Kernyitan di dahi Zean tercetak begitu jelas. Ia mengamati wajah Freya yang murung sejak tadi. Biasanya, gadis itu akan berkicau layaknya seekor burung di pagi hari. Lain halnya dengan saat ini. Freya terlihat lebih diam. Bukan cuma dirinya yang merasa aneh, tapi anak-anak Diamond yang lain pun sama.
"Kenapa lo?" tanya Aldo, penasaran. Mereka kini tengah berada di gazebo yang terletak di lapangan SMA Senandika. Tempat yang menjadi favorit mereka selain kantin.
"Lagi dapet, Ya? Kayaknya udah minggu kemarin." Zean hafal betul kapan Freya kedatangan tamu bulanannya.
Freya menggeleng pelan. Wajahnya yang cemberut itu terlihat imut bercampur menakutkan. "Apa lo lihat-lihat?! Gue nggak suka dipandang kayak gitu!" sarkasnya kepada seorang siswa yang sejak tadi menatapnya.
Siswa yang bernama Joni itu langsung membuang pandangannya ke arah lain, kemudian berlalu dari tempat semula. Pasti cowok itu menahan malu.
"Jangan galak-galak, Ya." Zean mengulas senyum tipis. Ia menepuk pelan puncak kepala Freya sebanyak dua kali. "Kamu mau apa? Aku turutin asal jangan cemberut kayak gini, bikin kepikiran."
"Biasalah! Cewek emang suka gitu. Makanya gue males punya pacar," timpal Aldo.
"Bilang aja lo nggak laku." Ollan menjulurkan lidahnya untuk mengejek Aldo.
"Gue ganteng, Bro. Mustahil kalau nggak ada cewek yang suka sama gue. Kalau gue mau, gue bisa pilih mau yang mana," balas Aldo dengan wajah sombongnya. "Oniel juga jomblo, kenapa nggak kalian ejek juga?" tanya Christian. Ia melirik ke arah Oniel yang berada di ujung gazebo.
"Mau ngejek dia? Itu sama aja nyari mati, Man!" balas Ollan.
Oniel menatap kembarannya itu dengan sinis. Bahkan Ollan saja tidak berani dengan Oniel. Cowok yang satu itu memang paling tidak bisa untuk diajak bercanda. Ollan heran kalau ada manusia patung misterius seperti Oniel.
Zean menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan para sahabatnya itu. la kembali fokus dengan Freya. "Mau ke kelas? Ayo aku anter."
Freya menggeleng. Terdengar helaan napas panjang dari mulut gadis itu. Seluruh atensi mengarah kepadanya. Dari sorot kedua mata Freya, jelas sekali kalau gadis itu tengah menyembunyikan sesuatu.
"Ngomong aja," kata Zean yang langsung paham.
"Gue dapet pesan dari nomor nggak dikenal. Tapi, dia manggil gue dengan sebutan "Queen". Kalian pasti tahu siapa yang suka manggil gue pakai nama itu. Menurut kalian... ini nyata atau kerjaan orang lain?"
***
"Akhir-akhir ini Eya kena teror." Zean berujar sembari mengelus rambut Freya. Gadis itu tertidur dengan posisi menyender di dadanya.
Aldo yang tengah asyik memakan mi instan itu langsung tersedak akibat perkataan Zean. Ollan yang berada di sampingnya itu pun tertawa laknat. Mereka kini tengah berada di markas Sannoh.
"Kok, gue ngerasa aneh, ya?" tutur Aldo.
Zean mengangguk setuju. "Gue kira, gue doang yang ngerasa kayak gitu."
Christian menautkan kedua alisnya, tanda bahwa cowok itu tengah berpikir. "Kayak janggal gitu, nggak, sih?"
"Dia udah mati, kan?" tanya Baran.
Zean menghela napas berat. "Gue yakin, ada yang nggak beres di sini."
Aldo yang sejak tadi hanya cengengesan itu pun langsung berubah serius. "Mungkin itu cuma orang iseng. Zean."
Zean menggeleng cepat. "Nggak mungkin ini cuma iseng. Freya sampai dikirimin bingkisan. Isinya pisau sama tikus yang udah dicincang." Christian meringis mendengar itu. "Sampai segitunya?"
Oniel tertawa pelan. "Emang nggak beres."
Atensi dari kelima cowok itu langsung tertuju ke arah Oniel. Mereka menatap cowok yang paling pendiam itu dengan tatapan bertanya-tanya.
"Kalian yakin kalau dia... udah mati?"
Pertanyaan dari Oniel itu berhasil membuat mereka bungkam.
To Be Continue
Jangan lupa vote dan komen ya guys
Maaf kalau ada typo
1 Kata Buat Karakter Oniel?

KAMU SEDANG MEMBACA
Seamin Tak Seiman
Romance[Completed ✓] Cinta menyatukan kita yang tak sama aku yang mengadah dan tangan yang kau genggam Berjalan salah,Berhenti pun tak mudah Apakah kita salah!!! "Seamin tak seiman"
