Bagaimana jika kita dipertemukan hanya untuk menambah luka baru?
Alzen yang sempat mengalami perundungan kini beralih menjadi pelaku akibat emosional yang sudah sulit untuk dikendalikan. Tetapi, sekolah seakan mewajari sikap dan perilaku buruk anak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Menyebalkan..." Gerutu Narra yang akhirnya malah menuruti permintaan Alzen yang ingin pulang.
Sebelumnya Narra sudah memapah Alzen saat keluar dari taksi menuju apartemen lantai dua, lalu sekarang berdiri tegap melihat Alzen yang telah terlelap di kasur yang empuk dalam pelukan selimut yang hangat.
Tubuh pria itu menggigil, matanya terpejam kuat dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya. Narra menghela nafas lalu pergi ke dapur untuk mengambil baskom kecil yang kemudian ia isi air dari kran wastafel.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ini apa-apaan coba, kenapa aku masih di sini? Aku benar-benar jadi kayak babu," Narra menunduk dalam-dalam, memikirkan rasa cemas yang membuatnya bingung.
Suara air yg keluar dari kran memenuhi ruangan yang tidak begitu besar. Narra memutar pandangannya menyapu setiap sudut ruangan yang terasa hening dan sunyi.
Dia beneranhidup sendiri?
Batin Narra menutup kran air lalu membawa baskom tersebut, meletakkannya di pinggir bantal karena tidak terdapat laci ataupun meja di dekatnya.
Mata Narra berkeliling mencari kain yang bisa ia gunakan untuk mengompres dahi Alzen. Pupil matanya tidak sengaja tertuju pada rak TV, membuat kakinya melangkah mendekati dan merunduk sebelum menarik laci yang ada pada rak.
Saat sedang mencari benda semacam sapu tangan, tangannya tanpa sadar menyentuh sesuatu, dalam sesaat membuat dahinya mengernyit.
Narra mengambil benda tersebut, yakni secarik gambar yang salah satu bagiannya terlihat seakan sengaja disobek. Sebuah potret ibu bersama anak kecil yang terlihat sangat bahagia dan harmonis, akan tetapi ada sedikit tangan seseorang yang merangkul pundak sang ibu, kemungkinan besar itu merupakan tangan ayah dari anak tersebut. Namun, bagian tubuhnya telah hilang karena di sobek sehingga Narra tidak dapat mengetahui wajahnya.
"Bu ..." Alzen meracau, seolah tengah menghadapi mimpi buruk yang membuat wajahnya semakin pucat.
Gadis itu tersadar karena kondisi kawannya, ia menyimpan kembali foto tersebut lalu mengambil sapu tangan berwarna putih dengan ukiran hati di bagian ujungnya yang kebetulan ada di dekat dirinya menemukan foto. Narra kemudian bergegas menghampiri Alzen dan merendam sapu tangan itu, memerasnya sebelum meletakkannya pada dahi Alzen. Tapi entah kenapa dirinya malah merasa kurang, Narra perlahan dan dengan ragu duduk di tepi kasur, menatap wajah Alzen yang terlihat ketakutan padahal masih tertidur karena lelah.