Keesokan harinya Nikolai bangun dengan kepala Nikolai terasa berdenyut, tenggorokannya kering akibat alkohol yang semalam ia teguk.
"Sial." Ia memijat pelipisnya beberapa kali sebelum bangkit dari sofa yang berada di sudut kamar.
Perlahan ia mengangkat kepala, menatap ke atas ranjang utama, tampak sosok perempuan terlelap dengan posisi membelakanginya.
Pavlena, mantan istrinya.
Ya, mereka tidak tidur bersama—semua hanya skenario yang Nikolai atur, ia sengaja agar Eleanore melihatnya.
Pavlena bahkan masih mengenakan pakaian yang dikenakannya semalam, ia tidak menyentuh sehelai pun rambut mantan istrinya setelah masuk ke dalam kamar. Perempuan itu juga tidur dengan jarak cukup jauh di sisi ranjang, sementara selimut hanya menutupi sebagian tubuhnya.
Tak lama kemudian, Pavlena ikut terbangun. Begitu membuka mata dan menyadari Nikolai telah duduk di sofa sambil menunduk memegangi kepalanya, ekspresi perempuan itu langsung berubah canggung.
Sesaat tak ada satupun dari mereka yang berbicara, hingga akhirnya Nikolai yang lebih dulu membuka suaranya. "Aku... maaf. Tidak seharusnya aku menciummu semalam, aku sudah bersandiwara terlampau jauh."
"Tidak apa-apa." Pavlena tersenyum tipis, ia menunduk sembari memainkan jarinya. "Setelah semua dosa yang pernah kulakukan padamu, mungkin hanya ini yang bisa kulakukan untukmu."
Nikolai tidak menjawab, pria itu tampak tidak tertarik hingga akhirnya Pavlena kembali berbicara. "Tapi... Nik, apa kau sadar jika tindakanmu semalam akan sangat melukai Eleanore? Dia mungkin tidak menyukainya."
Pavlena menggigit bibirnya, merasa bersalah. "Semalam aku melihat wajahnya, jelas dia terluka."
"Memang itu tujuanku."
Ya, Nikolai sengaja.
Ia sengaja mencari Pavlena, membangun semua skenario ini, dan pulang dalam keadaan mabuk juga kacau seolah dirinya adalah bajingan gila.
"Aku ingin dia pergi karena aku tidak akan pernah bisa mengusirnya. Jadi biarkan dia yang memilih untuk pergi meninggalkanku."
Pavlena menatap Nikolai cukup lama, tak mengerti dengan pola pikir mantan suaminya. "Kenapa kau lakukan itu? You love her, Nik. Aku bisa melihat dan langsung menyadarinya."
"Eleanore tidak pernah benar-benar meninggalkan masa lalunya, sebagian hatinya masih hidup di sana... bersama Romanoff. Aku pernah melakukan kesalahan itu dulu—mencintai perempuan yang belum selesai dengan masalalunya, maka dari itu aku tidak akan mengulanginya lagi."
Pavlena langsung menunduk, merasa bersalah dengan kalimat itu meski jelas Nikolai tak bermaksud untuk menyinggungnya.
"Maafkan aku, Nik."
Hanya dua kata itu yang mampu keluar.
Maaf.
Beribu kali Pavlena ingin meminta maaf untuk semua luka yang pernah ia tinggalkan, semua trauma yang tanpa sadar masih menghantui Nikolai hingga hari ini.
Sungguh, Pavlena begitu berdosa.
Nikolai mengabaikan permintaan maaf itu, karena sungguh ia sudah muak mendengarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under Her Stilettos
Romance[COMPLETED] Siapa sangka jika stilettos merah kesayangan Eleanore akan mengantarnya pada Nikolai-nasib buruk dan kemalangan dalam hidupnya. Mengetahui fakta bahwa Eleanore merupakan kekasih dari musuhnya-Romanoff, justru membuat Nikolai semakin tero...
