Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
___________________________________________
Setelah sebelumnya Gracia dan Zee datang menghampiri Shani dan Chika yang sedang bersiap-siap untuk pulang ke apartemen. Tadi mereka sempat berfoto bersama sebelum Chika membersihkan mukanya.
Awalnya Shani akan memesan taxi saja karena dia tadi tidak membawa mobil, tapi Zee menawarkan diri untuk mengantar mereka, karena kebetulan arah apartemennya sama. Di dalam mobil, mereka berempat mengobrol hal-hal random. Tadi Gracia sempat membahas perihal mantan Shani, Chika menceritakan bagaimana ia bertemu dengan mantan Shani dan sedikit mengobrol dengannya.
“judes kan Chik mukanya?” tanya Gracia
“aku sih gak merasa terintimidasi, cuman emang iya judes haha”
Shani sempat bertanya kepada Chika, apakah mantan Chika akan datang atau tidak. Namun ternyata Chika tidak mengundangnya. Katanya buat apa, lagian kalau sudah mantan dia tidak mau melihatnya lagi.
Perbincangan mereka terus berlangsung sampai akhirnya Zee memberhentikan mobilnya di lobi apartemen Shani dan Chika. Zee pun langsung pergi karena masih harus mengantarkan Gracia.
Setelah Shani dan Chika masuk ke dalam apartemen, Shani langsung duduk di kursi. Sungguh kakinya sangat pegal. Berbeda dengan Chika yang langsung menyimpan tasnya, menaruh bajunya dan mengambil piyama serta handuk. “aku mandi duluan ya” kata Chika yang langsung pergi ke arah kamar mandi.
Sebetulnya kamar mandi ada dua, cuman Shani memang masih mau duduk saja dulu di ruang tengah.
Sambil menunggu Chika keluar dari kamar mandi, Shani sudah berpindah ke tempat tidur. Ia berbaring sambil memainkan handphonenya, ia mengecek pesan dan membalas ucapan selamat dari teman-temannya yang tidak bisa mengucapkan selamat secara langsung. Setelah itu ia membuka aplikasi twitter dan membuat tweet ucapan terimakasih mewakilkan dirinya dan Chika.
Saking asiknya Shani menyelami kolom komentar di twitter, ia tidak menyadari Chika yang sudah memakai baju tidur dipinggirnya sedang berdiri memperhatikan Shani.
“sayang.” katanya
“aduh anjil kaget sial”
“cepat mandi sana, aku udah selesai”
“bentar aku balesin komen temen aku dulu” kata Shani. Chika hanya menggelengkan kepalanya. Sangat berbeda dengan Shani, Chika masih belum membuka handphonenya, ia mematikan datanya dari tadi sore. Mungkin besok saja ia membalas semua pesan temannya, itu pun kalau ada, karena yang akan lebih ramai pastinya group dari kantornya. Chika tidak terlalu banyak memiliki teman.
Shani melihat ke arah Chika yang masih berdiri dipinggir kasur sambil mengeringkan rambutnya. Bisa Shani lihat dengan jelas kalau air dari rambut Chika masih menetes ke bahu dan punggungnya. Melihat itu membuat Shani dengan terpaksa berdiri, Shani mengambil handuk lain dari lemari. Ia menyimpan handuk itu di bahu Chika, yang membuat Chika kebingungan.
“piyama kamu basah, tutupin pake handuk satu lagi” kata Shani dan Chika hanya mengangguk. Tangan Shani masih di bahu Chika, ia masih belum melepaskan handuk dari tangannya.
Shani mendekatkan tubuh Chika kedalam dekapannya, ia memeluknya dari belakang. Kepalanya ia taruh di bahu Chika, dari sana Shani bahkan bisa mencium wangi sabun yang baru saja Chika pakai. Pelukannya Tidak terlalu lama karena Chika sudah menyuruh Shani untuk mandi. “aku mandi dulu” kata Shani sambil mencium pipi Chika dengan cepat. Chika masih saja kaget dengan perlakuan Shani, dia tidak menyangka Shani kekasihnya sekarang sudah sah menjadi pasangannya seumur hidup.
Shani hanya membutuhkan sekitar 10 menit untuk mandi, seperti biasa ia tidak pernah mau berlama-lama. Ia keluar hanya dengan handuk di pinggangnya. “Sayang, piyama aku lupa naronya dimana yang samaan kaya kamu itu” katanya. Shani berjalan mendekat ke arah Chika.
