Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
___________________________________________
Dunia selalu terasa berputar dan semua yang selalu terjadi begitu saja terlihatnya, tapi terkadang ada saat di mana rasanya ada hal yang semula terlihat biasa saja tapi menjadi begitu memusatkan perhatian seolah memiliki medan magnet yang kuat mengalahkan yang di kutub selatan. Memang berlebihan, tapi itu yang dialaminya sekarang, saat ini, hingga sesuatu mengguncangkan bahunya agar kembali tersadar pada dunia yang sering kali rasanya seperti di luar nalar.
“Liatin siapa, sih?”
Shani si yang melamun sejak tadi yang sebetulnya sedang memusatkan perhatian pada dua meja di depannya. Pada satu orang yang duduk berhadapan dengannya dan terlihat sibuk dengan sekitarnya. Sama seperti kebanyakan orang di sini, tapi hanya dia yang menjadi pusat perhatian Shani sampai lupa menginjakan diri ke bumi.
“Apa?
“Emang udah kena otaknya ini.”
Lirikan tajamnya yang seperti rubah tertuju pada orang yang benar-benar di depannya, Shani melirik Feni yang tampak cuek setelah berujar demikian padanya.
“Apaan, sih?”
“Kamu, tuh yang apa-apa terus.” Kali ini orang yang bertanya pertama malah mulai terdengar kesal, Indah merengut melihat dua orang yang saat ini terlihat saling melempar pandangan mengajak ribut yang menurutnya sangat konyol.
“Mendingan kalian berdua berantem sana di lantai.”
“Ayo!” Feni berdiri dengan yakin, sayangnya hal itu langsung dihadiahi lemparan sendok dari atas meja.
“YA GAK USAH DIANGGAP SERIUS!”
“Kalian ganggu aku lagi serius.”
Kedua orang itu lalu meliriknya secara bersamaan. Shani memiringkan tubuhnya untuk bisa melihat pusat perhatiannya barusan akibat tubuh Feni yang menghalangi. Menyadari itu, si pemilik rambut panjang yang kini diikat setengah ponytail lantas mengikuti arah pandangan Shani.
Seorang gadis sedang tersenyum manis bersama teman-temannya. Kedua matanya menyipit dan dengan senyum lebar yang memperlihatkan gigi membuatnya tampak seperti kelinci..
“OH! Sibuk perhatiin pacar orang.”
“Pacar aku!”
“Ya, samperin, dong!”
Perkataan itu membuat Shani mendengus sebal. Membuang pandangan yang malah membuat Feni tertawa mengejek.
“Aneh, katanya pacaran tapi cuma berani lihat dari jauh,” lanjut Indah mengompori.
“Iya, mau gimana lagi?” Shani menjawab dengan lesu.
Ini sebenarnya bukan karena perkara serius, tapi menurut Shani ini serius. Setelah dua tahun berusaha mendapatkan perhatian seorang Gracia yang penuh rahasia tapi kenyataannya tidak begitu, tapi ketika akhirnya dia mendapatkan hati orang itu, kini hatinya sendiri malah menjadi tidak normal.