Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Cerita fiksi! 🔞‼️ ___________________________________________
Last part
"Make love to us?” pinta Chika dengan wajah yang memerah. Selama Gita mencium leher Marsha, perempuan itu ternyata berciuman dengan Chika. Sebelum menjawab, Gita menatap kekasih yang lainnya. Ketiganya mengangguk mengiyakan⸺Ashel sudah ada di pangkuan Zee dan berciuman dengan heboh⸺maka Gita tidak bisa menolak ajakan manis itu.
“Of course, My Loves.”
Making love memang bukan solusi bagi permasalahan duniawi, sudah jelas. Namun bagi Gita dan semua kekasihnya, aktivitas ini berfungsi sebagai upaya meyakinkan diri bahwa mereka dicintai, diinginkan, saling memahami sampai bagian yang terdalam, dan memiliki satu sama lain sedemikian rupa.
Tidak dapat dipungkiri bahwa seringkali solusi dari permasalahan hadir dari otak yang relaks.
Ketika Gita hendak menyentuh tubuh Gracia, Ashel mencegahnya dengan menangkap telapak tangannya, lalu mencium jemarinya satu per satu tanpa melepaskan tatapannya.
“relax baby. Let us take care of you, Darling,” lirihnya.
Gita menelan ludah.
Pemandangan itu terlalu sexy.
Semuanya terasa seperti gerak lambat dalam film. Bagaimana Gracia menjauh dari tubuhnya untuk berdiri di hadapannya dan membuka pakaiannya satu per satu dengan perlahan, bagaimana Chika tak henti meremas pahanya saat Gita menelusupkan lidah disela ciumannya, bagaimana Ashel membuka kancing kemeja kerja Gita dan menelusupkan jemarinya ke segala permukaan dengan nakal, atau bagaimana Gracia dan Zee saling membantu untuk membuka celana Gita lalu membuang kain itu ke sudut ruangan.
Kekhawatiran yang tidak berhenti meninggalkan kepalanya seharian perlahan menguap. Gita dapat dengan sepenuhnya sadar dan menikmati setiap sentuhan dari para kekasihnya yang lembut dan penuh kehati-hatian.
Gita merasa luar biasa dikasihi.
Ia pun hampir tidak menyadari jika ada pergerakan di depan dirinya yang dibuat oleh Shani. Meja di ruang tengah mereka sudah diangkat ke sudut lain rumah. perempuan itu menata kasur lipat di atas lantai ruang tengah mereka yang berkarpet cukup tebal. Ia menumpuk pelapis kasur juga comforter dengan banyak bantal di sekelilingnya. Shani mendekat pada sang kekasih setelah selesai dengan karyanya.
“Berbaring disini, sayang?” suara Shani yang dalam dan lembut tetap terasa seperti perintah halus. perempuan itu kemudian mencium Gracia dan Zee bergantian.
Rasanya ingin menangis saja.
“Have fun, Sayang,” gumam Shani serak setelah mengecup kening Gita untuk kembali bertolak lagi. “Aku beresin masakan aku dulu ya, baru aku bergabung sama kalian."
“buat secepat mungkin ya sayang?” pinta Gita. Shani kembali menunduk untuk memberi kecupan singkat pada bibirnya.
“I’ll do my best, Love.”
“Aku bantuin ci Shani,” ujar Marsha sambil beranjak dari tempatnya. Terlihat lucu karena kancing bajunya yang sudah terlepas semua. Membuat Gita terkekeh.
Mereka melanjutkan kegiatan panas itu.
Panas sekali.
--
Mereka membagi ciuman setelahnya, dalam posisi duduk. Sampai satu suara menginterupsi mereka.
“Giliranku?”
Gita menoleh dan mendapatkan Shani dengan senyum nakal diwajahnya. Masih terpesona, Gita mengecup punggung tangan Shani⸺sahabatnya, kekasih pertamanya, soulmatenya, Cintanya.
Shani mengedipkan satu mata padanya.
Desahan dan erangan kembali terdengar dalam ruangan tersebut.
---
“I’m so happy I have you guys in this world. Aku nggak sendiri,” gumam Gita setelah mendapatkan kecupan di dahi dari masing-masing kekasihnya.
“Sama sayang. Kita beruntung punya kamu disini. You’re amazing human being, very beautiful one and we love you so freaking much,” ujar Marsha. Gita berkaca-kaca sambil membalas Thank you, Darling padanya.
Ketujuhnya berakhir memejamkan mata sebentar dengan kondisi saling memeluk di bawah satu selimut besar.
---
Ketujuhnya terjaga saat jam menunjukkan pukul dua belas tengah malam. Dengan malas-malasan, mereka berpencar untuk membilas badan sebentar dengan kucuran air hangat, memakai piyama dan kaus kaki, lalu berkumpul di meja makan dengan hidangan yang sudah Shani siapkan sebelum kegiatan mereka tadi dengan tubuh yang sudah beraroma seperti bayi⸺Ashel yang memilihkan sabun untuk mereka, anti kering dan iritasi katanya.
Terima kasih juga pada teknologi bernama microwave sehingga masakan Shani tetap hangat dan rasanya sama enaknya seperti saat baru matang walau tadi sempat ditinggal beberapa jam.
Saat makan, keenam kekasihnya berebut untuk menyuapi Gita. Sewaktu ia mulai membicarakan rencananya ke depan⸺Gita mendapat ide untuk solusi masalah kantornya di bawah guyuran shower secara ajaib⸺keenam pasang mata di hadapannya memberikan perhatian padanya sepenuhnya. Mereka mendukung keputusannya, memberikan pandangan pribadi, dan memujinya.
Ia merasa⸺sumpah mati⸺diterima dan dicintai.
Kalau begini, Gita yakin dapat kembali kuat untuk menghadapi dunia.