Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
___________________________________________
Shani mengetuk pintu unit apartemen itu, awalnya perlahan, kemudian berulang, sedikit lebih keras. Mengernyitkan dahinya, ia menaruh barang-barang bawaan di satu jinjingannya, agar bisa meraih handphone-nya di dalam tas, menelepon nomor terakhir di call history. Dering tunggu standar berbunyi di telinganya selagi Shani menunggu yang ditelpon mengangkat.
Sesuai prediksi, teleponnya diangkat dengan sedikit suara dengus lelah. “Halo?”
“Chika, aku di depan,” katanya. Tidak ada kata-kata lanjutan terhadap kabar yang ia sampaikan, melainkan suara-suara gesekan dan gemerisik dari perpindahan. Shani menutup telepon, dan mengangkat kembali beberapa jinjingannya. Kunci di dalam berputar dengan bunyi klik.
Saat pintu terbuka ke dalam, Shani disambut dengan rupa kekasihnya, menggunakan celana piyama dan hoodie hitam tebal yang ia tahu merupakan favorit Chika dikala suasana dingin. Paras cantik pacarnya nampak sedikit pucat, namun ia disambut dengan senyum lelah dan dua lengan yang terbuka. Shani melangkah masuk dan memposisikan dirinya di tengah pelukan Chika, yang langsung merangkulnya hangat.
Bukan hangat—panas. “Aduh, kamu panas,” kata Shani, saat Chika membenamkan wajahnya di antara leher dan bahunya. “Sayang, demam beneran ya?”
“Pusing,” keluh Chika, wajah masih tersembunyi di lehernya. Shani ingin meraih puncak kepala kekasihnya, mengelus lembut rambutnya, tetapi kedua tangannya masih sibuk dengan bungkusan makanan, obat, dan dua tasnya sendiri.
Meski sedikit kikuk, Shani menolehkan kepalanya untuk menyentuhkan bibirnya ke pelipis Chika. “Ya udah kalo pusing, jangan berdiri di sini, ayo balik sana ke kasur.”
Chika melepaskan rengkuhannya kemudian mundur, wajahnya sedikit masam, kecewa karena kehilangan hangat Shani—padahal, ia yang sedang panas. “Sini dibawain.”
“Ga usah, kamu bawa diri aja udah sempoyongan gitu. Sana.”
“Bossy,” gerutu Chika, tetapi ia menuruti titah Shani, berjalan loyo ke dalam apartemen, dengan Shani mengikuti di belakangnya.
Shani berjalan ke meja makan untuk menaruh makan malam yang sudah ia beli. Namun ia mengerutkan dahinya saat melihat di atas meja, masih terdapat makanan, sup yang tadi siang ia belikan, masih tersisa lebih dari sebagian. “Ih, kamu ga makan siang tadi ya?”
“Itu makan,” kata Chika, mengayunkan langkah berat ke arahnya. Shani bersiap untuk mengomelinya, tapi Chika menyela, sembari menempelkan tubuhnya lagi ke Shani, memeluknya dari belakang. “Jangan ngomel.”
“Gimana ga ngomel… Makan apanya, berapa sendok coba ini? Lima? Kalo kamu ga makan, nanti gimana minum obatnya? Nanti tambah sakit,” Shani menghela napas, membiarkan Chika kembali, lagi, bersembunyi di tengkuknya, nafasnya panas di kulit Shani. Ia mengangkat tangannya untuk mengelus kepala Chika. “Mau disuapin?”