Bab 46

24.2K 1.2K 172
                                        

Dua minggu—sudah dua minggu berlalu sejak pertengkaran itu, dan Nikolai tidak pernah kembali ke kediamannya. Harus Eleanore akui jika hari itu ia sudah keterlaluan dan melampaui batas, tetapi ia juga tak memiliki kesempatan untuk berkomunikasi dengan Nikolai, pria itu telah memutus segala akses komunikasi mereka.

Awalnya Eleanore masih berpikir pria itu hanya sedang meluapkan emosinya. Mungkin Nikolai akan pulang larut malam seperti biasanya, dan pulang seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Nyatanya tidak, sudah dua minggu pria itu pergi entah ke mana, tidak ada satu jejak pun yang tertinggal.

Eleanore sudah berkali-kali mencoba menghubunginya, tapi tidak satupun pesan juga teleponnya yang dibalas.

Eleanore mulai merasakan betapa sunyinya kediaman Rohlstein, tanpa kehadiran sosok Nikolai di dalamnya, dan sungguh semua itu mencekiknya.

Sejak kepergian Nikolai juga, ia jadi lebih sering menangis dan menyalahkan dirinya, seperti saat ini ketika ia duduk di lantai kamar sambil memeluk kedua lututnya. Air mata kembali membasahi wajahnya kala ia ingat bagaimana dahulu Nikolai yang menghampirinya di kamar ketika ia bertengkar dengan ayahnya dan menangis.

Namun kini, pria itulah yang menjadi alasan Eleanore menangis. Ia bahkan tidak sadar tetapi hatinya begitu sakit.

"Aku..." Tangannya menutup wajah. "...kenapa jadi begini?"

Sungguh, ia mulai membenci dirinya sendiri—membenci sosok perempuan yang menangisi seorang pria. Karena sebelumnya ia pernah menjadi perempuan seperti ini.

Dulu, ia sering duduk berjam-jam menunggu Romeo membalas pesannya, mencari-cari alasan untuk memaklumi setiap sikap Romeo dan terus meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Dan sekarang Eleanore benci karena ia kembali menjadi perempuan yang sama, sungguh menyedihkan.

"Sadarlah Eleanore..." Ia menggeleng berkali-kali.

Untuk kali ini, Eleanore sangat berharap Nikolai tidak pulang. Ia tidak ingin melihat pria itu. Dan terlebih lagi ia tidak ingin Nikolai melihat dirinya dalam keadaan seperti ini.

Tetapi tentu, takdir memang tak berpihak padanya, karena tepat saat itu, ia mendengar suara keributan dari arah bawah—mungkinkah Nikolai pulang? Eleanore bergegas keluar untuk memeriksa, ia berharap—entah apa yang ia harapkan. Beberapa saat kemudian terdengar suara tawa seorang perempuan dari arah foyer, disusul langkah kaki yang terdengar kacau.

Hal pertama yang Eleanore lihat bukanlah Nikolai, melainkan sosok perempuan yang sedang menopang tubuh pria itu.

Sosok itu adalah Pavlena.

Ya, Pavlena—mantan istri pria itu. Kali ini, Pavlena sama sekali tidak mengenakan pakaian biarawatinya, ia berpenampilan layaknya perempuan biasa. Dan jujur saja, tanpa seragam itu, Pavlena memang tampak jauh lebih muda dan cantik, wajar jika Nikolai tergila-gila pada perempuan itu.

"Nik, pelan-pelan..."

Nikolai tertawa begitu lepas, jelas dalam pengaruh alkohol. Lengannya melingkari pinggang perempuan itu, seolah enggan melepaskannya.

"I got you..."

Perempuan itu ikut tertawa kecil. "You're so drunk."

Saat itulah keduanya sama-sama menyadari ada seseorang di ujung tangga yang tengah memperhatikan keduanya.

Tatapan Pavlena seketika bertemu dengan Eleanore yang berdiri pucat, reaksi Pavlena pun sama seperti Eleanore, ia terkejut. Mungkin Pavlena bingung mendapati sosok Eleanore di kediaman Nikolai.

Under Her StilettosCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang