SANNOH RENGOKAI

1.9K 155 4
                                        

Freya menunggu Zean dengan bosan. Gadis itu memandang papan tulis dikelasnya dengan tatapan kosong. Kenapa sahabatnya itu lama sekali? Padahal Christy sudah pergi ke kantin. Gadis itu sempat mengajaknya, tetapi la tolak dengan alasan bosan.

Freya terperanjat kaget saat sesuatu yang dingin menyentuh permukaan kulit wajahnya, Gadis itu mendongak. Seorang cowok berperawakan tinggi dan berseragam rapi itu tersenyum ke arahnya.

"Kak Fion?" beo Ilona.

Fion mengacak rambut gadis itu dengan gemas. Ia menyodorkan sebotol air mineral dingin kepada gadis itu. "Minum buat lo."

Freya menerimanya dengan senang hati. Kakak kelasnya itu memang begitu baik kepadanya. Mereka saling mengenal sejak Freya mengikuti MOS di hari pertama sekolah. Saat itu, Fion masih menjadi Ketua OSIS, sebelum akhirnya digantikan oleh Zean.

"Pulang bareng gue, mau?" tanya Fion. Itu memang tujuan utamanya datang ke kelas Freya.

Freya mengetukkan jari di keningnya tanda bahwa gadis itu sedang mengingat-ingat jadwalnya pulang sekolah nanti. "Oh iya, nanti sore gue mau ke markas sama temen-temen gue, Kak. Sori, ya. Mungkin lain hari,"

Raut wajah Fion terlihat kecewa. Namun, itu tidak berlangsung lama karena Fion dengan cepat mengulas senyuman. "Ya udah, mungkin kapan- kapan gue ajak lo pulang," katanya.

Freya mengangguk setuju. "Kalau gitu, gue balik ke kelas dulu, ya. Belajar yang bener, jangan bolos," ujar Fion, Seperti biasa, cowok itu selalu bersikap ramah padanya.

"Siap, Kapten!" Freya menggerakkan tangannya untuk hormat kepada Fion.

Melihat itu, Fion pun tertawa. Freya selalu terlihat menggemaskan di matanya. Setelah itu ia pergi dari sana dengan perasaan sedikit kecewa.

***

Sejak tadi, Zean hanya sibuk memandangi Freya yang tengah memakan nasi gorengnya. Sesekali ia akan mengelap mulutnya yang belepotan menggunakan tisu. Melihat Freya makan saja sudah membuat dirinya kenyang. Padahal Zean belum makan apa pun sejak pagi tadi.

"Last bite." Freya memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya. Setelah kunyahannya habis, ia langsung meminum air mineral yang juga dibelikan Zean tadi.

"Kenyang," ujar Freya sembari menepuk perutnya yang terasa begah. Zean tersenyum melihatnya. Senyuman manis yang terlihat begitu tulus itu tentunya hanya diperlihatkan kepada Freya dan orang terdekat saja.

"Lima menit lagi bel masuk," kata Zean setelah melihat jam tangannya.

Freya mengerucutkan bibir. "Bolos aja, yuk." Kedua mata Zean langsung menajam, menghunus di kedua manik hitam milik Freya. Gadis itu nyengir lalu menangkupkan tangannya di depan dada.

"Kamu udah bolos tiga pelajaran minggu ini, Eya," ujar Zean lalu membuang napasnya kasar.

"Baru tiga kali, Zee. Biasanya empat kali, nanggung," balas Freya, lalu terkikik geli.

"Kalau kamu bolos terus, kapan pinternya?"

Mendengar kata 'pintar', Freya jadi sedikit tersinggung. Gadis itu menundukkan kepala. Jari-jari tangannya memainkan kancing seragam. "Iya, aku emang bego."

Zean menghela napas panjang. "Nggak ada manusia bego. Yang ada itu manusia males sama rajin. Kamu pinter kalau mau belajar beneran."

Seamin Tak SeimanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang