Arlad memarkirkan motornya di depan rumah Della, lalu beranjak untuk mengetok pintu kayu di hadapannya baru saja ia ingin mengetok namun pintu itu malah terbuka, menampilkan sosok gadis cantik dengan baju tidurnya.
"Eh, udah sampe ya?? Ayo masuk" ajak Della, Arlad mengikuti Della dan duduk di sofa ruang tamu, Della menawari minuman tapi Arlad menggeleng tanda ia tak mau.
"Temenin sebentar ya??" Minta Della.
"Seumur hidup juga boleh" sahut Arlad dengan kekehan kecil, Della juga ikut tertawa namun ia terbawa perasaan pipinya menjadi merah merona.
Della mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tas sekolahnya yang tadi ia letakkan di sofa. Arlad menatap penasaran ke arah kotak kecil berwarna biru tua tersebut. "Itu apa??" Tanya Arlad.
Della menyerahkan kotak itu kepada Arlad, laki-laki itu mengambilnya dengan raut wajah bertanya-tanya.
"Ini buat kamu, harganya emang gak seberapa tapi aku harap kamu suka" ucap Della "coba buka deh" lanjutnya.
Arlad mengangguk lalu membuka kotak itu, Arlad terdiam melihat pemberian Della, lalu ia mengembalikan kotak tersebut.
"Kenapa?? Apa kamu gak suka??"
"Gue suka, tapi gue pengen lo yang makein liontin ini ke leher gue" ucapan Arlad membuat Della tersenyum bahagia, Della memberi Arlad sebuah liontin perak.
Della memakaikan Arlad liontin itu, liontin berbentuk burung elang kecil itu bergelantungan indah di leher Arlad. "Makasih ya, gue suka" lirih Arlad di balas anggukan oleh Della.
"Janji ya, kamu bakal sama aku selamanya??" Ujar Della dengan wajah berseri ia berharap jika ia bisa hidup bersama Arlad selamanya.
"Gue gak janji, Dell" batin Arlad.
Berbeda dengan ucapan hatinya mulutnya malah berkata 'janji' dan hal itu membuat Della menaruh harapan besar kepada Arlad.
🎶
Ponsel Vara terus berdering membuatnya kesal sekaligus dongkol dengan orang yang menelfon yaitu Genta.
"Plis, kuping gue bisa budek denger dering telfon dari lo!!" Keluh Vara meangkat panggilan dari Genta, membuat laki-laki di sebrang sana terkekeh.
"Ketawa lo!!"
"Ya, iya maaf. Gue cuman mau nanya abang lo di mana?? Kenapa telfon gue di rijek mulu." Tanya Genta, jelas Vara ngedumel setelah itu.
"Gue gak tau dan gak peduli, paham?"
"Bisa ga jangan ketus gitu, nanti cantik nya ilang. Gue 'kan nanya baek-baek.." Vara berdecak kencang dan hal itu melengking di telinga Genta.
"Buset lain kali gak lagi deh gue nelfon lo, bisa bongol gue" setelah itu Genta memutus panggilan itu sepihak, bongol adalah bahasa dari bali yang berarti tuli.
"Siapa suruh ganggu gue." Vara bangga dengan perbuatannya yang mampu membuat Genta memutuskan panggilan itu.
Vara merasa kesepian Della tak mengirimkannya sebuah pesan atau apapun. Vara memutuskan menelfon Della duluan dan yeyy panghilan itu di angkat membuat hatinya merasa lebih tenang.
"Hallo, Della. Jangan jauhin gue lagi, gue teraktir lo besok atau mau ge jemput??" Ujar Vara antusias.
"Sory, besok Della sekolah sama gue." Suara berat dari sebrang sana membuat Vara menyeringit heran, ia tak salah menelfon orang tapi kenapa suara laki-laki yang keluar dari sebrang sana.
"Della lagi ke dapur, ini gue Arlad"
Wah apa-apaan ini bisa-bisanya Arlad ada di rumah Della? Malam-malam?? Wah gak beres, pikir Vara. "Lo ngapain di rumah Della, malem-malem??" Tanya Vara dengan suara mengantimidasi.
"Nemenin-- " panggilan itu di putus sepihak oleh Arald ketika ada suara langkah kaki berpadu suara lembut Della yang mendekat ke Arlad di sebrang sana.
Vara mendengus kesal, hari ini adalah hari yang menyebalkan. Vara merebahkan badannya di ranjang ia menatap layar ponselnya ia membuka aplikasi tempat orang-orang berjualan online.
Ia mencari beberapa baju yang ia ingin beli, dan akhirnya ia menemukannya dua buah dress berwarna biru senada dengan corak bunga tulip di beberapa bagian tertentu "ini cakep nih, minta duit ke papa deh"
🎶
Pagi ini Varen ingin cepat-cepat pergi, bukan ke sekolah melainkan membolos. Ia sudah merencanakan hal ini bersama Genta dan juga jangan lupakan si perancang rencana yaitu Dikta.
"Mau kemana sayang, kok tumben sekolah pagi-pagi banget?" Tanya Cllara lembut, tadinya ia ingin memberikan Varen susu hangat.
Varen tak mengubrisnya ia pergi begitu saja membuat Cllara menyeringit bukan rahasia lagi kalo hubungan Cllara dan Varen sangat jauh tak sedekat Cllara dengan Vara, adiknya.
"Punya mulut ga guna banget perasaan" dumel Vara saat Varen lewat di hadapannya menuju pintu utama.
"Punya mulut jangan di pake ngurusin idup orang" balas Varen dengan nada ketus lalu pergi begitu saja membuat Vara mendelik tumben sekali Varen membalas ucapannya dengan begitu pedas.
Cllara menggeleng pelan lalu berjalan ke arah Vara "gak baik sindir-sindiran kayak gitu" tegurnya yang membuat Vara menunduk.
"Anak papa, gak boleh kayak gitu lagi. Apalagi sama bang Varen gak sopan, ya?" Ucap Zergan menepuk pelan puncak kepala putrinya, jujur ia juga kesal terhadap sikap kurang ajar Varen tapi apa boleh buat. Cllara selalu melarangnya bersikap kasar kepada Varen, ia tak mau istrinya marah.
"Kayaknya dia bukan anak papa deh, makanya jahat" celetuk Vara membuat Zergan membulatkan matanya. "OHiya? Terus dia anak siapa dong?" Tanya Zergan melirik sekilas ke arah Cllara.
"Anak mama itu" sahut Cllara, namun Vara malah menggeleng "Bang Varen itu anaknya Mang Tolib, satpam di sekolah" ucap Vara diiringi kekehan kecil dari bibirnya, Zergan dan Cllara hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar penuturan Vara putri kecilnya yang sudah mulai dewasa secara fisik maupun pikiran.
Sorry kalo ada banyak typo bertebaran guys.
Vote dan komen sebanyak-banyaknya untuk next chapter. Revisi setelah end!!
[NEXT]
KAMU SEDANG MEMBACA
Transmigrasi Bella [END]
Teen Fiction⚠️cerita ini hanya di publish di lapak @Rhea_margareth, jika kalian menemukan cerita dengan alur seperti ini di lapak orang lain berarti itu plagiat‼️ "Weh!! njenggg!! mati guee.. " Seorang gadis berusia 20 tahun yang bernama Bella, yang menaglami k...
![Transmigrasi Bella [END]](https://img.wattpad.com/cover/345865040-64-k484779.jpg)