“itu dilemari yang baju semuanya dilipat, bagian paling atas” jawab Chika. Piyama couple ini yang memiliki motif yang sama dengan warna yang berbeda. Shani memilih yang berwarna merah sedangkan Chika yang berwarna hitam. Piyama itu pemberian dari Ashel.
Shani membawa piyama itu dan dia pergi lagi ke kamar mandi untuk memakainya. Chika yang sudah mengeringkan rambutnya, sekarang ia sedang terduduk sambil menyandarkan kepalanya di headboard. jujur, tadi Chika merasa degdegan ketika melihat Shani keluar dari kamar mandi. Perkataan Olla tadi siang masih kembali terlintas dipikirannya.
“Kak Chika lu nanti malam di apa-apain gak ya sama kak Shani” tanya Olla yang mukanya memasang raut sedih
Menurut Chika mungkin saja Shani dan dirinya akan melakukan sesuatu malam ini, melihat dari bagaimana Shani tidak bisa menahan nafsunya. Tapi kalau boleh meminta, rasanya Chika ingin menundanya, karena demi Tuhan hari ini dia sangat lelah. Bahkan sekarang matanya sudah sangat berat, kemarin malam ia tidur pukul 3 dan bangun pukul 7. Malam ini, sudah jam 1.40 dan dia masih belum tidur, tentu saja matanya sangat berat menahan kantuk. Tapi Chika tidak berani untuk tidur sebelum Shani ada di sampingnya, bukan apa-apa tapi Chika mau bertanya apakah Shani mau melakukannya malam ini atau tidak, meskipun ia merasa lelah, Chika tidak mau mengecewakan Shani di malam pertama mereka.
“Kok kamu belum tidur? Sayang udah ngantuk kan?” tanya Shani, ia datang sudah dengan menggunakan piyamanya. Chika terbingung-bingung dengan pertanyaan Shani “hah?” tanya Chika spontan.
Terdengar suara ketawa Shani, Chika semakin bingung.
Shani menghampiri Chika dan ikut duduk dipinggirnya “tidur” katanya kepada Chika, lalu menepuk-nepuk bantal yang ada di belakang Chika. Chikapun menurut ia membaringkan badannya begitupun dengan Shani.
“emang gak apa-apa?” tanya Chika. Mendengar perkataan Chika membuat Shani tertawa lagi, ia memiringkan badannya dan melihat ke arah Chika.
“kamu maunya aku apa-apain ya malam ini?” tanya nya sambil memainkan alis.
Chika melihat ke arah Shani sebentar “maksudnya aku tuh gak mau kalau sampai kamu kecewa aja. Tapi sebenernya.... ehm jangan malam ini boleh? Aku capek. kalau emang gak apa-apa aku mau tidur”
Shani menyelipkan tangannya di bawah kepala Chika “sini” katanya sambil memeluk Chika
Pikir Shani, kalau dengan Chika tidak harus malam inipun gak apa-apa, mereka punya banyak waktu yang akan dihabiskan, jadi kenapa harus terburu-buru. Melihat Chika yang sekarang sudah mulai nyaman dipelukannya membuat Shani ikut merasakan nyaman dan ngantuk.
Tidak lebih dari 10 menit, Chika sudah tertidur. Tidak bisa dipungkiri kalau Shani pun sangat lelah hari ini, nafas Chika yang mulai teratur terasa didadanya membuat kantuk Shani semakin cepat datang.
Shani menarik selimut untuk menghangatkan tubuh mereka hingga sebatas bahu Chika. Ia melihat muka Chika, tanpa disangka-sangka wajah ini akan selalu menemaninya dan yang akan selalu ia lihat ketika ia mau tertidur dan ketika Shani terbangun di pagi hari.
Tangan Shani mengusap rambut Chika pelan, pikirannya kembali teringat ketika tadi mereka saling berdiri dihadapan kerabat dan sahabat lalu mengucap janji nikah. Shani akan berusaha menepati setiap janji yang ia katakan dan bagaimana Shani memperlakukan Chika malam ini, yang selalu memikirkan kondisi Chika sebagai prioritas dan bukan nafsunya.
Tapi, namanya juga Shani, dia dan pemikirannya serta rencana-rencana yang tidak pernah tertebak. Pada akhirnya akan selalu membuat Chika terheran-heran. “besok, pagi-pagi ya Chika” ucapnya.