Eleanore's POV

25.6K 1.4K 194
                                        

Suara pintu kamar yang terkunci setelah Nikolai membawa Pavlena masuk masih terngiang di telinga Eleanore. Begitu pintu tertutup, Eleanore telah menganggap bahwa pria itu memang menginginkan kepergiannya, bahwa semua ini telah menjadi akhir dari cerita mereka.

Dadanya memang sesak, namun yang membuat dadanya sesak bukanlah karena Nikolai membawa Pavlena masuk ke kamar mereka. Melainkan, untuk pertama kalinya Eleanore mengerti mengapa Nikolai begitu marah setiap kali melihat namanya disandingkan dengan Romeo, ia mengerti mengapa pria itu kehilangan kendali ketika ia pergi bersama Romanoff beberapa waktu lalu. Sungguh, Eleanore menyesal karena meremehkan perasaan pria itu.

Eleanore menutup kedua matanya, dadanya terasa seperti diremas. Tapi bahkan dirinya tidak memiliki hak untuk marah, atau kemampuan untuk menggedor pintu itu hingga Nikolai dan Pavlena keluar dari kamar.

Pada akhirnya, Eleanore hanya tersenyum pahit dan termenung. Malam itu juga ia memutuskan untuk pergi. Tak ada lagi alasan baginya untuk tinggal di kediaman itu.

Eleanore tak mengemasi apapun karena sejak awal ia memang tidak pernah membawa banyak barang. Semua yang ada merupakan pemberian Nikolai, kecuali ponsel dan dirinya.

Tapi bagaimanapun ia tidak bisa pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun. Eleanore mengambil selembar kertas kosong dan sebuah pulpen, ia mulai menulis sebuah ucapan perpisahan pada pria itu.

Semakin banyak kata yang ia tulis, maka semakin deras pula air matanya jatuh membasahi kertas. Beberapa kali ia berhenti karena tak mampu membendung air matanya, perlu beberapa waktu hingga surat itu selesai.

"Nona?" Suara Yana terdengar, menghampirinya yang tengah menangis. Perempuan itu mungkin terbangun setelah mendengar keributan kecil tadi.

Eleanore segera mengusap air matanya. "Ada apa Yana?"

Tapi perempuan itu bisa melihat matanya yang sembab. "Nona, baik-baik saja? Perlu aku temani?"

"Yana, aku akan pergi malam ini." Eleanore menyerahkan surat yang sudah ia tulis sebelumnya pada perempuan itu. "Berikan ini pada Nikolai besok ketika dia bangun."

"Tapi Tuan Nikolai—"

"Aku sudah tidak punya alasan untuk tinggal. Dan... aku juga tidak ingin dia melihat wajahku."

"Setidaknya tunggulah sampai pagi, Nona."

Eleanore menggeleng.

"Kalau aku menunggu sampai pagi... aku takut berubah pikiran dan tidak akan sanggup pergi."

Yana tahu, tak ada lagi yang bisa ia katakan. Ia tidak memiliki hak untuk membujuk perempuan itu. Pada akhirnya Yana menerima surat yang disodorkan oleh Eleanore.

"Lalu bagaimana dengan Nona?"

Eleanore tersenyum tipis, ia berhambur memeluk Yana. "Jangan khawatirkan aku, tolong jaga Nikolai baik-baik."

Setelahnya Yana segera membantu Eleanore memanggil taxi, pada mulanya Yana menawarkan untuk memanggil supir tetapi Eleanore menolak mentah-mentah.

Sesaat sebelum masuk ke dalam taxi, Eleanore menoleh untuk terakhir kalinya ke kediaman itu. Berbagai perasaan bercampur aduk dalam hatinya, tentu ada rasa berat tetapi meski enggan pun ia harus tetap pergi.

Eleanore menarik napas panjang lalu masuk ke dalam taxi, pandangannya terus menatap ke arah gerbang kediaman meski mobil perlahan bergerak semakin menjauh.

Hingga akhirnya kediaman itu menghilang dari pandangannya, barula Eleanore menundukkan kepalanya.

Perlahan, tangannya bergerak menyentuh perutnya. Telapak tangannya yang terasa dingin berhenti di sana cukup lama.

Air mata yang sejak tadi ia tahan kembali jatuh.

"Maaf..." Suaranya nyaris tak terdengar. "Karena aku belum bisa memberitahunya tentang keberadaanmu."

Ia menarik napas panjang, seolah sedang menahan sesuatu yang jauh lebih berat daripada perpisahan itu sendiri.

"Dan maaf... karena aku harus membawamu pergi bersamaku."

Taxi yang Eleanore tumpangi terus melaju menembus gelapnya malam, meninggalkan kediaman Rohlstein, meninggalkan Nikolai yang tak mengetahui bahwa malam itu, perempuan yang ia lepaskan pergi juga membawa satu-satunya bagian dari dirinya yang paling berharga.

THE END

THE END

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Under Her StilettosCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang