anak kembali karena hanya itulah satu-satunya harta yang ditinggalkan mendiang istrinya.